UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

5 Pria Muslim Dibunuh di Thailand

Juni 11, 2018

5 Pria Muslim Dibunuh di Thailand

Para pelayat membawa jenazah Aduldej Chenae, wakil ketua Komisi Islam Pattani, pada upacara pemakaman di Pattani pada 10 Juni. Aduldej tengah meninggalkan sebuah masjid di Distrik Sai Buri pada 8 Juni ketika ia ditembak oleh pria bersenjata. (Foto: Tuwaedaniya Meringing/AFP)

Sejumlah orang bersenjata M16 menembak mati lima pria yang sedang mengobrol di sebuah beranda pada Senin (11/6) di sebuah desa di Propinsi Yala, Thailand.

Kelima pria itu diidentifikasi oleh polisi sebagai umat Islam setempat. Mereka ditembak mati sekitar pukul 13.00 waktu setempat oleh para penyerang yang mengenakan jaket dan mengendarai dua sepeda motor.

Menurut polisi, para korban mungkin menjadi target balas dendam oleh separatis Islam atau warga desa atas permusuhan pribadi.

Penembakan itu merupakan kekejaman terbaru dalam serangkaian penembakan, pemboman dan pemenggalan kepala yang terus terjadi di tiga propinsi yang berpenduduk mayoritas Muslim – Yala, Pattani dan Narathiwat. Di ketiga wilayah ini, pemberontakan berdarah separatis terhadap pemerintahan Buddha dari Bangkok terjadi sejak 2004.

Sekitar 7.000 orang, sebagian besar warga desa beragama Buddha dan Islam, tewas dalam serangan balasan di ketiga propinsi itu. Selain itu, polisi dan tentara, biksu, guru dan pejabat pemerintah terus menjadi target dari anggota kelompok separatis seperti Barisan Revolusi Nasional di Pattani.

“Kami hidup dalam ketakutan,” kata seorang pria Muslim dari sebuah keluarga ternama di Pattani kepada ucanews.com. Ia minta tidak disebutkan namanya karena takut akan dicap sebagai kolaborator oleh separatis.

“Umat Islam dan Buddha, kami dulu hidup berdampingan dengan damai,” lanjutnya. “Kami menghadiri pernikahan dan pemakaman bersama. Sekarang kami tidak bisa melakukan itu.”

Bagi banyak warga setempat, bahkan melibatkan diri dalam kegiatan duniawi bisa berbahaya.

Banyak pengendara sepeda motor ditembak dalam serangan acak di tiga propinsi tersebut. Beberapa hari lalu, empat pria yang tengah mendulang emas di sebuah perkebunan karet di Narathiwat ditemukan tewas dengan luka tembakan di sekujur tubuhnya. Warga desa beragama Islam ini termasuk seorang bapak dan dua anak remajanya.

“Kami tidak tahu persis apa motifnya,” kata Manus Sixsamat, komandan polisi Narathiwat, kepada media setempat.

Para korban itu mungkin dibunuh oleh pemberontak Muslim atau pesaing mereka dalam pendulangan emas.

Batasan antara aksi kekerasan oleh pemberontak dan geng penjahat seringkali tidak jelas di ketiga propinsi itu.

“Penyelundup manusia, penyelundup narkoba, gembong lokal, aparat penipu – mereka semua terlibat,” kata seorang pakar forensik yang bekerja untuk pemerintah dan tinggal di Bangkok. Ia menolak untuk disebutkan namanya karena alasan keamanan.

Banyak pembunuhan dan pemboman yang terjadi di wilayah rawan itu masih belum terselesaikan. Rezim militer telah berjanji untuk menenangkan wilayah itu, namun hanya ada sedikit kemajuan. Pemberontak masih bisa melakukan serangan sesuka hati.

Di akhir Mei, pada Minggu malam, terduga pemberontak meledakkan bom rakitan di 20 lokasi, terutama di ATM yang ada di ketiga propinsi itu dan juga Propinsi Songkhla. Dua perempuan terluka.

“(Separatis) selalu mencari cara untuk menciptakan kepanikan dan ketidaknyamanan,” kata juru bicara tentara, Kolonel Pramote Prom-in, kepada media. “Mereka mencari target yang mudah.”

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi