UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Filipina Menahan 1 Misionaris, Mencegah 2 Misionaris Pulang 

Juni 27, 2018

Filipina Menahan 1 Misionaris, Mencegah 2 Misionaris Pulang 

Misionaris dari Gereja Metodis Bersatu, Tawanda Chandiwana (kiri) dan Adam Thomas Shaw tengah melakukan perjalanan ke Mindanao pada Februari lalu. (Foto: Manila Today)

Sebuah kampanye global diluncurkan pekan ini untuk membebaskan seorang misionaris dari Gereja Metodis Bersatu yang ditahan di Manila pada Mei lalu dan dua misionaris lainnya yang tidak diijinkan meninggalkan negara itu.

Kampanye itu berupa “Pray to #LetThemLeave” (Doa untuk #BiarkanMerekaPergi), sebuah petisi online di change.org yang terkait dengan seruan untuk mendaraskan doa pada siang hari dari lembaga Gereja Protestan tersebut di Amerika Serikat (AS).

Gereja Protestan itu tengah meminta otoritas Filipina untuk membebaskan Tawanda Chandiwana dari Zimbabwe yang ditangkap di Kota Davao pada 9 Mei saat ia mengikuti sebuah seminar.

Dua misionaris lainnya – Miracle Osman dari Malawi dan Adam Thomas Shaw dari AS – dilarang meninggalkan Filipina dan nama mereka masuk dalam “daftar pemantauan” karena diduga bersikap subversif.

Chandiwana dan Osman adalah anggota Global Mission Fellows yang dikirim oleh Gereja Metodis Bersatu untuk berkarya selama 20 bulan dalam upaya memperkuat perdamaian serta melakukan advokasi hak asasi manusia (HAM) dan karya sosial.

Shaw adalah mantan anggota Global Mission Fellows di Filipina yang menjadi misionaris global bersama Gereja Metodis Bersatu.

Dalam sebuah pernyataan pastoral yang dikeluarkan pada Selasa (26/6), lembaga Gereja di Manila itu mengaku “sangat prihatin dengan berbagai aksi yang dilakukan pemerintah terhadap para misionaris asing.”

Seorang misionaris asal Australia, Suster Patricia Fox dari Kongregasi Puteri-Puteri Bunda Maria dari Sion, juga menghadapi deportasi karena berpartisipasi dalam sebuah “misi pencarian fakta.”

Kantor Imigrasi menyita paspor milik Osman saat ia mengajukan perpanjangan visa turis dan menunggu persetujuan visa misionaris.

Shaw diberitahu bahwa sebuah perintah untuk meninggalkan negara itu akan dikeluarkan karena namanya ada dalam daftar pemantauan Kantor Imigrasi.

Berbagai aksi terhadap para misionaris dilakukan setelah mereka bergabung dengan sebuah misi pencarian fakta dan kemanusiaan internasional pada Februari lalu untuk menyelidiki dugaan pelanggaran HAM di Mindanao.

Namun laporan dari Badan Koordinasi Intelijen Nasional mengatakan para misionaris itu mengikuti kegiatan yang disponsori oleh sebuah “organisasi teroris komunis.”

Uskup Ciriaco Francisco dari Wilayah Episkopal Manila mengatakan kepada ucanews.com bahwa tuduhan terhadap para misionaris itu dibuat berdasarkan laporan intelijen.

“Kantor Imigrasi membenarkan aksinya karena laporan itu, seraya mengatakan bahwa para misionaris kami berpartisipasi dalam sebuah kegiatan yang diduga disponsori oleh sebuah organisasi teroris komunis,” katanya.

Surat pastoral dari Gereja Protestan di Manila menyebutkan bahwa klaim dari badan intelijen pemerintah itu “aneh dan jelas tidak memiliki landasan faktual.”

“Kegiatan (itu) dilakukan sebagai karya misi yang dilakukan oleh Shaw dan Chandiwana,” demikain pernyataan dari Gereja Metodis di Filipina.

“Partisipasi mereka dalam (misi pencarian fakta) sesuai dengan doktrin Gereja Metodis Bersatu,” lanjut pernyataan itu.

Kelompok Gereja Protestan menegaskan bahwa para misionaris itu “tidak melakukan perbuatan yang melanggar hukum.”

Thomas Kemper, sekretaris umum Dewan Umum Pelayanan Global dari Gereja Metodis, mengatakan para misionaris itu berusaha meninggalkan negara itu “tetapi dihalangi oleh birokrasi yang rumit.”

“Yang mereka inginkan hanya pulang,” kata Kemper dalam sebuah pernyataan yang dikirim kepada ucanews.com.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi