UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Anak-anak  Thailand Terlibat Dalam Daur Ulang Sampah

Juli 4, 2018

Anak-anak  Thailand Terlibat Dalam Daur Ulang Sampah

Anak-anak Bangkok menimbang tas berisi sampah daur ulang sebagai bagian dari upaya Mercy Center untuk mendorong anak-anak bertanggung jawab terhadap lingkungan. (Foto: Tibor Krausz/ucanews.com)

Setiap pagi, sebelum pelajaran  dimulai, rutinitas yang sama dilakukan di 22 TK yang dioperasikan oleh Human Development Foundation, sebuah badan amal Katolik untuk anak-anak yang tinggal di komunitas  kurang beruntung di sekitar Bangkok.

Anak-anak berkemeja putih  berbaris di depan tempat penampungan, membawa kantong plastik besar.

Seorang guru mengukur berat setiap tas dan dengan cermat mencatatnya dalam buku catatan. Dalam kantong itu ada botol plastik kosong dan  sampah daur ulang  yang dikumpulkan anak-anak sehari sebelumnya di rumah mereka dan sekitar lingkungan mereka.

“Kami memberi tahu mereka bagaimana memilah sampah plastik dan mereka kemudian mengambil barang-barang yang dapat didaur ulang dari tempat sampah di rumah dan di jalan,” kata Prapa Wisedrit, seorang guru TK yang bekerja untuk badan amal itu dan mengawasi daur ulang di sekolah untuk 2.500 siswa, mereka berusia antara 3 hingga 7 tahun.

“Beberapa anak berjuang dengan tas besar (barang daur ulang) yang mereka bawa ke sekolah,” tambahnya. “Mereka mengambil tugas mengumpulkan barang daur ulang dengan serius.”

Salah satu dari anak-anak itu adalah Prom, seorang bocah berusia 6 tahun yang membawa  6 kg sampah plastik.

“Kemarin saya pergi ke lapangan sepak bola dan mengumpulkan banyak botol kosong. Kita perlu menggunakan kembali dan mendaur ulang,” katanya, mengulangi slogan yang telah ia pelajari dari para pengajarnya di  Mercy Center Foundation di mana dia menghadiri prasekolah.

“Menggunakan kembali dan mendaur ulang” adalah pelajaran bagi sebagian besar orang Thailand lainnya, baik muda maupun tua, sebaiknya belajar juga. Sampah plastik telah mencapai proporsi epidemik di negara Asia Tenggara, yang memiliki salah satu tingkat polusi plastik per kapita tertinggi di dunia. Thailand menghasilkan lebih dari 2 juta ton sampah plastik setiap tahun, hanya sebagian kecil yang dapat digunakan kembali atau didaur ulang.

Sebagian besar sisa sampah terdiri dari barang-barang plastik sekali pakai seperti tas belanja, yang dibagikan secara gratis oleh pengecer seperti di  toko-toko 7-Eleven yang ada di mana-mana. Seringkali pembeli di toko-toko mengumpulkan banyak tas sekali pakai dalam berbagai ukuran.

Menurut survei pemerintah tahun lalu, setiap warga negara Thailand menggunakan delapan kantong plastik rata-rata setiap hari, yang jumlahnya mencapai sekitar 200 miliar kantong plastik per tahun.

Untuk setiap satu botol minuman yang mereka beli, pelanggan juga secara rutin menerima sedotan plastik gratis, yang dibungkus dalam bungkus plastik.

Kebanyakan  plastik  murah dan sekali pakai itu menjadi  sampah setelah digunakan, yang menyebabkan tumpukan sampah yang terus bertambah yang kemudian sering tidak terkumpul, terutama di daerah-daerah yang kekurangan ekonomi.

Lingkungan semacam itu di sekitar Bangkok memiliki tumpukan barang-barang plastik yang tidak terhitung jumlahnya, dari botol air kosong sampai sikat gigi, sampah di jalan-jalan, dan saluran yang sempit.

Pastor  Joseph Maier CSsR menunjuk ke sebuah kanal yang ditutupi sampah plastik di Bangkok. (Foto: Tibor Krausz/ucanews.com) 

 

Pastor Joseph Maier CSsR dapat memberi tahu Anda semua tentang dampak limbah plastik beracun.

Imam Redemptoris dari Amerika Serikat itu mengelola yayasan itu di daerah miskin distrik Klong Toey di mana ia telah tinggal selama hampir setengah abad, menjaga “yang termiskin dari  termiskin,” seperti yang dia katakan.

Ketika jalan-jalan di kawasan miskin tersebut yang  sempit dan  berliku  dengan gubuk-gubuk dari tripleks, Pastor Maier, 79, berjalan kaki ke sebuah kanal dengan seorang wartawan UCAN di belakangnya, menyapa penduduk setempat dengan ramah di sepanjang jalan.

Dia berhenti di hamparan sampah busuk yang terletak di bawah timbunan sampah plastik yang menutupi permukaannya kanal. “Kami membersihkan kanal ini tiga hari  lalu, membuang 20 truk sampah,” jelas imam itu. “Sekarang sama kotornya seperti biasanya.”

Petugas pembersihan, yang direkrut oleh imam dari  pria setempat, akan segera mulai memindahkan 20 truk sampah plastik lainnya dari saluran sampah  itu.

Namun, kecuali kebiasaan boros penduduk setempat berubah, kalau tidak akan menjadi sia-sia. Jumlah sampah plastik yang terus meningkat dan  kemauan penduduk setempat untuk membersihkannya.

Itulah sebabnya mengapa Pastor Maier dan umat  Buddha Thailand memutuskan  mengajar anak-anak yang menghadiri sekolah-sekolah yayasan tentang kejahatan sampah plastik. Idenya adalah untuk menanamkan sikap ramah lingkungan  sejak usia dini.

“Kami mengajarkan anak-anak  menggunakan lebih sedikit plastik,” kata Pastor Maier. “Mereka kemudian pulang dan mengajar ayah, ibu, kakek dan nenek.”

Banyak penduduk lokal yang hidupnya sulit di lingkungan itu telah lama akrab dengan daur ulang, mencari nafkah dengan memulung untuk didaur ulang dan menjualnya ke perusahaan daur ulang. Anak-anak prasekolah yayasan sekarang membantu beberapa pemulung ini dengan mengumpulkan barang-barang plastik yang dapat didaur ulang juga.

“Beberapa siswa membawa 100 gram plastik daur ulang, mereka  membawa beberapa kilogram,” jelas Boonyiam Nianthong, seorang guru TK.

“Tidak mungkin untuk tidak menggunakan produk plastik sama sekali, tetapi secara bertahap anak-anak dapat belajar  menggunakan lebih sedikit dan lebih sedikit dari sebelumnya.”

Anak-anak didorong  menularkan perilaku konsumsi plastik yang baru dipelajari ke saudara dan orangtua mereka.

“Sejumlah  siswa menegur orangtua mereka karena terlalu banyak membuang plastik,” kata guru TK Sa-ad Puengwarin.

“Sebelumnya, keluarga hanya membuang barang-barang plastik sekali pakai ke tempat sampah. Sekarang mereka cenderung melakukan itu lebih jarang. Sebaliknya, banyak dari mereka menyortir limbah mereka dan membawanya untuk didaur ulang.”

Banyak anak-anak prasekolah juga membantu membersihkan lingkungan  mereka dungeon mengumpulkan sampah dari jalan-jalan. Para siswa di sekolah yayasan mengumpulkan sekitar 10.000 kg barang daur ulang setiap tahun dengan bantuan dari orangtua dan kakak mereka.

Bagi banyak anak muda, kegiatan daur ulang di sekolah mereka telah menjadikan yang menyenangkan.

“Saya suka mengumpulkan plastik,” kata Tonhom, seorang bocah 5 tahun. “Nenek saya memiliki sebuah toko kecil,” gadis itu menambahkan, mengacu pada warung kayu neneknya dari mana dia menjual makanan ringan dan minuman untuk buruh harian dan penerima upah minimum lainnya.

“Setelah orang minum Pepsi (dan minuman lainnya), saya mengumpulkan botol-botol kosong dan membawanya ke sekolah. Saya ingin menjaga rumah dan sekolah saya tetap bersih.”

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi