UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Uskup Agung Dikecam Terkait Pernyataannya Bahwa Konstitusi India dalam Bahaya

Juni 8, 2018

Uskup Agung  Dikecam Terkait Pernyataannya Bahwa Konstitusi India dalam Bahaya

Mgr Filipe Neri Ferrao, uskup agung Goa membagikan Komuni. (Foto: Bosco de Souza Eremita)

Mgr Filipe Neri Ferrao, uskup  keuskupan agung  Goa menghadapi kecaman  politik karena mengklaim bahwa konstitusi India dalam bahaya, tetapi ia mendapat dukungan dari umat awam.

Kontroversi terbaru terjadi dua minggu setelah Mgr Anil Couto, uskup keuskupan agung New Delhi dikritik karena komentarnya tentang situasi politik di India.

Dalam surat gembala setebal  15-halaman yang dirilis pada 2 Juni,  Uskup Agung Ferrao fokus pada keprihatinan Kristiani atas kemiskinan tetapi di bagian terakhir, tentang hak asasi manusia, dia berkomentar tentang konstitusi.

“Baru-baru ini, kita melihat tren baru yang muncul di negara kita, yang menuntut keseragaman dalam apa dan bagaimana kita makan, berpakaian, hidup dan bahkan beribadah: sejenis monokulturisme. Hak asasi manusia diserang dan demokrasi tampaknya berada dalam bahaya,” tulisnya.

Surat itu mengatakan selama kampanye pemilu, politisi membingungkan orang dengan janji palsu. “Konstitusi kita dalam bahaya,” katanya.

Uskup Agung Ferrao merujuk pada pemilu pada April mendatang dan meminta umat Katolik  terlibat aktif dalam politik guna mempromosikan sekularisme dan nilai-nilai lain dari konstitusi. “Kita harus berusaha  mengetahui konstitusi kita lebih baik dan bekerja lebih keras  melindunginya,” katanya.

Meskipun surat itu menyoroti berbagai bentuk kemiskinan yang perlu perhatian mendesak, media mengutip kalimat dan menafsirkannya sebagai daya tarik politik untuk menentang Partai Bharatiya Janata (BJP)  pro-Hindu yang menguasai pemerintahan federal dan sebagian besar negara bagian.

Kelompok Hindu, Vishwa Hindu Parishad menuduh Konferensi Waligereja India bertindak atas perintah Vatikan untuk membangkitkan suasana politik terhadap Perdana Menteri Narendra Modi dan partainya menjelang pemilu.

Menteri Urusan Minoritas Federal Mukhtar Abbas Naqvi pada 5 Juni mengatakan kekhawatiran tentang keselamatan kaum minoritas salah tempat. Konstitusi dan pemerintah melindungi hak-hak minoritas, katanya.

Inacio Oliveira, seorang umat paroki di dekat ibukota Goan Panaji, mengatakan surat itu menyebutkan meningkatnya jumlah migran dan kaum miskin karena proyek pembangunan  berat sebelah tetapi “media menghitamkan semua itu karena media itu sendiri telah menjadi bagian dari sistem busuk, mengadopsi jenis monokulturalisme. ”

Pastor Joaquim Loiola Pereira, sekretaris uskup agung, mengatakan media telah menghilangkan dua atau tiga kalimat dari surat gembala itu di luar konteks dan membuatnya menjadi masalah.

“Kami tidak membuat komentar dan penjelasan lebih lanjut tentang surat itu. Jika Anda mau, Anda dapat membaca surat itu secara online,” katanya.

Surat gembala itu ditandatangani oleh uskup agung tetapi bukan produk dari satu pikiran, kata imam itu.

Surat itu mencerminkan sentimen orang Indian sekuler dan komunitas Katolik, kata Bruder Eusebio Miranda, editor mingguan yang dikelola Gereja, Vauradencho Ixxt (Teman Pekerja).

Uskup Agung  Ferrao “telah berdiri bersama para warga yang menderita. Kata-katanya mirip dengan Uskup Agung Romero dari Argentina yang wafat karena ditembak. Kami senang bahwa ia telah dengan berani mencerminkan sentimen dari komunitas Katolik khususnya,” kata Bruder Miranda.

Kontroversi sebelumnya dipicu ketika Uskup Agung Couto meluncurkan kampanye doa sepanjang tahun menjelang pemilu, dan mengatakan India menghadapi “masa depan politik yang bergejolak.”

Kelompok Hindu dan BJP menuduhnya merongrong kepentingan India dan bekerja dengan Vatikan  mencoreng citra pemerintah.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi