UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

SVD Buat Drama Musikal Tentang St. Joseph Freinademetz

Juni 13, 2018

SVD Buat Drama Musikal Tentang St. Joseph Freinademetz

Poster program drama musikal tentang St. Joseph Freinademetz yang diintegrasikan ke dalam masyarakat dan kebudayaan Cina. (Foto: ucanews.com)

Serikat Sabda Allah (SVD) membuat sebuah drama musikal tentang St. Joseph Freinademetz untuk merefleksikan semangat misinya di Cina.

Tahun ini merupakan peringatan ke-15 kanonisasi orang kudus itu, sementara tahun depan merupakan peringatan ke-140 misinya.

Pada April lalu, drama musikal tersebut ditampilkan di Putonghua di Gereja St. Margareta di Happy Valley, Hong Kong. Bulan ini, drama musikal ini akan ditampilkan dalam Bahasa Kanton di Pusat Kota Sai Wan Ho.

Pastor Joseph Tan Lei Tao, produser drama musikal itu, mengatakan kepada ucanews.com bahwa drama musikal itu merefleksikan semangat dan keyakinan santo itu bahwa “cinta adalah satu-satunya bahasa yang dipahami setiap orang.”

St. Freinademetz lahir pada 1852 di Badia, saat itu masih menjadi bagian dari Austria tetapi sekarang berada di Italia. Ia ditahbiskan pada 1875. Ia ditugaskan untuk melayani komunitas di San Martino, tidak jauh dari rumahnya.

Ketika berada di San Martino selama tiga tahun, ia selalu merasakan panggilan untuk menjadi seorang misionaris. Dan pada 1878, seijin orangtua dan uskupnya, ia pindah kongregasi dan masuk SVD. Di sini ia mendapat pelatihan sebagai seorang misionaris.

Pada 1879, ia dan temannya – Johann Baptist von Anzer – menuju Hong Kong dengan sebuah kapal. Ia tiba di negara itu lima minggu kemudian.

Ngan Lai Nor, sutradara dan penulis naskah drama musikal itu, mengatakan kepada ucanews.com bahwa St. Freinademetz menyurati kongregasinya di Eropa dan menceritakan bahwa hari-harinya di kapal sangat sepi.

Pastor Tan mengatakan St. Freinademetz tinggal di Sai Kung hingga 1880 dan mendirikan sebuah kapel di Pulau Yim Tin Tsai pada 1879.

“Ia belajar dialek Kanton dan Hakka dan mengenakan pakaian seperti orang Cina. Ia memiliki jenggot dan rambutnya dikepang,” katanya.

Pada 1881, ia pindah ke Keuskupan Lunan di Propinsi Shandong di Cina bagian timur laut. Di sana ia sangat aktif mendidik umat awam dan imam asal Cina serta menulis katekese dalam Bahasa Cina. Saat tinggal di Shandong selama 27 tahun, jumlah umat Katolik bertambah menjadi 40.000 dan 40.000 lainnya siap dibaptis.

Pada 1908, wabah tifus muncul. Ia membantu apa saja yang bisa dilakukan sampai ia sendiri terinfeksi dan meninggal dunia pada usia 56 tahun di Shandong. Di sinilah ia dimakamkan.

Pastor Tan mengatakan: “Orang moderen terhindar dari penderitaan, tetapi Freinademetz tidak takut. Ia meninggalkan zona nyamannya, melakukan banyak pengorbanan dan datang ke negara entah-berantah untuk berkotbah. Semangat misi ini ada berkat cinta kasih.”

St. Freinademetz dibeatifikasi oleh Paus Paulus VI pada 1975 dan dinyatakan sebagai santo oleh Santo Yohanes Paulus II pada 5 Oktober 2003.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi