UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Polisi Filipina Bersedia Mempersenjatai Para imam

Juni 14, 2018

Polisi Filipina Bersedia Mempersenjatai  Para imam

Para pelayat memberikan penghormatan terakhir kepada mendiang Pastor Richmond Villaflor Nilo pada 11 Juni, sehari setelah ia ditembak mati di Nueva Ecija, Filipina bagian utara. (Foto: Basilio Sepe)

Polisi  Filipina telah menyatakan kesediaan  membantu mempersenjatai para imam yang ingin membawa senjata setelah penembakan para imam baru-baru ini.

Kepala kepolisian Filipina Oscar Albayalde mengatakan polisi bersedia memberi para imam cara-cara legal mempersenjatai diri mereka sendiri “jika mereka memintanya dan jika kami berpikir bahwa ada ancaman terhadap hidup mereka.”

Pejabat itu mengatakan bahwa jika anggota klerus memutuskan untuk memiliki senjata api, “kami akan membantu mereka melalui proses (perizinan) agar mereka merasa aman.”

Albayalde mengatakan tidak ada alasan untuk peringatan publik atas penembakan karena mereka “kasus terisolasi.”

Pada 10 Juni, Pastor Richmond Villaflor Nilo ditembak mati oleh orang-orang bersenjata ketika dia akan merayakan Misa di provinsi Nueva Ecija.

Pembunuhan pastor itu terjadi kurang dari seminggu setelah Pastor Rey Urmeneta dari Paroki St. Michael  di Kota Calamba selamat dari serangan oleh dua pria bersenjata.

Pastor Mark Anthony Ventura juga ditembak mati oleh orang-orang bersenjata yang mengendarai sepeda motor pada 29 April setelah mempersembahkan Misa di kota Gattaran di utara.

Pada 4 Desember, orang-orang bersenjata yang mengendarai sepeda motor juga membunuh Pastor Marcelito Paez, seorang pastor paroki di Jaen, provinsi Nueva Ecija.

 

Tidak ada senjata

Meskipun ada serangan, Konferensi Waligereja Filipina menegaskan kembali penolakannya untuk mempersenjatai para imam.

Ketua Konferensi Waligereja Filipina, Mgr Romulo Valles, uskup agung Davao, mengatakan bahwa para imam seharusnya menjadi orang-orang yang damai, bukan pelaku kekerasan.

“Kami adalah pelayan Tuhan, pelayan Gereja dan ini adalah bagian dari pelayanan kami  menghadapi bahaya,  menghadapi kematian,” kata Uskup Agung Valles.

Uskup Auksilier Cebu, Mgr Oscar Florencio, administrator apostolik dari Ordinariat Militer Filipina, mengatakan bahwa para imam yang dipenjatai akan memiliki konsekuensi negatif.

“Ini akan menciptakan lebih banyak kekacauan, itu tidak akan menyelesaikan apa pun,” katanya.

Pembunuhan baru-baru ini mendorong Kardinal Luis Antonio Tagle, uskup agung  Manila mempertanyakan proliferasi senjata api di negara tersebut.

“Mengapa ada begitu banyak senjata di sana?” katanya, ia menambahkan bahwa ada kebutuhan untuk mempelajari ulang kebijakan negara pada produksi, penjualan, pembelian, dan kepemilikan senjata api.

“Mari kita berharap bahwa hari dimana dimasa yang akan datang ketika membeli senjata akan lebih mudah daripada membeli beras,” kata prelatus itu dalam sebuah pernyataan.

 

Motif Pembunuhan

Peneliti melihat ada tiga motif yang mungkin dalam pembunuhan Pastor Nilo, keterlibatannya dalam sengketa tanah, dukungannya untuk korban perkosaan, dan pandangannya terhadap kelompok agama lain.

“Kami masih mengumpulkan bukti dan saksi untuk menetapkan motif,” kata kepala kepolisian wilayah Amador Corpus.

Dia mengatakan setidaknya lima tersangka yang telah diidentifikasi.

Petugas polisi mengatakan Pastor Nilo diketahui sebagai pendukung dari “kelompok yang dirugikan.” Dia mengatakan imam itu juga telah membantu orang-orang yang terlibat dalam sengketa tanah.

Kepala kepolisian Albayalde mengatakan pembunuhan para imam baru-baru ini seharusnya tidak menjadi pengukur untuk situasi kejahatan secara keseluruhan di negara itu.

“Ini adalah kasus yang terisolasi. Tetapi sekali lagi, pembunuhan ini tidak boleh diabaikan,” katanya.

Di Senat, Senator Risa Hontiveros mengajukan resolusi untuk keterlibatan kongres ke dalam penyelidikan pembunuhan.

“Apakah ada upaya sistematis untuk membunuh para imam Katolik yang kritis terhadap pemerintah?” tanya sang senator, ia menambahkan bahwa dia berpikir pembunuhan bukanlah insiden  terpisah.

Dia mencatat bahwa serangan verbal yang dibuat oleh Presiden Rodrigo Duterte pada pemimpin Gereja Katolik yang kritis terhadap pemerintahan Duterte.

“Pembunuhan yang terus-menerus akan memperkuat budaya impunitas untuk membungkam kritik yang dilakukan pimpinan Gereja yang sah pada kebijakan-kebijakan negara, terutama yang berkaitan dengan hak asasi manusia dan proses hukum?” kata Hontiveros.

Dia mengatakan serangan verbal presiden terhadap para imam dan “sikap acuhnya” terhadap pembunuhan itu “dapat mengilhami lebih banyak pembunuhan para imam dan tindakan kekerasan lainnya pada anggota komunitas agama.”

One response to “Polisi Filipina Bersedia Mempersenjatai Para imam”

  1. Jenny Marisa says:

    Bukan urusan imam.. kriminalitas harus dapat dikendalikan oleh pemerintah.. bukan oleh imam bersenjatapun..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi