UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Biarawan Benediktin Menyaksikan Kebakaran Hutan di Vietnam

Mei 30, 2018

Biarawan Benediktin Menyaksikan Kebakaran Hutan di Vietnam

Seorang biarawan melihat pohon-pohon pinus yang rusk akibat kebakaran dekat biara Benediktin Thien An di Vietnam. (Foto: Peter Nguyen/ucanews.com)

Para Biarawan Benediktin, provinsi  Vietnam Tengah mengkritik pihak berwenang karena membiarkan kebakaran hutan yang mereka klaim dilakukan dengan sengaja.

Bruder Stanislas Tran Minh Vong mengatakan dua kebakaran terjadi di hutan pinus, tidak jauh dari Biara Benediktin Thien An di luar kota kuno Hue di provinsi Thua Thien Hue pada sore hari, 22-23 Mei.

Bruder Vong, 81, mengatakan 50 biarawan menggunakan pipa air, cangkul, sekop, pisau dan alat lain untuk memadamkan api pertama, yang terjadi sekitar 300 meter dari biara.

“Sekelompok gangster meneriaki kami dan berusaha mencegah kami memadamkan api, yang mendekati biara,” katanya. Mereka juga memberi tahu para biarawan bahwa hutan itu bukan milik biara.

Dua petugas keamanan dari komunitas Thuy Bang melihat insiden itu tetapi tidak melakukan apa pun untuk memadamkan api. “Mereka mencoba mengambil paksa kamera dari beberapa biarawan yang sedang merekam api untuk menemukan penyebabnya,” kata Bruder Vong.

Brudera Vong mengatakan bahwa api kedua berhasil dimatikan oleh Biarawan Benediktin dan beberapa tentara.

Pastor Louis Gonzaga Dang Hung Tan, kepala biara, mengatakan empat kebakaran dimulai di daerah itu tahun ini. Api menghanguskan lima hektar hutan pinus yang menjadi area penghijauan para biarawan beberapa dekade lalu.

“Setelah menuju tempat kejadian, kami memastikan bahwa kebakaran ini disebabkan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Semua kebakaran bertujuan  mengganggu kehidupan dan kegiatan rohani  para biarawan,” kata Pastor Tan.

Imam itu mengatakan beberapa kelompok orang asing berhasil masuk ke biara dan menyaksikan pekerjaan para biarawan itu selama beberapa bulan terakhir. Namun, mereka tidak pernah berusaha memadamkan api dan melindungi harta milik biara, tambahnya.

Dia juga menuduh beberapa individu dan organisasi menghancurkan dan menyita tanah dan harta milik para biarawan.

Para biarawan merupakan pemilik sah atas biara dan 107 hektar hutan pinus dan lahan pertaniannya sejak tahun 1940.

Sejak tahun 1975, pemerintah setempat telah “meminjam” atau menyita tanah dan menugaskannya kepada departemen kehutanan dan pariwisata. Para biarawan diperbolehkan  memiliki tanah hanya enam hektar lahan termasuk biara.

Para biarawan mengatakan mereka tidak pernah memindahkan kepemilikan harta benda atau tanah kepada individu atau organisasi mana pun.

“Kami meminta individu dan organisasi yang relevan untuk menghormati martabat kami dan hak asasi manusia berdasarkan hukum,” kata Pastor Tan.

Dia menuntut mereka berhenti memulai kebakaran hutan dan melestarikan hutan pinus dan nilai-nilai spiritual para biarawan, yang membantu menciptakan lingkungan yang bersih.

Daerah ini sekarang memasuki musim panas yang berlangsung dari Mei hingga September. Lima penampung air hujan di biara mulai habis dan kolam-kolam yang digunakan untuk mengairi pertanian jeruk mulai mengering.  Para biarawan harus membawa air 10 kilometer untuk digunakan dalam  kegiatan sehari-hari mereka.

“Tidak adil bahwa kami tidak diizinkan  menggunakan danau seluas 49 hektar di dekat biara,” kata Pastor Tan, mengacu pada sebuah danau yang disita oleh pemerintah.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi