UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Paus: Iman Dihidupi oleh Rasa Syukur, Bukan Kerja Layaknya Budak  

Juni 29, 2018

Paus: Iman Dihidupi oleh Rasa Syukur, Bukan Kerja Layaknya Budak  

Paus Fransiskus berfoto bersama sekelompok migran di Lapangan St. Petrus di Vatikan di akhir audiensi umum pada 27 Juni. (Foto: Vincenzo Pinto/AFP)

Allah selalu mencintai dan terlebih dahulu memberi dengan penuh kemurahan hati sebelum meminta kesetiaan akan semua perintah-Nya yakni perkataan dari seorang Bapa yang penuh kasih yang menunjukkan kepada umat manusia jalan yang benar untuk menjalani kehidupan, kata Paus Fransiskus.

“Hidup Kristiani merupakan respon penuh syukur kepada seorang Bapa yang murah hati,” bukan pemenuhan yang dipaksakan dan tanpa kegembiraan atas serangkaian kewajiban, kata Paus Fransiskus pada Minggu (27/6) dalam audiensi umumnya di Lapangan St. Petrus.

Audiensi umum tersebut merupakan yang terakhir sebelum jeda sejenak selama bulan Juli.

Sebelum mengelilingi lapangan dengan mobil Paus, seraya menyapa para pengunjung, Paus Fransiskus bertemu orang sakit dan tidak berdaya yang duduk di aula Paulus VI yang difasilitasi AC. Di sana mereka bisa dengan nyaman mengikuti katekese di lapangan dari sebuah layar video yang besar.

Saat menyapa kerumunan umat, Paus Fransiskus mengatakan kepada sekelompok peziarah di Roma yang dipimpin oleh Inisiatif Orang Muda Katolik untuk Amerika bahwa setiap Paus dan “Tuhan mempunyai sebuah tempat khusus di hati-Nya bagi siapa saja yang menderita cacat.”

Paus Fransiskus juga menyambut perwakilan Olimpiade Khusus dan menyalakan obor dari api Olimpiade Khusus, seraya mengatakan: “Saya berdoa agar api Olimpiade ini menjadi tanda kegembiraan dan pengharapan akan Tuhan yang memberikan anugerah persatuan dan perdamaian atas anak-anak-Nya.”

Kemudian Paus Fransiskus melanjutkan serangkaian pembicaraan audiensi baru tentang 10 Perintah Allah dengan merenungkan bagaimana Allah membebaskan umat-Nya dari perbudakan di Mesir, kemudian mengungkap perintah-perintah itu kepada Musa.

“Allah tidak pernah meminta tanpa memberi terlebih dahulu. Ia menyelamatkan terlebih dahulu, lalu meminta” kesetiaan atas perintah-perintah-Nya, yakni “perkataan penuh kasih dari seorang Bapa” kepada anak-anak-Nya sehingga mereka bisa menjalani kehidupan melalui jalan yang benar.

Ini adalah “rahasia” pendekatan Kristiani, yakni pendekatan Yesus – untuk mengetahui bahwa seseorang itu dicintai oleh seorang Bapa dan kemudian untuk mencintai sesama, kata Paus Fransiskus.

Yesus “tidak mulai dengan diri-Nya sendiri, melainkan dengan Bapa,” lanjut Paus Fransiskus.

Proyek atau upaya gagal jika berakar dalam keegoisan, bukan dalam “rasa syukur kepada Tuhan, kata Paus Fransiskus.

Landasan akan segala sesuatu yang dilakukan oleh seorang Kristiani bukan berdasarkan pada kewajiban: “Saya harus melakukan ini, ini, ini … ,” kata Paus Fransiskus.

“Bukan. Landasan akan tugas ini adalah cinta akan Allah, Bapa, yang terlebih dahulu memberi dan kemudian memerintah,” kata Paus Fransiskus. Ini merupakan situasi berdasarkan sebuah hubungan dan pengalaman personal antara Bapa dan anak.

“Mendahulukan hukum dari hubungan itu tidak membantu perjalanan iman. Bagaimana mungkin seorang anak muda ingin menjadi Kristen jika kita mulai dengan kewajiban, tugas, konsistensi dan bukan dengan pembebasan?”

“Menjadi Kristiani merupakan perjalanan akan pembebasan. Perintah-perintah itu membebaskan kalian dari sikap memikirkan diri sendiri, dan perintah-perintah itu membebaskan kalian karena ada cinta Allah sehingga kalian bisa terus maju.”

Pembinaan Kristiniani bukan tentang tekad, tetapi tentang membuka diri akan keselamatan dan membiarkan seseorang untuk dicintai, katanya.

Paus Fransiskus mengatakan penting bagi umat manusia untuk bertanya pada diri mereka sendiri: “Berapa banyak hal indah yang Allah telah lakukan kepada saya?” Sambil mengakui bahwa semua anugerah ini “membebaskan kita,” katanya.

Namun bisa juga terjadi, kata Paus Fransiskus, bahwa umat manusia tidak mengalami pembebasan ini dan mereka masih menghidupi iman mereka dari kewajiban – sebuah spiritualitas yang dihidupi “seperti budak” dan bukan seperti anak-anak Allah.

Jika itu masalahnya, kata Paus Fransiskus, umat manusia harus berteriak kepada Allah untuk perjalanan hidup mereka sendiri.

“Kita tidak diselamatkan oleh diri kita sendiri, tetapi kita bisa mulai dengan meminta bantuan, ‘Tuhan, selamatkan saya. Tuhan, tunjukkan jalan kepada saya. Tuhan, sentuh saya. Tuhan, beri saya sedikit kegembiraan.’”

Semua tergantung pada seseorang apakah akan meminta bantuan, meminta pembebasan dari keegoisan, dosa dan ikatan perbudakan, kata Paus Fransiskus. “Permintaan ini penting, ini adalah doa, ini adalah kesadaran akan apa yang masih ditindas dan belum dibebaskan dalam diri kita.”

Allah sedang menunggu untuk mendengar permintaan umat-Nya akan pembebasan dan keselamatan. “Ia ingin menghancurkan rantai kita. Allah tidak meminta kita untuk menjalani hidup agar tetap ditindas, tetapi untuk dibebaskan dan hidup dengan penuh rasa syukur, menikmati kegembiraan yang hanya Tuhan bisa berikan kembali, katanya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi