UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Keamanan Masjid Ditingkatkan Selama Ramadan

Mei 18, 2018

Keamanan Masjid Ditingkatkan Selama Ramadan

Mashid Jami’ Istiqomah di Ungaran, Propinsi Jawa Tengah. (Foto: Katharina R. Lestari/ucanews.com)

Serangkaian aksi teror mematikan yang terjadi baru-baru ini di beberapa wilayah di Indonesia mendorong sejumlah masjid untuk meningkatkan keamanan selama Bulan Suci Ramadan yang dimulai sejak Kamis (17/5).

Pada Rabu (16/5) petang, Masjid Istiqlal memasang pintu detektor metal ketika Presiden Joko Widodo dan ribuan umat Islam menjalankan sholat tarawih perdana.

Menurut polisi, lebih dari 1.000 aparat kepolisian dikerahkan untuk menjaga masjid terbesar di negara ini tersebut.

Peningkatan keamanan dilakukan menyusul serangan bom bunuh diri di tiga gereja dan Mapolrestabes pada akhir pekan lalu di Surabaya, Propinsi Jawa Timur. Pada Rabu (16/5), sebuah kantor polisi di Pekanbaru, Propinsi Riau, juga diserang.

Sedikitnya 30 orang, termasuk pelaku, tewas.

Helmi Muhammad Nur, humas Masjid Al Akbar di Surabaya, mengatakan pengurus masjid juga sempat mengkhawatirkan penurunan jumlah jamaah yang menjalankan sholat tarawih di masjid itu.

“Di samping kami percaya dengan polisi, kami secara internal melakukan upaya lain seperti membuat command center di mana kami mempunyai 16 CCTV indoor. Ada 7 CCTV di jalan raya. Semua terkoneksi dan masuk ke command center. Kami bersama-sama melakukan monitoring, mulai dari pintu masuk, wilayah wudhu, dsb,” katanya kepada ucanews.com.

“Selama Ramadan, pada jam-jam padat antara pukul 16.00 dan 22.00, kami melibatkan 20 personel pengamanan dan 17 petugas parkir. Selain itu juga ada petugas relawan, baik jamaah putra maupun putri, yang membantu jamaah jika ada kesulitan,” lanjutnya.

Langkah-langkah keamanan selama Ramadan tersebut diambil “untuk membantu jamaah agar bisa beribadah dengan tenang dalam kondisi apa pun.”

Ahmad Toha, ketua Yayasan Masjid Jami’ Istiqomah di Ungaran, Propinsi Jawa Tengah, mengatakan keamanan masjid terbesar kedua di kota itu juga ditingkatkan.

“Dengan situasi seperti ini, kami memasang semua CCTV, kami aktifkan. Ada sekitar 6 CCTV di masjid. Kami waspada, bukan mencurigai,” katanya kepada ucanews.com.

“Tadi malam, sekitar pukul 21:30, ada patroli polisi. Saya kira kalau patroli polisi di Ungaran itu sudah biasa. Tapi kalau situasi secara umum seperti ini, mungkin ada peningkatan,” lanjutnya.

Beberapa wilayah di Indonesia juga meningkatkan keamanan. Di Sukabumi, Propinsi Jawa Barat, misalnya, polisi membentuk Polisi Ramadan yang beranggotakan sekitar 400 aparat kepolisian untuk menjaga semua masjid dan fasilitas umum selama Ramadan di wilayah itu.

Jelang Ramadan, seorang Muslim berusia 26 tahun dari Jakarta, menyambut baik peningkatan keamanan di masjid.

“Saya senang sekali ada pengamanan dari polisi. Itu menambah situasi semakin kondusif. Tapi di sisi lain, bisa jadi sekarang tempat ibadah bukan lagi suatu tempat yang aman. Harusnya tempat ibadah tempat yang aman, tidak perlu dijaga lagi,” katanya kepada ucanews.com.

Menurut Rama, Ramadan hendaknya menjadi memontem “untuk melakukan evaluasi bagi umat Islam bahwa masih ada Saudara-Saudari kita yang terkontaminasi ajaran-ajaran yang tidak sesuai dengan Islam sehingga solidaritas terhadap sesama kurang.”

Keamanan gereja 

Selain masjid, serangkaian aksi teror juga mendorong sejumlah gereja khususnya di Propinsi DKI Jakarta untuk meningkatkan keamanan.

Pastor Dominikus Beda Udjan SVD, pastor kepala Paroki St. Yoseph di Matraman, Jakarta Timur, mengatakan kepada ucanews.com bahwa paroki mulai memperketat pengamanan dengan menambah jumlah petugas keamanan setiap shift.

Setiap shift harus dua orang yang jaga dan pintu gerbang dikunci. Jika ada orang yang tidak dikenal, pengecekan dilakukan. Jendela mobil harus dibuka,” katanya.

Ia mengatakan paroki juga berkoordinasi dengan polisi setempat.

“Biasanya ada monitoring dari Polsek Matraman. Mereka datang ke gereja untuk memonitor. Monitoring rutin itu dilakukan satu orang polisi, tapi sekarang ditingkatkan menjadi 2-3 polisi. Mereka datang setiap hari,” lanjut imam itu.

Upaya peningkatan keamanan juga dilakukan sebagai bagian dari persiapan Misa yang akan digelar pada Minggu (20/5) sore untuk memperingati 64 tahun pelayanan imam SVD di paroki tersebut. Menurut rencana, Misa akan dipimpin oleh Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo.

“Pengamanannya seperti perayaan besar. Jadi kita monitor dengan detektor metal seperti perayaan Natal dan Paskah. Minggu pagi nanti gereja disterilkan. Ini khusus, ada kehadiran Bapak Uskup, maka kita mohon ijin,” kata Pastor Domi, seraya mengimbau umat agar tidak membawa tas besar saat Misa.

Hal senada disampaikan oleh Darsono, seorang petugas keamanan di Paroki St. Fransiskus Xaverius di Tanjung Priok, Jakarta Utara.

“Kebetulan banyak umat di sini berpartisipasi dalam penjagaan gereja. Umat di sini banyak yang peduli. Tapi memang pengamanan diperketat,” katanya kepada ucanews.com.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi