UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Batas Waktu Meninggalkan Filipina bagi Suster Fox Diperpanjang 

Mei 29, 2018

Batas Waktu Meninggalkan Filipina bagi Suster Fox Diperpanjang 

Suster Patricia Fox datang ke Departemen Kehakiman pada 25 Mei atas perintah biro imigrasi untuk segera meninggalkan negara itu. (Foto: Jire Carreon/ucanews.com)

Seorang biarawati Australia yang telah diperintahkan  meninggalkan Filipina karena tuduhan terlibat dalam kegiatan politik partisan mendapat penangguhan hukuman setelah Departemen Kehakiman negara itu mengizinkannya memperpanjang masa tinggalnya.

Namun,  Suster Patricia Fox, mengatakan ini adalah “kemenangan sementara,” dia tidak akan  berpuas diri karena Presiden Rodrigo Duterte menginginkan  dia keluar dari negara itu.

Keterlibatan biarawati tua Australia itu dalam misi “pencari fakta” dugaan pelanggaran HAM di Filipina selatan menusul deklarasi darurat militer yang memicu kemarahan presiden.

Biro Imigrasi memberi waktu biarawati berusia 71 tahun hingga 18 Juni, untuk meninggalkan negara itu menyusul permohonan terakhirnya di hadapan Departemen Kehakiman pada 25 Mei untuk membatalkan perintah tersebut.

Menteri Kehakiman Menardo Guevarra memerintahkan biro imigrasi memberikan komentar soal petisi Suster Fox yang meminta untuk ditinjau kembali dalam jangka waktu yang tidak dapat diperpanjang 10 hari.

Dalam perintahnya, Guevarra menegaskan kembali bahwa Departemen Kehakiman “melakukan pengawasan dan kontrol atas (Biro Imigrasi).”

Namun, pengacara Robert Pahilga, penasihat hukum biarawati itu, mengatakan tanggal 18 Juni bukanlah tenggat waktu bagi Suster Fox meninggalkan negara itu “tetapi tanggal itu adalah deadline bagi biro imigrasi  melaksanakan perintah itu.”

Dalam sebuah pernyataan, pengacara biarawati itu mengatakan keputusan Departemen Kehakiman “menghilangkan kecemasan dan kekhawatiran bahwa dia akan ditangkap kapan saja oleh agen biro.”

Suster Fox mendatangi Departemen Kehakiman pada 25 Mei  memohon pemulihan visa misionarisnya, yang sebelumnya dicabut oleh biro imigrasi.

Duterte mengakui memerintahkan biro imigrasi menyelidiki biarawati itu karena “perilaku tidak tertib.” Dia mengatakan pernyataan Suster Fox terhadap pemerintah merupakan “pelanggaran kedaulatan.”

Suster Fox telah menghabiskan hampir tiga dekade di negara ini sebagai misionaris di komunitas miskin pedesaan. Dia adalah Provinsial Kongregasi Suster-suster Santa Perawan Maria dari  Sion di Filipina.

Biro imigrasi Filipina mencabut visa misionaris Suster Fox bulan lalu atas tuduhan keterlibatannya dalam “kegiatan politik partisan” di negara itu.

Biarawati itu ditangkap oleh pihak berwenang pada 16 April dan ditahan semalam  sebelum diperintahkan   meninggalkan negara itu.

Biro itu mencabut visa misionarisnya, yang akan berakhir pada 5 September, pada 23 April. Sertifikat pendaftaran Suster Fox sebagai orang asing juga “dinonaktifkan”.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi