UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Presiden Duterte Sepakat Hentikan Serangan Terhadap Gereja

Juli 10, 2018

Presiden Duterte Sepakat Hentikan Serangan Terhadap Gereja

Presiden Filipina Rodrigo Duterte mencium tangan Uskup Agung Davao Mgr Romulo Valles, ketua Konferensi Waligereja Filipina, pada pertemuan yang diadakan pada 9 Juli. (Foto: Kantor Komunikasi Presiden)

Presiden Filipina Rodrigo Duterte akan berhenti mengecam Gereja Katolik setelah ia menyepakati sebuah moratorium tentang berbagai pernyataan yang mengolok-olok para uskup dan imam.

Istana Presiden mengumumkan keputusan presiden itu seusai pertemuan yang berlangsung selama 30 menit antara Presiden Duterte dan Uskup Agung Davao Mgr Romula Valles pada Senin (9/7).

Presiden telah menarik ucapannya yang menyebut Allah “bodoh” dalam sebuah pidato dan caciannya terhadap para uskup dan imam dalam beberapa bulan terakhir.

“(Presiden) menyepakati sebuah moratorium tentang pernyataan terkait Gereja seusai pertemuan,” kata Harry Roque, juru bicara presiden.

Namun sehari setelah pertemuan itu, Roque mengatakan Presiden Duterte ingin para pemimpun Gereja berhenti mengkritik pemerintahannya.

“Mengingat ada pembedaan antara Gereja dan negara, (para pemimpin Gereja) hendaknya tidak menggunakan mimbar untuk mengkritik pemerintahannya,” kata Roque, seraya mengutip pernyataan Presiden Duterte.

Pertemuan Presiden Duterte dan Uskup Agung Valles selaku ketua Konferensi Waligereja Filipina (KWF) diadakan setelah KWF merilis sebuah pernyataan yang mengecam serangkaian pembunuhan yang terjadi dalam dua tahun terakhir.

Roque menyebut pernyataan itu “sangat lunak,” seraya menambahkan bahwa “tidak ada yang baru” karena “tidak ada kecaman langsung.”

“Saya menantikan hal terburuk, tetapi saya kira ini hanya surat gembala yang sangat lunak,” katanya, seraya menambahkan bahwa para pemimpin Gereja mungkin menghindari “konfrontasi langsung” dengan pemerintah.

Sebelum bertemu Presiden Duterte, Uskup Agung Valles mengatakan ia menerima “undangan ramah” dari presiden untuk melakukan dialog “karena sebagai para uskup, kami terbuka untuk mendengarkan satu sama lain dengan penuh rasa hormat.”

Pada 25 Juni, Presiden Duterte membentuk sebuah komite untuk melakukan dialog dengan para pemimpin Gereja Katolik menyusul pernyataan kontroversialnya tentang Allah.

Uskup Agung Valles yang dikenal sebagai teman dekat Presiden Duterte mengatakan ia tidak mempersiapkan agenda pertemuan.

“Ingat, undangannya dari mereka. Kami hanya mendengarkan,” katanya.

Prelatus itu menambahkan bahwa pertemuan itu merupakan “langkah awal” dan para pemimpn Gereja siap mendengarkan Presiden Duterte.

Surat gembala para uskup yang dikeluarkan seusai sidang pleno dua tahunan tersebut berisi keprihatinan atas masalah sosial yang dihadapi masyarakat Filipina.

Surat gembala itu juga menyebut pelanggaran hak asasi manusia dan ancaman terhadap nyawa para klerus. Selain itu, surat gembala itu menggarisbawahi hubungan antara pemerintah dan Gereja.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi