UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Pujian Terkait Kontribusi Besar dari  ‘Topi Merah’ Pakistan

Juni 4, 2018

Pujian Terkait  Kontribusi  Besar dari  ‘Topi Merah’  Pakistan

Kardinal (terpilih) Joseph Coutts.

Uskup Agung Joseph Coutts, baru secara resmi akan menjadi Kardinal  sebulan lagi, tetapi banyak warga Pakistan memiliki harapan yang tinggi tentang apa yang akan ia capai.

Paus Fransiskus mengangkat Uskup Agung Karachi itu sebagai salah satu dari 14 kardinal baru yang akan dilantik pada 29 Juni.

Berita tentang siapa yang  mendapat  ‘topi merah’ kedua bagi negara  Islam itu, setelah Kardinal Joseph Cordeiro, uskup agung  Karachi yang meninggal tahun 1994, mendominasi baik media sosial ataupun  Gereja lokal.

Perhatian media termasuk sebuah profil dokumenter Uskup Agung Coutts yang dibagikan  oleh Catholic TV, yang diatur oleh Keuskupan Agung Lahore.

Pada sesi wawancara baru-baru ini dengan ucanews.com, prelatus itu menjanjikan banyak hal tentang “kerukunan  antaragama” sebagai mottonya.

Lebih dari 10 anggota keluarga besar OMNI Lahore pada 21 Mei memberi penghormatan dengan memainkan salah satu komposisi musik favoritnya, sebuah lagu yang mewujudkan tema persatuan ini.

Para imam serta para siswa berkumpul  merayakan pesta pendiri mereka, St. Eugene De Mazenod.

“Akhirnya kami mendapat pengakuan dalam skala yang lebih luas,” kata Rektor seminari Pastor Cecil Paul.

“Sekarang kita akan memiliki perwakilan langsung di Vatikan, seperti negara tetangga India yang memiliki empat topi merah.”

Pastor Paul berharap kardinal yang masuk akan mengembangkan hubungan diplomatik dengan perwakilan asing serta pemimpin militer dan politik di Pakistan.

“Komunikasi yang kuat di antara Gereja dan negara dapat berperan positif dalam membantu orang-orang Kristen yang sering menjadi target karena iman mereka,” kata pastor itu.

“Sayangnya, kisah penganiayaan kami umumnya diabaikan di media cetak dan elektronik.”

Dua setengah juta orang Kristen di Pakistan terus menghadapi peningkatan diskriminasi dan kekerasan sejak pemerintah memberlakukan undang-undang anti-penodaan agama tahun 1980-an yang telah digunakan oleh beberapa kelompok Islam garis keras untuk menargetkan agama lain.

Bulan lalu, enam orang Kristen ditembak mati dalam dua insiden terpisah di Quetta, ibukota provinsi Balochistan.

Gereja  ​​Katolik di Pakistan secara nasional memperingati setiap 29 April sebagai hari khusus untuk mengenang penganiayaan orang Kristen.

Uskup Agung Coutts sendiri adalah uskup Faisalabad di Provinsi Punjab pada saat kerusuhan anti-Kristen tahun 2009.

Sepuluh orang Katolik tewas, tujuh di antaranya dibakar hidup-hidup, di kota Gojra dan desa Korian di dekatnya. Segerombolan Muslim garis keras merusak dan merampok 113 rumah Kristen dan merusak empat gereja Protestan di wilayah-wilayah ini dengan tuduhan penodaan agama.

Hafiz Muhammad Nauman, direktur eksekutif Majelis-majelis Keagamaan Pakistan, mengatakan dia selalu berhubungan dengan Uskup Agung Coutts pada saat itu dalam membantu memulihkan ketertiban.

“Saya mengucapkan selamat kepada uskup agung dan dengan tegas percaya pengangkatannya akan membantu memperbaiki identitas Pakistan,” katanya.

“Bangsa kita damai – kita bukan teroris dan ekstremis.”

Ada “alasan lain” untuk fenomena kekerasan yang bermotif agama, tambahnya.

Kunjungan Paus

Ulama muda itu juga merekomendasikan agar kardinal terpilih menggunakan pengaruhnya  mengundang Paus Fransiskus ke Pakistan karena akan menghadirkan “wajah toleran” Pakistan kepada dunia.

Berawal dari kunjungan tahun 2016 ke Vatikan, menteri federal untuk hak asasi manusia Kamran Michael dan Sardar Yusuf, menteri urusan agama dan kerukunan antaragama dalam Kabinet  Pakistan mengatakan secara terbuka bahwa Paus Fransiskus telah menerima undangan dari Perdana Menteri Nawaz Sharif untuk datang ke Pakistan.

Namun, juru bicara Vatikan menjelaskan bahwa sampai “saat ini belum ada program perjalanan ke Pakistan yang sedang dipelajari.”

Paus berterimakasih atas undangan itu, tetapi tidak menerima atau menolak, kata sumber-sumber Vatikan.

 

Janji baru

Pastor James Archangelus, seorang imam senior di keuskupan Faisalabad, mengajukan permintaan lebih lanjut untuk Vatikan, termasuk kemungkinan calon  untuk uskup pembantu.

Dia mengatakan, Uskup Agung Coutts menderita asma kronis dan kondisinya terus memburuk sejak 2012 ketika ia diangkat menjadi uskup agung  Karachi.

“Sekarang dia membutuhkan pembantu lebih dari sebelumnya,” kata Pastor Archangelus.

Imam senior itu juga menyoroti tentang perlunya seorang Duta Besar Vatikan  dan uskup baru.

Keuskupan Faisalabad masih mengalami  lowong sejak Desember lalu ketika Paus Fransiskus memindahkan Uskup Joseph Arshad ke  Keuskupan Islamabad-Rawalpindi dengan menganugerahkan kepadanya “gelar pribadi” sebagai  uskup agung.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi