UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Seorang Lansia Katolik Berdoa untuk Gereja Baru di Myanmar

Juni 22, 2018

Seorang Lansia Katolik  Berdoa untuk Gereja Baru di Myanmar

Maria Tin Tin Da, 89, duduk di dalam rumahnya di desa Yathaepyan di Myanmar pada 25 Mei. (Foto: ucanews.com)

Hari itu langit berawan dan  lembab di penghujung Mei,  Maria Tin Tin Da, 89, menatap ke gereja terdekat dari jendela rumahnya dan kemudian dengan perlahan berjalan dan duduk di lantai.

“Saya merasa lelah dan kadang-kadang sangat pusing sehingga saya tidak dapat berbicara banyak,” bisik Tin Tin, yang keluarganya adalah satu-satunya Katolik di desanya di Myanmar yang mayoritas beragama Buddha.

Kisah rumah kayu dua wanita dari etnis Tamil ini sangat dekat dengan gereja Katolik St. Johannes de Britto yang rusak, yang sudah tidak digunakan selama bertahun-tahun.

“Setiap kali saya bertemu dengan para imam dan biarawati, saya memohon kepada mereka untuk membantu membangun gereja baru karena itu adalah harapan terakhir saya sebelum saya meninggal,” kata Tin Tin.

Dia tinggal di desa Yathaepyan, Negara Bagian Kayin.  Lebih dari 5.000 orang tinggal di desa yang hanya berjarak 10 kilometer dari ibu kota negara bagian Hpa-an.  Desa ini memiliki sekolah menengah yang dikelola pemerintah dan klinik kecil.  Sebagian besar penduduk bertahan hidup dengan menjadi petani sawah.

Karena Tin Tin tidak dapat berjalan jauh, seorang imam mengunjunginya untuk memberi Komuni  setidaknya sebulan sekali.

“Saya selalu berdoa Rosario di rumah karena saya sudah tidak dapat menghadiri Misa selama lima tahun terakhir ini,” katanya sambil mengambil minuman dingin.

Dia mengatakan tetangganya beragama Buddha secara teratur mengunjungi rumahnya. “Saya tetap mempertahankan iman saya dan tidak pernah merasa sedih meskipun satu-satunya keluarga Katolik di kalangan tetangga Buddha,” ibu dari empat anak itu mengatakan kepada ucanews.com.

Tin Tin memiliki hubungan baik dengan keluarga Buddha, yang juga berpartisipasi dalam perayaan hari raya Katolik tahunan. “Saya senang tinggal di sini dan tidak pernah bertengkar dengan tetangga Buddha saya,” katanya.

Umat Katolik ingin membangun kembali Gereja St. Johanes de Britto yang telah rush ini. (Foto: ucanews.com)

 

Tin Tin tinggal sendirian di rumahnya saat  putra kedua dan keluarganya tinggal di tempat lain di desa. Dia pindah ke Yathaepyan dari desa Hton-Bo-Quay 54 tahun  lalu setelah menikah.

Hton-Bo-Quay, 25 kilometer dari Hpa-an, memiliki sekitar 700 umat Katolik Tamil. Orang Tamil sudah tinggal di sana sejak 1823, menurut catatan Gereja. Mereka menanam padi dan hewan di belakang rumah untuk penghidupan mereka.

Di Yathaepyan, pintu Gereja St. Johannes de Britto rusak dan pepohonan tumbuh di samping bangunan lusuh.  Patung St. Johannes de Britto (1647-93), seorang misionaris Jesuit Portugis di Tamil Nadu, India selatan, tetap berada di dalam gereja. Dia dipenggal karena mewartakan ajaran Kristen.

Pastor Edward Aye Min Htun, pastor paroki, mengatakan bahwa umat Katolik dari Hton-Bo-Quay turut mengambil bagian dalam hari raya Santo Johanes de Britto di Yathaepyan pada 4 Februari setiap tahun. Gereja terlalu kecil untuk menampung ratusan umat Katolik untuk Misa, jadi perayaan diadakan di luar.

Pastor Htun, yang dipindahkan ke paroki ini  tahun 2015, mengatakan gereja belum digunakan selama bertahun-tahun kecuali untuk hari raya paroki dan pada Hari Raya Peringatan Arwah Semua  Orang Beriman.

“Membangun gereja baru terutama tergantung pada hubungan antara umat Katolik dan mayoritas umat Buddha. Jika mereka (Buddha) tidak menentangnya, kita dapat membangunnya melalui kontribusi lokal,” kata Pastor Htun.

Fransiskus, putra kedua Tin Tin, ingat tiga keluarga Katolik yang tinggal di Yathaepyan, sekitar 40 tahun  lalu sebelum mereka pindah ke daerah lain.

“Umat Buddha berpartisipasi dalam perayaan Gereja dan kedua belah pihak saling membantu dalam upacara pemakaman,” kata Fransiskus, mantan tentara militer Myanmar yang meninggalkan Yathaepyan pada 2007 karena masalah kesehatan. “Kami ingin membangun gereja baru tetapi kami tidak dapat membangunnya sendiri karena kami adalah petani.”

Gereja St. Johannes de Britto dibangun dengan beton  tahun 1935 setelah bertahan dengan susunan kayu selama lebih dari tujuh dekade.

Sebuah patung  misionaris Yesuit Portugis  St. Johanes de Britto tetap berdiri Utah di dalam gereja. (Foto: ucanews.com)

 

Umat ​​Katolik Tamil dari Hton-Bo-Quay pindah ke Yathaepyan  tahun 1954 setelah desa mereka dibakar karena konflik. Mereka kembali ke rumah mereka  tahun 1956 ketika situasi menjadi stabil.

Negara Bagian Kayin adalah wilayah yang dilanda konflik yang telah mengalami perang saudara selama lebih dari 60 tahun. Uni Nasional Karen telah berperang dengan militer Myanmar sejak negara itu memperoleh kemerdekaan dari Inggris tahun 1948.

Warga Tamil adalah penduduk asli Negara Bagian Tamil Nadu,  India selatan, serta negara pulau Sri Lanka yang berdekatan.

Orang-orang Tamil, yang dibawa ke Myanmar oleh kolonial Inggris, terdiri dari sekitar 2 persen dari populasi Myanmar yang berjumlah 51 juta. Umat ​​Katolik Tamil diperkirakan berjumlah sekitar 50.000. Banyak orang Tamil dipaksa untuk melarikan diri dari kediktatoran militer setelah kudeta Jenderal Ne Win  tahun 1962.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi