UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Para Suster Myanmar Bantu Anak-anak  Buddha Miskin

Juni 18, 2018

Para Suster Myanmar Bantu Anak-anak  Buddha Miskin

Suster Deborah Ann menjaga anak-anak ketika mereka belajar di stempat penitipan anak St. George di Hpa-an, ibukota negara bagian Kayin, pada 25 Mei. (Foto: ucanews.com)

Sebagai seorang pimpinan biara di Negara Bagian Kayin, Myanmar, rutinitas harian Suster Deborah Ann diantaranya  memimpin sekolah keperawatan, memimpin anak-anak putri yang tinggal di asrama sekolah, menyediakan makanan, membantu pekerjaan imam dan bergabung dalam persekutuan doa.Tetapi, Suster Deborah dari Konggregasi Santo Fransiskus Xaverius juga ikut meluncurkan  tempat penitipan anak sebagai pembuka jalan bagi keterlibatan dan dialog yang lebih besar dengan orangtua  beragama Buddha.

St. George’s Nursery, nama tempat penitipan anak itu,  terletak di sebuah lingkungan mayoritas Bugdha yang hanya lima menit berjalan kaki dari biara, sebuah lingkungan yang tenang di Hpa-an, ibukota negara bagian itu.

Saat kunjungan baru-baru ini, dua guru terlihat membawakan lagu-lagu bersama  30 anak di gedung satu lantai itu.

Suster Deborah mengatakan, para biarawati mengundang semua orangtua ke pesta Natal tempat  penitipan anak itu setiap tahun.

“Ini adalah cara untuk membangun dialog antaragama melalui interaksi dengan mereka,” katanya.

Biarawati itu mengatakan tempat penitipan anak ini terbuka bagi semua anak kecil tanpa memandang ras atau agama mereka.

Dia mengatakan bahwa orangtua Buddha tidak memiliki prasangka atau perasaan negatif tentang biarawati Katolik, yang pada umumnya dihormati karena perbuatan baik dan kerja keras mereka.

“Orangtua Buddha memiliki kesan yang baik tentang para biarawati karena Gereja telah berperan penting dalam pendidikan di Myanmar,” kata Suster Deborah, seorang etnis Kayin, kepada ucanews.com.

Dia mengatakan tempat penitipan anak ini, sesuai peraturan, menerima anak-anak berusia 3 tahun dan lebih tua tetapi beberapa orangtua bertanya apakah mereka dapat mengirim balita mereka.

“Kami biasanya tidak bisa menolak permintaan mereka karena mereka sangat ingin mengirim anak-anak mereka ke sini,” tambahnya.

Untuk biaya sekolah, para biarawati mengumpulkan 10.000 kyat (Rp 105.000) per bulan. Kamar bayi cukup untuk 50 anak setahun sejak dibuka enam tahun lalu.

Empat suster  berbagi tugas dengan membantu di sekretariat paroki, mengajar di kelas anak-anak, memimpin anak-anak di asrama sekolah, mendekorasi gereja dan kegiatan paroki lainnya.

Suster Deborah ditugaskan  di Hpa-an tiga tahun lalu. Dia mengatakan dia siap “melayani di mana pun dia diutus dan mengerjakan apa pun yang diminta.”

Katedral St. Fransiskus Xaverius terletak di samping tempat tinggal para biarawati, pastor dan uskup setempat di sebuah kota mayoritas Buddha itudi mana sekitar 200 umat Katolik tinggal. Mereka kebanyakan adalah pegawai pemerintah dan perusahaan.

Di Kayin, umat Kristen adalah  9,5 persen dari 1,5 juta penduduk negara bagian itu, termasuk sekitar 20.000 umat Katolik. Umat ​​Buddha merupakan bagian terbesarnya, atau 84,5 persen,  Islam hanya 4,6 persen dan Hindu hanya 0,6 persen, menurut sensus tahun 2014.

Namun, ada banyak keluarga miskin di wilayah ini yang tidak mampu membiayai pendidikan yang layak untuk anak perempuan mereka, dan di sinilah sekolah asrama yang disponsori Gereja berperan penting.

“Tujuan Gereja adalah  membantu memberi mereka pendidikan formal, terutama anak-anak dari keluarga yang membutuhkan karena banyak yang tidak mampu mengirim semua anak mereka ke sekolah-sekolah di desa mereka masing-masing,” kata Suster Deborah.

Tahun lalu, sekolah menerima 89 siswa dari berbagai latar belakang – Buddha, Katolik, Baptis, dan Anglikan.

Keluarga masing-masing perlu membayar 150.000 kyat (Rp 1.554.000) per tahun untuk makanan, alat tulis dan kebutuhan lainnya. Keuskupan Hpa-an juga menyediakan dukungan keuangan.

Anak-anak putri itu  berusia 12-18 tahun dan berasal dari beberapa negara bagian termasuk Hlaingbwe, Kamamaung dan Myawaddy. Beberapa siswa yang lebih tua telah lulus ujian matrikulasi dan juga mengikuti kursus komputer, menjahit dan bahasa Inggris.

Saat ini, hanya ada dua sekolah menengah dan empat sekolah dasar yang dikelola oleh Gereja Katolik di negara tersebut.

Namun, biarawati itu juga membuka 300 rumah kos di paroki-paroki di 16 keuskupan yang menyediakan anak-anak tempat tinggal dan kelas tambahan. Mereka yang hadir kebanyakan berasal dari desa setempat dan terdaftar di sekolah-sekolah negeri.

Keuskupan Hpa-an memiliki 24 imam, 37 pekerja religius pria dan wanita dan 73 katekis melayani sekitar 20.000 umat Katolik, demikian menurut buku petunjuk Gereja Myanmar.

Catatan Gereja menunjukkan bahwa Mgr Alexandre Cardot, uskup agung Yangon (sebelumnya dikenal sebagai Rangoon), yang melayani Masyarakat Misi Asing Paris, mendirikan Kongregasi Suster-Suster Santo Fransiskus Xaverius tahun 1897.

Paus Paulus VI memberikan status keuskupan kepada kongregasi  setempat tahun 1964.

Sekarang tarekat  ini memiliki 432 suster di 14 keuskupan yang mengajarkan katekismus dan membantu berbagai tugas Gereja termasuk membantu uskup, melaksanakan tugas pastoral, memberikan pendidikan dan membantu perawatan kesehatan dasar.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi