UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Katedral Jakarta, Komunitas Muslim Bersatu Dukung Korban Bom Surabaya

Juni 4, 2018

Katedral Jakarta, Komunitas Muslim Bersatu Dukung Korban Bom Surabaya

Pastor Albertus Hani Rudi Hartoko SJ (kanan, memegang mikrofon) menjelaskan kepada peserta tentang sejarah gereja katedral dan benda-benda rohani yang ada di dalamnya dalam tur yang merupakan bagian dari acara buka puasa bersama yang diadakan oleh Paroki Katedral St. Maria Diangkat ke Surga dan beberapa komunitas Muslim di Jakarta. (Foto: Katharina R. Lestari/ucanews.com)

Paroki Katedral St. Maria Diangkat ke Surga di Jakarta Pusat bekerja sama dengan beberapa komunitas Muslim mengadakan acara buka puasa bersama di aula paroki pada Jumat (1/6) untuk menunjukkan solidaritas dan dukungan kepada para korban bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya, Propinsi Jawa Timur, pada pertengahan Mei lalu.

Sekitar 200 umat Islam dari berbagai komunitas termasuk Jaringan GUSDURian memadati aula paroki untuk mengikuti program yang berlangsung selama sekitar tiga jam itu. Mereka juga diajak masuk ke dalam gereja katedral untuk mendapatkan informasi seputar sejarah gereja katedral dan juga benda-benda rohani yang terdapat di dalamnya.

Pastor Albertus Hani Rudi Hartoko SJ, pastor paroki, memimpin tur kecil itu.

“Gereja KAJ (Keuskupan Agung Jakarta) pada tahun ini ingin mewujudkan semangat ‘Kita Bhinneka, Kita Indonesia.’ Kita sungguh-sungguh menghargai kebhinnekaan. Karena kita mengakui, maka kita bisa bekerja sama satu sama lain. Itu semangat yang dibuat,” kata imam itu kepada ucanews.com di sela-sela acara.

“Gereja katedral terbuka untuk siapa saja. Gereja katedral sebagai situs heritage, semua orang boleh datang. Saya kira gereja katedral ini bisa menjadi oase untuk kita semua,” lanjutnya.

Ia merujuk pada sidang hari pertama Konggres Pemuda Indonesia II pada 27 Oktober 1928 di komplek gereja katedral.

“Harapannya, semua virus kebaikan ini menyebar kemana-mana. Kita diajak menyebarkan virus solidaritas, virus kasih sayang kemana-mana,” lanjut Pastor Hani.

Menurut Alissa Wahid, koordinator Jaringan GUSDURian, acara buka puasa bersama bertujuan untuk mempererat persatuan nasional karena banyak kelompok tengah mempromosikan ideologi eksklusivitas yang mengancam kebersamaan.

“Sebetulnya masyarakat Indonesia masih dalam kondisi yang berdukacita setelah kejadian teror bom di Surabaya dan sentimen kebencian yang semakin menghebat terutama di media sosial. Kami memilih gereja katedral karena ini salah satu bentuk solidaritas kami terhadap korban teror bom, paling banyak dari Gereja Katolik,” katanya kepada ucanews.com.

Pada 13 Mei, sebuah keluarga – bapak, ibu dan empat anak – menjadi pelaku bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya. Akibatnya, sekitar 19 orang termasuk pelaku tewas.

“Indonesia kondisinya sangat memprihatinkan karena suara yang minor yang menginginkan perpecahan, mau menang sendiri. Sebetulnya dia kecil, tapi karena  sound system-nya besar, apalagi menggunakan sentimen (keagamaan dan) kebencian, jadi begitu besar pengaruhnya. Sehingga orang yang baik jadi tertutup,” kata Alissa.

“Kita harus mengakui dengan jelas ada pergeseran norma, nilai di Indonesia. Menurut penelitian Gusdurian dan Infid di 6 kota di Indonesia, semakin muda semakin intoleran kepada orang di luar kelompoknya. Ada yang namanya amplification spiral, mulai dari merasa superior, kelompok saya yang paling benar dan paling berhak di Indonesia, lalu muncul sikap intoleran. Mulainya dari eksklusivitas dan menolak inklusivitas. Dari situ muncul intoleransi kepada orang yang dianggap sebagai kelompok berbeda. Lalu konflik sosial terjadi, bahkan bisa ke arah terorisme,” lanjutnya.

Seorang peserta, Harijono Djojodihardjo, menyebut acara itu sebagai peristiwa “historis.”

“Ini salah satu upaya dari umat untuk kebersamaan. Kita masing-masing beragama, hubungan kita dengan Tuhan. Saya merasa ini sesuatu di mana I have to be here,” katanya kepada ucanews.com.

Ia berharap agar acara seperti itu terus diadakan.

Suster Patricia PI, seorang peserta lainnya, mengaku senang mengikuti acara itu.

“Ternyata ada kerinduan akan kebersamaan. Tidak ada sesuatu yang membuat takut. Teror bom di Surabaya memakan korban, tapi yang terluka kita semua. Kita semua ikut merasakan,” katanya kepada ucanews.com.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi