UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Semangat Seorang Biarawati di Sri Lanka Tetap Membara

Juli 9, 2018

Semangat Seorang Biarawati di Sri Lanka Tetap Membara

Suster Benedict Fernandopulle menyambut anak-anak. Biarawati Salvatorian ini berjuang untuk melindungi martabat orang miskin dari segala bentuk diskriminasi tanpa memandang kasta dan etnis mereka. (Foto: Disediakan)

Suster Benedict Fernandopulle dari Kongregasi Salvatorian tidak henti-hentinya memperjuangkan martabat orang miskin dari segala bentuk diskriminasi tanpa memandang kasta atau etnis mereka.

Meskipun didiagnosa menderita leukemia, biarawati berusia 79 tahun itu tetap melanjutkan misinya dengan penuh keberanian hingga ajal menjemputnya pada 17 Juni lalu di Distrik Kurunegala, Propinsi Barat Laut, Sri Lanka.

Dalam memberikan pelayanan selama puluhan tahun, ia membentuk pusat kesehatan Suhada Sevana untuk membantu warga miskin di Vijaya Katupotha yang dilayani Keuskupan Chilaw.

Suster Helen Lambert, seorang biarawati Salvatorian dan pejuang hak asasi manusia, mengatakan Suster Fernandopulle adalah seorang perawat dan bidan terdidik.

Ketika Pastor Michael Rodrigo OMI ditembak mati di Keuskupan Buttala di Sri Lanka bagian tengah pada 1987, Suster Fernandopulle bersamanya saat itu untuk membantu membangun dialog antara umat Kristen dan Buddha.

Saat terjadi pemberontakan kelompok kiri pada 1987-1989, militer dan kelompok paramiliter membunuh dan menyiksa para pejuang pemberontak muda dan warga sipil.

Para biarawati dari komunitas Suster Fernandopulle pernah diancam oleh pasukan pro-pemerintah karena menentang penculikan dan pembunuhan.

Dalam beberapa kesempatan, para biarawati juga dimintai keterangan dengan todongan senjata.

Selain aktif dalam politik, Suster Fernandopulle melakukan banyak upaya untuk memperbaiki program diet dan pelayanan kesehatan bagi warga setempat.

“Biarawati itu menanam tumbuhan herbal, meracik obat tradisional, mendidik para remaja desa dan mendorong para petani untuk menggunakan pupuk lokal ketimbang pupuk kimia,” kata Suster Lambert.

Pada 1992, Suster Fernandopulle meluncurkan proyek Vimukthi Nivasa untuk mendidik anak-anak miskin.

Proyek itu kemudian dikelola oleh sebuah kelompok dan perannya meluas hingga mencakup pemberdayaan perempuan, perawatan orang lanjut usia, pelatihan ketrampilan dan pembangunan sumur desa.

Shiromi Fernano, seorang guru taman bermain yang berusia 47 tahun, memuji cara Suster Fernandopulle dalam mendidik orang lain.

“Ia mengajar kami untuk mandiri,” katanya. “Kami akan melanjutkan misinya dengan cara seperti yang diajarkannya kepada kami.”

Seorang imam Anglikan, Pastor Marimuthu Sathivel, mengatakan Suster Fernandopulle membantu warga Suku Tamil yang menderita saat terjadi perang sipil selama 30 tahun.

“Ia pergi ke wilayah perang untuk memberi bantuan medis kepada orang miskin,” katanya.

Perang sipil yang terjadi pada 1983-2009 di Sri Lanka antara pemberontak Suku Tamil dan pasukan keamanan menewaskan sekitar 100.000 orang.

Suster Fernandopulle mengucapkan kaul kekal pada 1962.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi