UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Mahkamah Agung di India Pertegas Hukuman Mati untuk Tiga Pemerkosa

Juli 12, 2018

Mahkamah Agung di India Pertegas Hukuman Mati untuk Tiga Pemerkosa

Orangtua dari perempuan berusia 23 tahun yang diperkosa secara beramai-ramai di dalam sebuah bus yang tengah melaju pada 2012 lalu turut serta dalam doa dengan lilin menyala bagi anak mereka pada 5 Mei. (Foto: IANS)

Mahkamah Agung di India telah mempertegas hukuman mati untuk tiga orang yang didakwa memerkosa seorang perempuan di dalam sebuah bus yang tengah melaju di New Delhi enam tahun lalu.

Meskipun demikian, sejumlah pengacara dan aktivis Kristiani ragu jika hukuman mati bisa menghentikan maraknya kasus pemerkosaan.

Putusan yang dijatuhkan pada Senin (9/7) itu mempertegas vonis hukuman mati yang diberikan kepada ketiga terdakwa atas kasus pemerkosaan dan pembunuhan terhadap seorang mahasiswi berusia 23 tahun pada 2012 lalu.

Mahkamah Agung menolak permohonan peninjauan kembali yang diajukan oleh tiga dari empat terdakwa atas vonis tahun lalu tersebut.

Terdakwa keempat yang juga menghadapi hukuman mati tidak mengajukan peninjauan kembali atas vonis yang diterimanya.

“Menjatuhkan hukuman mati kepada orang atas kejahatan yang mengerikan tidak akan menghentikan pemerkosaan,” kata Suster Mary Scaria MC, seorang pengacara Mahkamah Agung dan aktivis hak asasi manusia.

“Masyarakat harus berusaha mengubah cara berpikir orang. Hendaknya ada perubahan sosial untuk menghormati perempuan. Jika tidak, pemerkosaan, penindasan dan kekejaman terhadap perempuan tidak akan berhenti,” lanjutnya.

“Sejumlah orang berpikir bahwa perempuan adalah subyek kesenangan mereka dan bisa dipakai sesuka mereka. Persepsi mereka harus berubah,” tegasnya.

Kasus yang memunculkan kecaman nasional itu terjadi pada 16-17 Desember 2012 di dalam sebuah bus yang tengah melaju. Enam orang memerkosa dan menyerang secara kasar perempuan itu sebelum melemparnya ke tengah jalan. Perempuan itu kemudian dirawat di rumah sakit dan diterbangkan ke Singapura untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik, namun ia meninggal dunia pada 29 Desember.

Proses peradilan yang cepat menjatuhkan hukuman mati kepada Mukesh Singh, Pawan Gupta, Vinay Sharma dan Akshay Thajur. Mahkamah Agung kemudian mempertegas hukuman tersebut.

Salah seorang terdakwa, Ram Singh, diduga bunuh diri saat berada di penjara. Seorang remaja yang juga menjadi pelaku pemerkosaan dibebaskan dari rumah pembinaan setelah menjalani hukuman penjara selama tiga tahun.

“Sejumlah orang tidak takut hukum. Setiap hari kita membaca dan mendengar berita tentang kekerasan, maka harus ada mekanisme agar masyarakat memahami bahwa kita semua sama di mata hukum,” kata Suster Scaria.

Badan Statistik Kejahatan Nasional mengatakan jumlah kasus pemerkosaan di India meningkat, dari 2.487 kasus pada 1971 menjadi 24.206 kasus pada 2011. Pada 2014, ada 36.735 kasus pemerkosaan dan pada 2016 angkanya meningkat menjadi 38.947 kasus.

M.P. Raju, seorang pengacara Mahkamah Agung beragama Katolik, mengatakan kepada ucanews.com bahwa dari sudut pandang Gereja Katolik, hukuman mati tidak bisa diterima karena “apa pun kejahatan yang dilakukan oleh seseorang, kita tidak punya hak untuk membunuh seseorang, anak Allah.”

Pastor Denzil Fernandes SJ yang memimpin Institut Sosial India mengatakan Gereja menentang hukuman mati.

“Tetapi dalam kasus ini, hukum telah mempertimbangkannya sebagai kasus terlangka dari yang langka, maka kami menghormati keputusan itu,” katanya.

“Ajaran Katolik adalah bahwa kita tidak punya hak untuk mencabut nyawa orang lain dengan cara apa pun. Ada pilihan lain seperti hukuman penjara seumur hidup di mana setidaknya seseorang punya waktu untuk berubah. Sebagain besar negara beradab telah menghapus hukuman mati,” lanjutnya.

Para terdakwa tersebut kini memiliki pilihan hukum untuk mengajukan gugatan kuratif atas hukuman mati itu dengan landasan bahwa bukti atau unsur hukum tidak diperdebatkan dan hal ini melanggar prinsip keadilan.

Jika gugatan itu juga ditolak, permohonan pengampunan bisa diajukan kepada presiden India.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi