UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Greenpeace Indonesia, MUI Luncurkan Kampanye #PantangPlastik di Masjid

Juni 6, 2018

Greenpeace Indonesia, MUI Luncurkan Kampanye #PantangPlastik di Masjid

Dalam foto ini, umat Islam memadati Masjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh untuk menjalankan sholat Idul Fitri pada 25 Juni 2017. Greenpeace Indonesia dan MUI meluncurkan kampanye #PantangPlastik pada 4 Juni tahun ini untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. (Foto: Ahmad Ariska/AFP)

Greenpeace Indonesia bekerjasama dengan Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Majelis Ulama Indonesia (LPLHSDA-MUI) memanfaatkan Bulan Suci Ramadan untuk meluncurkan kampanye #PantangPlastik di masjid-masjid di Kota Jakarta dan Kota Bandung.

Bertempat di Masjid Raya Pondok Indah di Jakarta Selatan, kampanye diluncurkan pada 4 Juni, sehari menjelang Hari Lingkungan Hidup Sedunia.

“Kampanye #PantangPlastik kami luncurkan karena permasalahan sampah plastik sudah cukup akut di Indonesia. Pada tahun 2015, Indonesia memiliki sampah plastik di lautan terbesar kedua setelah Cina,” kata Muharram Atha Rasyadi, juru kampanye urban dari Greenpeace Indonesia, kepada ucanews.com.

Ia merujuk pada sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Science pada Februari 2015 yang menyebutkan bahwa Indonesia, sebuah negara yang berpenduduk sekitar 250 juta orang, menghasilkan 3,2 juta ton sampah plastik pada 2010, sekitar 1,29 juta di antaranya berada di lautan. Angka ini membuat Indonesia berada di posisi kedua setelah Cina yang memproduksi 8,8 juta ton sampah, 27 persen dari jumlah sampah di dunia.

“Kami memanfaatkan momen bulan puasa karena bulan ini orang cenderung lebih konsumtif. Dan sampah plastik lebih banyak dihasilkan. Misalnya, kegiatan buka puasa di masjid-masjid dan kantor-kantor banyak menggunakan bungkus plastik dan styrofoam,” katanya.

Fatah, seorang pengurus Masjid Raya Pondok Indah, mengatakan banyak sampah dihasilkan selama Ramadan.

“Selama Ramadan, setiap hari sampah di masjid diangkut karena penggunaan plastik dan kertas. Selain ada buka puasa bersama, juga ada bazar setiap hari. Jika bukan Bulan Ramadan, sampah diangkut biasanya setiap tiga atau empat hari karena ada kantin di masjid,” katanya.

Menurut Atha, kampanye #PantangPlastik bertujuan untuk mendorong umat Islam agar menggunakan gelas dan piring yang bukan terbuat dari plastik untuk kegiatan keagamaan dan untuk menyadarkan mereka tentang pelestarian lingkungan hidup.

Ia mengatakan kampanye untuk tahap awal berfokus pada Kota Jakarta dan Kota Bandung. Hal ini dikarenakan Kota Jakarta tahun lalu menghasilkan sekitar 7.000 ton sampah setiap hari dan sekitar 15 persen dari angka ini, atau 1.050 ton, adalah sampah plastik. Dan pada tahun yang sama, Kota Bandung menghasilkan sekitar 1.500 ton sampah per hari dengan prosentase yang sama untuk sampah plastik.

“Masyarakat kita terjebak dalam praktek sekali pakai. Mereka menggunakan botol plastik, kantong plastik, sedotan plastik dan wadah makanan yang terbuat dari plastik,” katanya, seraya menambahkan bahwa sampah plastik mengancam ekosistem laut.

Pada 2017, pemerintah menyampaikan komitmen untuk mengurangi sampah plastik di lautan hingga 70 persen pada 2025. Setahun sebelumnya, pemerintah meluncurkan gerakan Indonesia Bebas Sampah 2020 dan memulai uji coba plastik berbayar.

“Kita juga mendorong pemerintah agar mengeluarkan kebijakan yang berfokus pada pengurangan sampah plastik dari hulunya,” lanjut Atha.

Hayu S. Prabowo, ketua LPLHSDA-MUI, mengatakan agama Islam diturunkan oleh Allah sebagai rahmat bagi sekalian alam, atau rahmatan lil-alamin.

“Karena itu, ajaran Islam memberikan panduan bagi umat manusia bukan saja tentang bagaimana menjaga hubungan kepada Sang Pencipta dan sesama manusia, tetapi juga bagaimana menjaga alam seisinya ini agar tetap membawa kemanfaatan bagi umat manusia,” katanya.

“Misalnya, berbuka puasa tanpa plastik sekali pakai, sedotan dan styrofoam,” lanjutnya.

Fatah pun berharap agar kampanye #PantangPlastik terus dilakukan di masjid-masjid.

“Masjid berkeinginan untuk bersinergi dengan Greenpeace Indonesia ke depan. Entah bentuknya seperti apa,” katanya.

Sementara itu, Pastor Alexius Andang Listya Binawan SJ, vikep Keuskupan Agung Jakarta yang telah memperkenalkan kampanye serupa sejak 2013, mengatakan penyadaran masyarakat akan bahaya sampah plastik terhadap lingkungan hidup harus terus digaungkan.

“Polusi sampah sudah sampai pada kategori ‘awas.’ Artinya sudah makin berdampak pada alam, binatang dan bahkan tubuh manusia. Pengurangan penggunaan plastik terutama yang sekali pakai harus segera dilakukan,” katanya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi