UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Pekerja Filipina Gunakan Bulan Maria untuk Menuntut Upah Layak

Juni 5, 2018

Pekerja Filipina Gunakan Bulan Maria untuk Menuntut Upah Layak

Para pekerja bagian  ekspor di luar ibu kota Filipina, Manila, berunjuk rasa di depan istana presiden pada 30 Mei memprotes  diakhirinya  pekerja kontrak  lepas.

Para pekerja yang melakukan protes itu menyebut unjuk rasa  mereka “Flores de Endo,” sebuah parodi dari festival keagamaan tahunan pada Mei – Flores de Mayo –  menghormati Perawan Maria.

Endo,” kependekan dari “akhir kontrak,” adalah praktik  yang dilakukan perusahaan untuk memecat pekerja lepas sebelum mencapai enam bulan kerja untuk menghindari pembayaran  tunjangan apa pun.

Menurut undang-undang Filipina, seorang pekerja yang bekerja setelah masa percobaan enam bulan dianggap sebagai karyawan tetap.

Flores de Endo bukan sebagai perayaan, tetapi protes terhadap semua bentuk kontraktualisasi,” kata Antonette Amorado, juru bicara  para pekerja.

“Berbeda dengan kemegahan dan warna dari Flores de Mayo, kami bertujuan  menunjukkan kemarahan kami atas masalah kontraktualisasi yang belum terselesaikan,” kata Amorado.

Para pekerja mengatakan bahwa meskipun presiden berjanji  mengakhiri praktek kontrak pekerja lepas ini, “kejadian sebenarnya di lapangan berbeda.”

Pada  1 Mei, Presiden Rodrigo Duterte menandatangani peraturan pemerintah yang melarang hanya tenaga kerja  kontrak, tetapi beberapa bentuk “kontrakisasi” masih diperbolehkan.

Kelompok buruh yang kecewa ini mengatakan bahwa peraturan ini adalah bagian dari “upaya  sia-sia dan berulang untuk memadamkan protes yang berkembang di sektor tenaga kerja … terhadap janji-janjinya yang gagal.”

Presiden, yang janji kampanyenya  tahun 2016 adalah untuk mengakhiri kontrak buruh saja, mengatakan tindakan yang lebih komprehensif harus dilakukan dengan meninjau undang-undang ketenagakerjaan negara itu.

Tuntutan upah minimum yang lebih tinggi

Sementara pekerja lepas berdemonstrasi di jalan-jalan, pegawai pemerintah menuntut kenaikan upah minimum mereka.

Kelompok pekerja pemerintah  Courage (Confederation for Unity Recognition and Advancement of Government Employees) menyerukan kenaikan upah minimum nasional 5 juta rupiah per bulan dari saat ini 2,8 juta rupiah  per bulan yang diterima oleh seorang karyawan dengan upah terendah.

Kelompok-kelompok sektor swasta juga telah menyerukan kenaikan upah.

“Kami menyerukan kepada pemerintah  memperhatian  kondisi ekonomi para pekerjanya yang memburuk, terutama para pekerja dengan peringkat rendah di tingkat lokal,” kata ketua Courage   Ferdinand Gaite.

Pekerja pemerintah dengan peringkat terendah di Manila menerima Rp 126.000 per hari dibandingkan dengan pekerja sektor swasta upah minimum yang menerima hingga Rp 136.000  per hari.

Di provinsi-provinsi, pekerja pemerintah peringkat terendah menerima Rp 95.000, sementara seorang penerima upah minimum sektor swasta menerima hingga Rp 107.000  sehari.

Gaite mengatakan sudah saatnya pemerintah menaikkan upah minimum nasional.

Upah minimum tertinggi di ASEAN

Meskipun meningkatnya tuntutan menaikan upah yang lebih tinggi, Filipina memiliki upah minimum tertinggi di daerah-daerah  di Manila.

Upah minimum bervariasi di seluruh negara dari terendah sekitar Rp 80.500 sehari di provinsi miskin.

Di Thailand, seorang pencari nafkah minimum, tergantung pada daerah tempat mereka bekerja, dapat menghasilkan sebanyak Rp 127.000  hingga Rp 130 000 per hari.

Di Malaysia, seorang pekerja menghasilkan tarif harian Rp 102.000 hingga Rp 111.000 per hari. Vietnam menyediakan bayaran Rp 69 000 hingga Rp 78 000.

Upah minimum Indonesia berkisar antara Rp 45.000  hingga Rp 117.000, tergantung pada daerahnya.

Undang-undang pajak baru menyulitkan kehidupan

Ketua  komisi kerasulan awam Konferensi Waligereja Filipina mendukung kaum buruh.

Uskup Auksilier Manila, Broderick Pabillo, mengutip kenaikan biaya barang dan jasa sebagai akibat dari undang-undang pajak baru.

“Jika pemerintah menginginkan pertumbuhan terbuka, gaji pekerja harus terus ditingkatkan,” kata prelatus itu.

Dia mengatakan bahwa jika pemerintah tidak dapat memberikan kenaikan gaji, pemerintah harus memberikan kompensasi lain, termasuk penghapusan kontrak kerja lepas.

Kelompok-kelompok buruh telah  meminta subsidi voucher uang tunai sebesar Rp 140.000 untuk pekerja yang terkena dampak daya beli yang mengikis dari upah minimum harian mereka.

“Jangan menunggu badai yang sangat besar terjadi,” kata Alan Tanjusay, juru bicara Kongres Serikat Buruh Serikat Pekerja Gabungan dari Filipina.

Dia mengatakan pemerintah harus mengurangi penderitaan pekerja yang memburuk dan keluarga mereka dengan menyediakan jaring pengaman sementara pengusaha memberikan kenaikan upah yang cukup besar.

Kelompok buruh menuntut kenaikan upah harian sebesar Rp 322.000 untuk pekerja di sektor swasta agar mereka “dapat hidup di atas ambang kemiskinan negara.”

Tidak ada janji pemerintah

Sekretaris Buruh Silvestre Bello III mengatakan bahwa pemerintah akan mempelajari tuntutan tersebut, dan menambahkan bahwa dia telah memerintahkan dewan upah regional untuk memantau kenaikan harga komoditas dasar.

Dia mengatakan kenaikan upah minimum di seluruh negeri akan dilaksanakan pada kuartal terakhir tahun ini jika kenaikan harga berlanjut.

Dia mengatakan, subsidi tunai juga sedang dipelajari, meskipun dia mengatakan Rp 140.000 terlalu tinggi. “Mungkin … Rp 28.000 hingga Rp 56.000  sebulan,” kata Bello.

“Kami melakukan ini untuk memungkinkan penerima upah harian untuk melindungi dampak dari harga yang terus naik jika tidak benar-benar memulihkan kehilangan nilai pendapatan mereka.”

Inflasi mencapai tertinggi dalam  lima tahun 4,5 persen pada April 2018.

Departemen Keuangan mencatat bahwa harga minyak global yang lebih tinggi dan peso Filipina yang lebih lemah terhadap dolar Amerika Serikat berkontribusi pada tingkat inflasi yang lebih tinggi.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi