UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Para Uskup Filipina Mengajak Umat Katolik Berdoa Bagi Duterte

Juni 29, 2018

Para Uskup Filipina Mengajak Umat Katolik Berdoa Bagi Duterte

Umat Katolik di provinsi Pangasinan, Filipina bagian utara, mengadakan pawai pada 18 Juni menyusul pembunuhan sejumlah imam. (Foto: Karl Romano)

Para uskup   Filipina mengajak umat Katolik  berdoa bagi Presiden Rodrigo Duterte agar dia dapat “disembuhkan dan diampuni” dan tidak melibatkannya lagi dalam perang kata-kata setelah dia menyebut Tuhan “bodoh.”

Mgr Agung Socrates Villegas, uskup agung Lingayen-Dagupan, seorang kritikus vokal presiden, mengatakan pada 27 Juni bahwa Duterte “bisa menjadi korban dari masa lalunya yang penuh bekas luka dan latar belakangnya yang terluka.”

“Dia pasti telah menerima banyak penolakan dan terluka di masa lalu sehingga dia melontarkan begitu banyak kebencian dan kecemasan sekarang,” kata mantan ketua  konferensi waligereja  Filipina itu.

“Jika dia sangat dicintai, dia akan memberikan begitu banyak cinta,” tambah Uskup Agung Villegas.

Dalam beberapa pernyataan, Duterte mengklaim bahwa dia adalah korban pelecehan oleh seorang imam selama masa kecilnya.

Awal minggu ini, dia menyebut Tuhan “bodoh” dan mengolok-olok kisah penciptaan dalam Alkitab.

Sebuah pernyataan dari istana kepresidenan yang membela pernyataan Duterte, mengatakan bahwa itu berasal dari pengalaman buruknya dengan para imam.

Namun, Uskup Agung Villegas mengatakan bahwa sementara orang Filipina berdoa untuk penyembuhan dan  pengampunan Tuhan, ada kebutuhan untuk menegur sang presiden atas kesalahannya tentang iman Kristen.

“Dia adalah orang yang berwenang dan beberapa dari Anda mungkin akan bingung ketika Anda mendengarnya,” katanya.

Mgr Pablo Virgilio David, uskup Kalookan, wakil ketua  Konferensi Waligereja Filipina, mengatakan bahwa bahkan jika Duterte tidak setuju dengan ajaran Gereja, dia tidak punya hak untuk menghina.

“Ketidaksetujuan tidak pernah menjadi alasan untuk menghina,” kata prelatus itu. “Bagaimana dia bisa menjadi presiden semua orang Filipina ketika dia tidak menghormati umat Katolik?” tambahnya.

Uskup David mengatakan umat Katolik menghormati peran dan mandat presiden. “Kami hanya bisa berharap bahwa dia menunjukkan rasa hormat yang sama kepada umat Katolik,” katanya.

 

Seruan Kardinal Tagle untuk tenang

Kardinal Luis Antonio Tagle, uskup agung Manila juga mengeluarkan pernyataan yang mendorong orang untuk tidak terusik oleh pernyataan Duterte yang mempertanyakan Tuhan dan cara-cara Tuhan.

“Tenanglah. Tenanglah. Jangan biarkan hal-hal mengusik kedamaian batin Anda. Mari kita baca situasi dengan mata iman,” kata kardinal dalam pernyataan yang ditujukan kepada para imam.

“Sementara pertanyaan-pertanyaan ini sangat penting … janganlah kita mengalihkan perhatian dari penyelesaian masalah mendesak lainnya dengan semangat iman dan cinta,” tulis Kardinal Tagle.

Di antara isu-isu mendesak yang disebutkan oleh prelatus adalah kenaikan harga, keamanan pekerjaan, eksploitasi perempuan dan anak-anak, kekerasan, kejahatan, terorisme dan korupsi.

“Mereka yang tidak percaya pada Tuhan harus melayani bertolak pada rasa hormat pada kemanusiaan, kemurahan hati, dan kepedulian manusia terhadap sesama,” katanya.

Kardinal Tagle mendesak umat Katolik “berusaha menghormati mereka yang berbeda dari keyakinan mereka,” seraya menambahkan bahwa agama “tidak boleh digunakan untuk konflik tetapi untuk saling pengertian dan perdamaian.”

Istana kepresidenan menyambut baik pernyataan kardinal itu.

Juru bicara kepresidenan Harry Roque Jr. mengatakan, Duterte harus diberikan kebebasan beragama yang sama yang ia izinkan semua orang Filipina untuk nikmati.

“Kita tahu bahwa kita memiliki keyakinan yang berbeda, itulah mengapa kita harus menghormati perbedaan-perbedaan diantara kita,” kata Roque, seraya menambahkan bahwa presiden telah menyerukan dialog dengan para pemimpin Gereja.

Dia kemudian mengumumkan penunjukan Sekretaris Kabinet Leoncio Evasco Jr., mantan pastor Katolik, ke sebuah komite yang ditugasi mengadakan dialog dengan berbagai Gereja.

Juru bicara itu mengatakan tujuan Duterte dalam melakukan dialog itu adalah mendorong kerjasama dalam kampanye melawan korupsi, obat-obatan terlarang, dan kemiskinan.

“Presiden benar-benar mengharapkan hubungan kerja yang lebih baik dengan Gereja Katolik,” kata Roque, seraya menambahkan bahwa Duterte menentang perceraian, aborsi, dan pernikahan sesama jenis.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi