UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Gereja Bantu Korban Tenggelamnya  Kapal Feri di Danau Toba

Juni 28, 2018

Gereja Bantu Korban Tenggelamnya  Kapal Feri di Danau Toba

Para anggota keluarga penumpang yang berada di kapal fery yang tenggelam di Danau Toba menungggu berita tentang anggota keluarga mereka yang hilang.

Gereja Katolik dan Protestan telah bergerak cepat untuk memberikan bantuan dan konseling bagi mereka yang selamat dan keluarga mereka yang meninggal atau yang diduga tewas setelah kapal yang kelebihan muatan  tenggelam  di Danau Toba, Sumatra Utara, pekan lalu.

Pastor  Markus Manurung OFMCap, direktur Caritas Keuskupan Agung Medan, Sumatra Utara, mengatakan kepada ucanews.com bahwa mereka bergerak cepat untuk memberikan bantuan setelah  penumpang kapal Sinar Bangun tenggelam di  danau itu akibat cuaca buruk.

Tiga penumpang dikonfirmasi tewas, 19 selamat, sementara 184 orang lainnya masih hilang, dan diduga telah tewas.

Tim penyelamat mengatakan, pada 25 Juni bahwa mereka  telah menemukan kapal itu di kedalaman  450 meter  di mana kapal itu tenggelam. Drone bawah air akan dikirim untuk mengkonfirmasi temuan, kata mereka.

Juga diyakini bahwa sebagian besar penumpang yang hilang masih berada di dalam kapal tersebut.

Kapal Sinar Bangun tenggelam pada 18 Juni bersama  lebih dari 200 penumpang arena membrana beban melebihi  kapasitas resmi 43 penumpang.

Kapal itu tidak berlisensi dan juga berlayar tanpa manifes penumpang, menurut polisi.

Pastor Manurung mengatakan bahwa paroki-paroki  di dekat Danau Toba saat ini bekerjasama dengan Gereja-gereja Protestan setempat  memberikan konseling kepada keluarga korban.

“Mereka juga menyumbang makanan dan bantuan lainnya,” katanya.

Sementara itu Kementerian Sosial mengatakan akan menyalurkan  bantuan Rp 15 juta kepada  keluarga dari masing-masing korban.

Pastor Manurung juga menuduh pihak berwenang juga patut disalahkan dan bertanggungjawab atas tragedi kapal itu.

Tidak ada yang telah dilakukan selama beberapa dekade untuk berupaya  mencegah sesuatu terjadi seperti ini, katanya.

Imam itu mengatakan tidak ada prosedur operasi  dan kapal tidak dimonitor dan diperiksa secara rutin.

“Penumpang tidak mengetahui prosedur keamanan sehingga mereka menganggap semuanya telah beres dan menggunakan kapal tersebut untuk perjalanan mereka,” kata imam itu

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi