UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Nyawa Jurnalis di Sri Lanka Terancam

Juli 11, 2018

Nyawa Jurnalis di Sri Lanka Terancam

Dalam foto ini, sejumlah jurnalis dan aktivis hak asasi manusia di Sri Lanka memprotes ancaman terhadap para jurnalis dan pengacara di Kolombo. (Foto: ucanews.com)

Beberapa kelompok pemerhati media di Sri Lanka mengecam upaya intimidasi terhadap sejumlah jurnalis lokal yang terlibat dalam sebuah investigasi The New York Times terkait pembangunan pelabuhan secara masif yang dibiayai oleh Cina.

Mereka meminta para rekanan mantan Presiden Mahinda Rajapaksa untuk berhenti menyerang dua jurnalis lokal – Dharisha Bastians dan Arthur Wamanan – yang membantu surat kabar milik Amerika Serikat tersebut.

Bastians dan Wamanan dituduh bertindak atas nama pemerintah saat ini untuk memfitnah Rajapaksa, seorang pengacara yang pernah menjabat sebagai presiden untuk periode 2005-2015.

Sebuah kampanye di Facebook dan Twitter yang menuduh Bastians dan Wamanan melakukan bias politik muncul setelah berita itu dipublikasikan pada 26 Juni lalu. Dan pada sebuah konferensi pers, foto close-up dari Bastians diperlihatkan.

Hal ini dilihat sebagai ancaman karena ketika Rajapaksa menjabat sebagai presiden dan mengekang kebebasan media, 11 jurnalis dibunuh dan beberapa lainnya dipukul.

Koresponden The New York Times untuk Asia Selatan yang berbasis di New Delhi, Maria Abi Habib, menulis berita yang telah menimbulkan kontroversi di Sri Lanka itu.

Berita itu berisi pinjaman senilai 1 miliar dolar Amerika Serikat dari Cina oleh pemerintahan yang dipimpin oleh Rajapaksa untuk membangun Pelabuhan Hambantota di Sri Lanka bagian selatan. Pembangunan pelabuhan itu sendiri gagal menarik para pengusaha dan sebaliknya memberi Beijing sebuah pijakan strategis dekat dengan pesaingnya, India.

Dan berita yang merujuk pada investigasi resmi yang masih berjalan atas dugaan pembayaran oleh China Harbor Engineering Co. milik Cina kepada masyarakat disebut berkaitan dengan kegagalan Rajapaksa dalam kampanyenya pada 2015.

Aravinda Dilruk, seorang jurnalis senior, mengatakan kritik apa pun terhadap keterlibatan Bastians dan Wamanan hendaknya memiliki landasan faktual dan bukan sekedar mempertanyakan motif mereka.

Ketua Free Media Association Cabang Asia Selatan di Sri Lanka, Lakshman Gunasekera, mengkhawatirkan keselamatan Bastians dan Wamanan.

“Penyebutan nama dan upaya untuk mempermalukan kedua jurnalis Sri Lanka ini sangat membahayakan dan mengkhawatirkan karena ini dilakukan oleh orang-orang yang sama yang melakukan hal yang sama sebelumnya saat mereka masih berkuasa,” katanya.

“Saat rezim mereka, kami – para jurnalis – melewati sebuah masa di mana penyebutan nama secara langsung seperti itu dan penargetan para jurnalis bisa berakhir dengan serangan fisik, lemparan granat ke rumah, penghilangan, pembunuhan dan pembantaian,” lanjutnya.

Free Media Movement (FMM) di Sri Lanka juga mengeluhkan ancaman terhadap keselamatan Bastians dan Wamanan.

Lasantha Ruhunage, ketua Asosiasi Pekerja Media Sri Lanka, mengatakan ada banyak cara untuk menanggapi berita media termasuk proses hukum.

Rajapaksa telah menyampaikan bantahan secara publik bahwa ia menerima dana kampanye.

Michael Slackman, editor internasional The New York Times, mengatakan pada 3 Juli bahwa jika Rajapaksa mempersoalkan laporan media itu, ia hendaknya menghubungi para editor seniornya.

“The Times berharap otoritas Sri Lanka menjamin keselamatan para jurnalis yang bekerja bagi organisasi media kami atau lainnya,” katanya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi