UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Gereja Korea Dukung Pengungsi Yaman di Pulau Jeju

Juli 9, 2018

Gereja Korea Dukung Pengungsi Yaman di Pulau Jeju

Para pengungsi Yaman tuba di Pulau Jeju, Korea Selatan, mendapat advokasi di Pusat Pastoral Migran Naomi pada 23 Juni. (Foto: The Catholic Times of Korea)

Karena prasangka yang terbangun terhadap para pengungsi Yaman yang tiba di selatan pulau  Jeju, Gereja Katolik Korea memperkuat dukungannya bagi mereka sementara melakukan upaya untuk meningkatkan kesadaran tentang penderitaan mereka.

Dipermudah dengan  visa turis yang ramah dan melarikan diri dari perang saudara dan bahkan disiksa saat kembali ke rumah, mereka mulai mendatangi  pulau semi tropis ini pada musim semi dan sekarang berjumlah sekitar 560 orang saat mereka mencari tempat perlindungan.

Para pencari suaka telah dibantu oleh Pusat Pastoral Migran Naomi Keuskupan Jeju, yang telah menyediakan mereka akomodasi, pekerjaan, kebutuhan sehari-hari, sekolah untuk anak-anak mereka dan banyak lagi.

Keuskupan itu telah memberikan prioritas untuk menawarkan penginapan kepada keluarga dengan wanita hamil atau anak-anak dan telah mendesak umat kristiani setempat untuk membantu dengan mengedarkan pemberitahuan mingguan dan buletin.

Konferensi Waligereja Korea juga telah memutuskan untuk secara aktif bekerja sama dalam menawarkan dukungan kepada mereka.

“Dengan kerja sama yang erat dari Keuskupan Jeju, kami akan mengambil langkah-langkah untuk menawarkan dukungan multilateral dan pendidikan bagi anak-anak,” kata Pastor David Cha Kwang-joon, sekretaris Komisi Pastoral Migran dan Perantau Konferensi Waligereja Korea.

Namun, tidak semua orang menerima mereka di negara atau pulau itu.

Petisi yang dipasang di situs resmi Gedung Biru Presiden pada 13 Juni menuntut pemerintah merevisi undang-undang tentang pengungsi serta program bebas visa Jeju untuk menghentikan lebih banyak pencari suaka Yaman masuk. Lebih dari 400.000 orang telah menandatangani petisi pada akhir Juni.

Pastor Cha mengatakan dia mencoba menghapus persepsi negatif para pengungsi di antara penduduk lokal di pulau itu.

“Beberapa orang menganggap mereka berbahaya tetapi ketakutan semacam itu tidak berdasar,” katanya.

Joseph Shin Kang-hyup, aktivis hak asasi manusia setempat, mengatakan: “Kami perlu meluncurkan lebih banyak prakarsa untuk memahami orang-orang dari budaya yang berbeda. Kami harus membuat lebih banyak program pendidikan untuk meningkatkan kesadaran, tidak hanya para pengungsi, tetapi budaya Islam secara umum.”

Mgr John Baptist Jung Shin-chul, uskup keuskupan Incheon, ketua komisi Pastoral Migran dan Perantau, menambahkan: “Gereja selalu menyambut mereka dengan sikap ramah dan melihat mereka sebagai saudara dan saudari kita. Kami bertujuan untuk terus memberikan dukungan kami kepada mereka.”

Perang sipil yang sengit telah berkecamuk di Yaman sejak 2014.

Korea Selatan adalah penandatangan Konvensi Pengungsi PBB tahun 1951 dan negara pertama di Asia yang membentuk dan memberlakukan Undang-Undang Pengungsi sendiri  tahun 2013.

Jeju memungkinkan sebagian besar orang asing untuk tinggal tanpa visa selama 30 hari tetapi bagi para pengungsi Yaman provinsi ini telah memperpanjang visa mereka  menjadi tiga bulan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi