UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Seorang Pastor di Sri Lanka Dapat Penghargaan HAM

Juni 7, 2018

Seorang Pastor di Sri Lanka Dapat Penghargaan HAM

Pastor Nandana Manatunga menerima Penghargaan Gwangju untuk Hak Asasi Manusia pada 18 Mei 2018 di Korea Selatan. (Foto: Disediakan)

Pastor Nandana Manatunga membela keluarga dari para tahanan politik dan korban penganiayaan, perkosaan dan pelanggaran hak asasi manusia (HAM).

Ia mengunjungi kantor polisi dan kamp militer untuk mencari keadilan bagi mereka dan juga bagi warga Suku Tamil yang hilang setelah ditahan militer saat terjadi perang sipil pada 1983-2009.

Suatu hari, sejumlah perempuan mendatangi kantor Pastor Manatunga. Beberapa di antaranya menangis ketika mereka menceritakan tentang anggota keluarga mereka – kebanyakan anak laki-laki, suami atau kakak laki-laki – yang diculik oleh militer atau kelompok paramiliter.

“Kantornya, karyanya dan programnya selalu diawasi oleh polisi dan Divisi Investigasi Terorisme,” kata Lucille Abeykoon dari Kantor HAM.

“Keluarga dari para korban meminta bantuannya. Ia tidak peduli dengan nyawanya sendiri,” lanjutnya.

Menurutnya, imam itu aktif membantu keluarga dari sejumlah orang muda yang hilang pada pemberontakan pemuda tahun 1987-1989.

Ia membantu menemukan jasad para korban termasuk jenazah yang telah dikubur di tempat umum.

Pastor Manatunga adalah direktur Kantor HAM di Kandy, bekas ibukota negara itu.

Beberapa imam yang membela HAM selama terjadi perang sipil dibunuh atau hilang dan dikhawatirkan tewas.

Tahun ini, pada 18 Mei, Pastor Manatunga mendapat Penghargaan Gwangju untuk HAM oleh Yayasan Memorial yang dibentuk sehari setelah kematian warga sipil pada 1980 saat terjadi pemberontakan populer di Kota Gwangju, Korea Selatan.

Abeykoon hadir pada upacara penganugerahan penghargaan di Korea. Dikatakan, Pastor Manatunga mendapat pengakuan internasional atas upaya kemanusiaannya.

Kelompok HAM itu mengadakan perayaan Tahun Baru untuk meningkatkan integrasi antara korban yang selamat dan keluarga mereka dengan menghilangkan stres dan menambah kekuatan mereka dengan mempertemukan mereka dengan orang lain yang menderita.

Seorang aktivis HAM, Ruki Fernando, mengatakan Pastor Manatunga memperlakukan para korban penganiayaan seperti keluarganya sendiri.

Ia menambahkan bahwa imam itu memberi bantuan hukum dan perlindungan fisik serta bantuan finansial dan psiko-sosial.

Pendekatan yang komprehensif ini membantu mengatasi isu struktural dan hukum dan melakukan advokasi bersama pejabat pemerintah, media dan organisasi internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Karya Pastor Manatunga dan timnya telah memenangkan sejumlah persidangan terhadap para pelaku perkosaan dan penganiayaan serta membebaskan tahanan politik.

“Ini adalah kemenangan yang jarang terjadi di Sri Lanka. Kemenangan ini diperoleh setelah upaya keras yang dilakukan selama beberapa tahun,” kata Fernando kepada ucanews.com.

Pastor Manatunga juga telah melakukan negosiasi terkait peluncuran program kesejahteraan di dalam penjara.

Seorang aktivis HAM lainnya, Pastor Reid Shelton Fernando, menjelaskan bahwa keberhasilan lain adalah keterlibatan para imam dalam isu HAM.

Ia mengatakan Pastor Manatunga pernah menghadapi ancaman dari polisi dan para pelanggar HAM lain. Ia harus “menghadapi kritik dan skeptisme” dari beberapa rekan imam dan tokoh Gereja saat ia menantang mereka untuk terlibat aktif dalam melawan pelanggaran.

Dan kesadaran yang besar akan isu-isu HAM di kalangan anak-anak sekolah pun diraih melalui debat dan pameran serta lomba esai, puisi dan poster.

Selain itu, selama 14 tahun, Pastor Manatunga menangani kasus Jesudasan Rita yang diculik dan diperkosa pada 2001 ketika ia berusia 17 tahun. Saat itu Rita tengah dalam perjalanan pulang setelah mengikuti Misa Minggu dan kelas persiapan penerimaan Sakramen Krisma di Gereja St. Patrick di Talawakela, sebuah wilayah perkebunan teh di Propinsi Tengah.

Pastor Manatunga membantu Rita memenangkan persidangan pada 2016 ketika dua pria masing-masing dihukum penjara 23 tahun dan kerja paksa.

Kantor HAM menyediakan rumah aman, bantuan hukum, pelayanan medis dan pendidikan serta membantu mengatur pernikahan Rita.

Pastor Manatunga mengatakan kepada ucanews.com bahwa semua tokoh agama memiliki kewajiban moral untuk membela HAM.

“Organisasi kami memberi bantuan hukum, pendidikan, tempat tinggal dan penyuluhan bagi para korban yang masih berusia muda,” katanya. “Kami berkomitmen untuk melindungi martabat warga biasa di depan hukum.”

Pastor Manatunga lahir pada 1960 dan ditahbiskan pada 1986.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi