UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Gereja Khawatir Para Pekerja Anak Mempertaruhkan  Jiwa dan Raga Mereka

Juli 10, 2018

Gereja Khawatir  Para Pekerja Anak Mempertaruhkan  Jiwa dan Raga Mereka

Anak-anak Vietnam dari keluarga miskin menikmati sejumlah kegiatan di pantai yang diadakan oleh para biarawati di distrik Phu Vang, provinsi Thua Thien–Hue pada 3 Juni. (Foto: ucanews.com)

Catherine yang berusia tiga belas tahun merasa sulit untuk makan sejak sepeda motor menabraknya ketika dia melayani kopi untuk pelanggan sebagai pekerjaan paruh waktu di Kota Hue, provinsi Thua-Hue Hue, Vietnam pada  Mei  lalu.

Dia kehilangan empat gigi dan menghabiskan satu bulan di rumah sakit untuk menyembuhkan luka-lukanya sebelum dia dapat kembali ke rumah kumuh sewanya seluas 36 meter persegi, yang dia bagi dengan orangtuanya dan saudara kandungnya di distrik Phu Vang.

“Pristiwa ini membuat saya sedih  memikirkannya,” kata anak kelas enam yang berbaju lusuh, yang nama Vietnamnya adalah Huynh Thi Anh Quyen.

Tagihan medis awalnya berjumlah 7 juta dong (Rp 4, 3 juta), atau 10 kali lipat dari pendapatannya di kedai kopi pada  minggu sebelum kecelakaan.

Catherine mengatakan dia menggunakan tabungan keluarganya untuk membayar sisa uang yang belum dibayar yang disisihkan untuk membayar uang sekolah dan membeli seragam baru menjelang tahun ajaran baru pada  September.

Ketika ditanya bagaimana dia akan mendapatkan 20 juta dong yang dibutuhkan mengganti giginya yang hilang, dia mengatakan suster dari Kongregasi Suster-suster Santo Paulus dari Chartres (SPC), sebuah badan amal Katolik, bekerja sama dengan dokter gigi setempat  memasang gigi palsu.

Para aktivis Gereja mengklaim bahwa perlindungan terhadap anak-anak miskin dan yatim piatu di Vietnam masih terlalu sedikit, di mana banyak orang mengais-ngais hidup atau berisiko kehilangan  anggota badan karena persenjataan   yang belum meledak yang nantinya bisa mereka jual.

Provinsi ini meluncurkan sebuah proyek pada 25 Juni yang bertujuan  mencegah  masuknya  pekerja migran anak di negara tersebut dan  mencegah mereka dieksploitasi sejak  usia dini.

Proyek ini disponsori oleh Yayasan Anak-Anak Blue Dragon, yang berpusat  di Australia, menyatukan kembali pekerja anak dengan keluarga mereka dan membuat mereka digabungkan  kembali ke komunitas mereka dengan cara yang lebih sehat.

Suster Mary Vu Thi Ngoc bekerja untuk badan amal yang dikelola  oleh para suster dari Putri Maria Tak Bernoda di Kota Hue.

Dia mengatakan badan itu mencari donasi dari para donatur dan membangun tiga hingga lima rumah per tahun bagi keluarga miskin untuk mencegah anak-anak mereka putus sekolah lebih awal demi membantu mencari nafkah, ini satu dari sekian banyak program amal yang dibantu Gereja.

Nguyen Van Hieu, 13, meninggalkan sekolah beberapa waktu lalu dan sekarang mengumpulkan sampah dari tempat pembuangan sampah terdekat. Orangtuanya meninggal dan dia bekerja membiayai dirinya dan neneknya.

Dia dulu bekerja secara ilegal di sebuah tempat konstruksi tetapi karena menderita luka parah di lengan kanan dan kakinya tahun lalu ketika beberapa batu jatuh menimpa tubuhnya, dia tidak dapat kembali ke sana.

“Sekarang saya hanya bisa berjalan tertatih-tatih dan sulit berjalan,” katanya. Saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan di masa depan atau seperti apa hidup saya nantinya.”

Anak-anak lain juga berisiko kehilangan nyawa dengan mengemis di tempat bom mortir yang setengah terkubur di hutan sisa warisan dari Perang Vietnam 1955-75.

James Nguyen Dinh Hanh, dari Paroki Son Thuy, distrik Luoi Hue, mengatakan sejumlah anak di distrik itu terlibat dalam aktivitas berbahaya ini selama musim panas demi mendapatkan uang saku yang cukup untuk mempertahankan  hidup.

Hanh, 75, mengatakan satu anak tewas akibat pecahan peluru setelah salah satu bom itu meledak Agustus lalu. Sekitar 30 anak di distrik itu meninggal karena penyebab serupa sejak 2008.

Rata-rata, 220 anak per tahun terluka di provinsi yang mempekerjakan pekerjaan yang hanya dianggap cocok untuk orang dewasa apalagi seorang anak, dan 20-30 orang telah meninggal dunia, kata seorang pejabat dari Serikat Perempuan di Thua Thien.

Dan ini hanya sebagian kecil dari jumlah korban karena banyak kasus yang tidak dilaporkan, kata wanita itu, yang menolak menyebutkan namanya.

Dia mengatakan banyak anak yatim mengikuti kerabat mereka menjadi buruh kasar di kota-kota besar atau di sekitar Laos, mengekspos mereka terhadap bahaya pekerjaan, eksploitasi dan risiko kesehatan  terkait dengan tingkat pencemaran yang mencekik.

Sekitar 250 anak putus sekolah setiap tahun di provinsi ini  mendukung perekonomian keluarga mereka, tambahnya.

Suster Ngoc mengatakan para suster itu menawarkan kursi roda anak-anak yang terluka, keterampilan kerja, asuransi kesehatan, dan  persediaan makanan pokok yang cukup untuk hidup.

Paul Truong Tien dari Katedral Phu Cam di Hue mengatakan, paroki setempat menyumbangkan beras, menawarkan beasiswa, dan membayar uang sekolah untuk siswa dari keluarga yang sangat miskin atau anak yatim yang menjanjikan.

Dia mengatakan banyak  umat lain dari paroki-paroki tetangga mengumpulkan uang di pasar loak dan membawa makanan bagi mereka yang terluka dalam pekerjaan, lalu lintas atau kecelakaan lainnya. Gereja juga menjalankan kelas pendidikan dan kegiatan luar ruangan di musim panas, tambahnya.

Catherine mengatakan, keluarganya menerima 10 kilogram beras dan mie instan dari para biarawati setiap bulan.

Dia telah menerima beasiswa yang disponsori Gereja sejak kelas pertama dan mendapat sepeda baru dari Ordo Redemptorists lokal pada  April sehingga dia bisa naik ke sekolah.

Catherine Huynh Thi Anh Quyen, yang masih dirawat menyusul kecelakaan lalulintas belum lama ini, di rumahnya di provinsi Thua Thien-Hue pada 30 Juni. (Foto: ucanews.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi