UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Pemimpin Lintas Agama Berjanji Dukung Upaya Perdamaian Myanmar

Mei 30, 2018

Pemimpin Lintas Agama Berjanji Dukung Upaya Perdamaian Myanmar

Para anggota delegasi dar Religions for Peace International dan Myanmar yang bertemu di Naypyidaw pada 22-25 Mei. (Foto: Religions for Peace)

Kardinal Charles Bo, uskup agung  Yangon telah bergabung dengan para pemimpin lintas agama lainnya dalam menyatakan komitmen mereka terhadap prakarsa perdamaian di Myanmar yang dilanda konflik, sebuah langkah yang disambut baik oleh Penasihat Negara, Aung San Suu Kyi.

Dalam sebuah surat terbuka kepada masyarakat Myanmar, Kardinal Bo dan 17 anggota lain dari delegasi tingkat tinggi  Religions for Peace International dan Myanmar menyatakan komitmen mereka untuk upaya perdamaian dan rekonsiliasi di negara yang saat ini mengalami beberapa konflik internal.

“Ini adalah momen penting dalam sejarah negara ini bahwa kami, sebagai pemimpin Buddha, Kristen, Hindu dan Muslim dari Myanmar dan di seluruh wilayah, datang kepada Anda dalam solidaritas dengan harapan untuk perdamaian,” demikian pembuka surat yang disampaikan kepada Suu Kyi di ibukota Naypyidaw pada 25 Mei.

Surat itu menolak penyalahgunaan agama dan ras untuk memecah belah rakyat Myanmar, yang bertentangan dengan prinsip fundamental dari tradisi agama dunia untuk membawa kebencian, diskriminasi dan kekerasan.

“Dalam upaya kolektif kami untuk menyelesaikan konflik antar-komunal dan  memajukan rekonsiliasi nasional, sebagai pemimpin agama nasional dan internasional, kami ingin membawa doa-doa Anda untuk perdamaian ke Konferensi Perdamaian abad-21 di Panglong,” menurut surat itu dalam kaitannya dengan inisiatif perdamaian lokal yang bertujuan mengakhiri konflik internal negara.

Surat itu melanjutkan dengan mengatakan delegasi berharap  membantu mendorong proses perdamaian dan rekonsiliasi di negara ini melalui serangkaian pertemuan, saran dan menampilkan toleransi beragama.

“Kami berkomitmen  bekerja dengan pemerintah dan tokoh-tokoh terkait lainnya untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata nasional dan perdamaian berkelanjutan dengan visi sistem federal yang demokratis di Myanmar,” kata surat itu, yang ditandatangi oleh Uskup Norwegia Gunnar Stalsett dari Oslo dan Venerable Ariya Wun Tha Bhiwun Sa, abbas Biara Myawaddy Mingyi di Mandalay.

“Kami merasa sedih menyaksikan meningkatnya permusuhan dan pengungsian besar-besaran masyarakat di Negara Bagian Kachin dan Negara Bagian Shan, yang semakin melemahkan proses perdamaian dan rekonsiliasi,” kata surat itu, merujuk pada peningkatan pertempuran antara militer Myanmar dan pemberontak Kachin yang mengakibatkan mengungsinya ribuan warga sipil.

Surat itu juga menyoroti krisis di Negara Bagian Rakhine dan upaya yang dilakukan untuk menyelesaikan krisis yang oleh PBB disebut sebagai pembersihan etnis. Lebih dari 670.000 orang Rohingya telah meninggalkan Rakhine ke Banglades sejak September untuk menghindari kampanye anti-pemberontakan yang dilakukan oleh militer Myanmar.

“Upaya yang baik dan terpuji sedang dilakukan, termasuk kesepakatan antara Banglades dan Myanmar tentang kembalinya pengungsi dan undangan ke PBB untuk memfasilitasi proses ini, terutama prioritas untuk perdamaian, pembangunan, pendidikan dan HAM  untuk semua komunitas di Negara Bagian Rakhine ” kata surat itu.

Surat itu juga menyerukan “eksplorasi skema pembagian global” ketika kelompok-kelompok etnis berperang demi sumber daya terbatas Myanmar, dan menyarankan untuk melibatkan konferensi internasional termasuk PBB untuk menjaga dialog tetap berjalan.

Suu Kyi menyambut baik saran  kerjasama multi-agama dari delegasi selama pertemuan di Naypyidaw.

Dia mengatakan para pemimpin agama dapat membuka jalan bagi “kemajuan untuk semua” dengan mendorong komunitas mereka untuk bekerja sama dan mempromosikan ideologi yang lebih inklusif yang menggabungkan mereka yang “tertinggal.”

Delegasi mengunjungi Rangoon dan Naypyidaw dari 22-25 Mei.

Kardinal Bo dan beberapa pemimpin lintas agama lainnya juga pergi ke Negara Bagian Rakhine yang dilanda perselisihan pada tanggal 27 Mei di mana mereka mengunjungi pusat penampungan sementara juga bertemu dengan komunitas Rohingya, Hindu dan Mro.

Dari udara, delegasi melihat ratusan desa Rohingya yang dihancurkan selama kampanye penghancuran pemberontak oleh militer Myanmar melawan militan Rohingya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi