UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

24 Jemaat Ahmadiyah di Lombok Timur Masih Mengungsi Pasca-Serangan

Mei 22, 2018

24 Jemaat Ahmadiyah di Lombok Timur Masih Mengungsi Pasca-Serangan

Sebuah rumah milik jemaat Ahmadiyah di Desa Gereneng, Kecamatan Sakra Timur, Kabupaten Lombok Timur, Propinsi Nusa Tenggara Barat, mengalami kerusakan pasca-serangan oleh sekelompok orang pada 19-20 Mei 2018. (Foto: SEJUK)

Sebanyak 24 jemaat Ahmadiyah – 21 perempuan dan 3 laki-laki – masih mengungsi di kantor kepolisian resor di Kabupaten Lombok Timur, Propinsi Nusa Tenggara Barat, setelah terjadi penyerangan dan perusakan terhadap sejumlah rumah milik mereka di Desa Gereneng, Kecamatan Sakra Timur, pada akhir pekan lalu.

“Teror penyerangan, kekerasan dan pengusiran terhadap warga negara yang sah, komunitas Muslim Ahmadiyah, terjadi tiga kali saat sedang berlangsungnya puasa Ramadan pada Sabtu dan Minggu (19-20 Mei) oleh kelompok radikal atas dasar kebencian dan intoleransi terhadap kelompok yang berbeda,” kata Yendra Budiana, juru bicara Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI), kepada jurnalis di Jakarta, Senin (22/5).

Akibatnya, lanjutnya, delapan rumah rusak ringan dan berat serta empat sepeda motor hangus terbakar.

Menurut Yendra, para pelaku adalah warga setempat. “Keinginan mereka adalah meratakan (rumah dengan tanah) karena dengan demikian (rumah) tidak bisa lagi ditinggali. Sehingga kemudian (jemaat Ahmadiyah) terpaksa mengungsi,” katanya kepada ucanews.com.

Ia pun meminta aparat kepolisian untuk mengambil tindakan tegas terhadap para pelaku. “Seharusnya aparat kepolisian tidak bimbang. Walaupun motifnya seakan-akan isu agama, tetapi itu kriminal. Aparat kepolisian seharusnya mengambil tindakan bukan berdasarkan pada isu melainkan pada tindakan (kriminal),” lanjutnya.

Yendra menambahkan bahwa saat ini jumlah jemaat Ahmadiyah yang bermukim di Pulau Lombok ada sekitar 1.000 orang. “Di kabupaten-kabupaten, mereka cenderung sulit didata karena tidak mau menampakkan diri karena ada ancaman kekerasan yang sangat kental,” katanya.

Wakil Ketua SETARA Institute Bonar Tigor Naipospos menyebut penyerangan dan perusakan rumah milik jemaat Ahmadiyah itu sebagai “tindakan biadab atas nama agama.”

“Aksi yang dilakukan oleh massa dari desa setempat ini didasari oleh sikap kebencian dan intoleransi pada paham keagamaan yang berbeda,” katanya.

“SETARA menuntut pemerintah untuk menjamin keamanan jiwa-raga dan hak milik seluruh warga Ahmadiyah, khususnya di Nusa Tenggara Barat. Jemaat Ahmadiyah memiliki seluruh hak dasar sebagai warga negara yang dijamin oleh UUD 1945, hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” tegasnya.

Sementara itu, Khariroh Ali dari Komisi Nasional Anti-Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mengatakan penyerangan dan perusakan rumah milik jemaat Ahmadiyah itu “menambah potret buram situasi kehidupan keagamaan yang diwarnai oleh kekerasan dan tindakan intoleransi.”

“Peristiwa ini seharusnya dapat diantisipasi segera oleh pemerintah daerah dan aparat keamanan mengingat ancaman penyerangan dan diskriminasi yang terus berlangsung di Propinsi Nusa Tenggara Barat terhadap jemaat Ahmadiyah,” katanya.

 

One response to “24 Jemaat Ahmadiyah di Lombok Timur Masih Mengungsi Pasca-Serangan”

  1. Jenny Marisa says:

    Salah satu golongan minoritas yg dikucilkan.. Bulan puasa tidak berarti bagi kaum intoleran.. boleh saja berbuat jahat..?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi