UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Kelompok Religius Vietnam Kecam Tindakan Brutal Terhadap Demonstran

Juni 28, 2018

Kelompok Religius Vietnam Kecam Tindakan Brutal  Terhadap  Demonstran

Para aktivis Vietnam menunjukkan poster-poster saat demonstrasi menandai Hari Internasional Mendukung Korban Penyiksaan di Hanoi pada 26 Juni. (Foto: Nguyen Vu Binh)

Kelompok-kelompok  religius dan pembela hak asasi manusia Vietnam menandai Hari Internasional untuk Mendukung Korban Penyiksaan dengan mengkritik polisi atas tindakan brutal mereka terhadap para demonstran.

Sekitar 200 pria dan wanita ditangkap dan ditahan berjam-jam oleh polisi dan pasukan keamanan di sebuah pusat olahraga di Kota Ho Chi Minh pada 17 Juni. Mereka diduga berdemonstrasi  menentang undang-undang (UU) keamanan siber yang baru disahkan dan rancangan undang-undang (RUU)  kontroversial tentang pembentukan tiga zona ekonomi khusus baru.

Kelompok-kelompok itu mengatakan polisi dengan kejam menggeledah tas para demonstran, mengambil paksa ponsel dan surat-surat pribadi mereka, dan menuduh mereka berdemonstrasi  tanpa  izin yang mengganggu ketertiban umum.

Nguyen Thanh Loan, seorang Katolik, mengatakan suaminya dipukuli hingga pingsan oleh polisi berpakaian preman. Dia meminta polisi mengembalikan ponselnya sehingga dia dapat menelpon  keluarganya untuk membantu merawat dia di rumah sakit, tetapi mereka menolak. Polisi juga meninggalkan suaminya di rumah sakit tanpa membayar biaya.

Loan, yang suaminya masih dalam kondisi kesehatan buruk, mengatakan dia meminta beberapa orang  menghentikan seorang pria muda mengikutinya ketika dia sedang mengendarai sepeda motor pada malam hari pada 25 Juni di Kota Ho Chi Minh. Pria itu mengambil foto dirinya dan mengatakan kepadanya bahwa dia telah melihatnya karena telah melakukan kejahatan.

“Saya tidak melakukan kejahatan apa pun. Saya hanya turun ke jalan untuk memprotes invasi Cina,” kata Loan, seraya menambahkan bahwa polisi belum mengembalikan dokumen pribadi kepada dia dan suaminya sejak 17 Juni  lalu.

Kelompok-kelompok itu mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa polisi melakukan tindakan sewenang-wenang dan melanggar hukum secara paksa dengan menangkap dan menahan para pengunjuk rasa damai.

Pernyataan yang dikeluarkan pada 26 Juni itu untuk menandai Hari Internasional Mendukung Korban Penyiksaan, mengatakan tindakan polisi menunjukkan bahwa “pemerintah komunis otoriter memperlakukan warganya seperti binatang atau musuh.”

Kelompok ini juga menuduh Majelis Nasional dengan sengaja tidak mengeluarkan UU  demonstrasi, meskipun hak untuk protes damai dibenarkan  UU.

“Demonstrasi adalah hak dan kewajiban warga yang harus digunakan  dan menuntut kebutuhan dan aspirasi mereka sebagai pemilik negeri ini,” demikian pernyataan yang ditandatangani oleh 19 tokoh Katolik, Buddha, kelompok pro demokrasi, masyarakat sipil serta 42 aktivis dan intelektual.

Kelompok-kelompok itu mengatakan pemerintah seharusnya tidak menindak  para demonstran, yang penting tetap menciptakan suasana politik yang sehat dan demokratis dan kesempatan yang baik bagi warga untuk mengekspresikan patriotisme mereka.

Pemerintah harus melihat dampak mengerikan bagi negara yang ditimbulkan oleh UU  keamanan siber dan RUU zona ekonomi khusus.

Mereka juga meminta para korban untuk menuntut pasukan keamanan atas tindakan brutal mereka di pengadilan domestik dan internasional.

Pastor Peter Phan Van Loi, mantan anggota kelompok narapidana Vietnam, mendesak  warga  menandatangani pernyataan tersebut yang mengutuk pelecehan dan penyiksaan oleh polisi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi