UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Kelompok Perdamaian Memberi Penghormatan kepada Imam yang hilang

Juli 13, 2018

Kelompok Perdamaian Memberi Penghormatan kepada Imam  yang hilang

Sebuah kelompok perdamaian ekumenis di Filipina pada 11 Juli memperingati 33 tahun hilangnya seorang imam Redemptoris (CSsR) dan salah satu tokoh terkemuka dalam gerakan perlawanan terhadap almarhum diktator Ferdinand Marcos.

Kelompok Perdamaian Ekumenis Filipina memberi penghormatan atas kontribusi Pastor Rudy Romano untuk kemajuan perdamaian dan HAM  di negara ini.

Ofelia Cantor, koordinator kelompok perdamaian, mengatakan Pastor Romano “mengabdikan hidupnya mempromosikan perdamaian, sebuah tugas yang harus dipenuhi oleh setiap orang Kristen.”

Imam Redemptoris itu terakhir terlihat pada 11 Juli 1985, di luar biara di kota Cebu, Filipina tengah.  Ia diculik oleh orang-orang bersenjata yang tidak dikenal.

Imam berusia 44 tahun itu adalah pemimpin aktif gerakan melawan kediktatoran Presiden Ferdinand Marcos saat itu.

Dia adalah sekretaris eksekutif Koalisi Melawan Penganiayaan terhadap Rakyat dan wakil ketua Aliansi Patriotik Baru Nasional.

Norma Dollaga dari The Promotion of Church People’s Response (PCPR)  mengatakan Romo Romano “bepergian dengan orang miskin” dan tidak akan pernah terlupakan.

“(Pastor Romano) mengajarkan kami bahwa kehidupan beragama berarti melayani rakyat dan Tuhan tanpa syarat,” katanya. “Gereja harus bangga bahwa ia memiliki seorang putra seperti (Romano) yang mempertaruhkan nyawanya demi orang lain.”

Sementara itu, Kongregasi Redemptoris mengulangi seruannya pada pemerintah untuk “memberikan keadilan kepada korban penghilangan paksa.”

Dikatakan bahwa Pastor  Romano “difitnah, dilecehkan, dan akhirnya diculik … karena dia membela kebenaran dan membela hak orang miskin dan yang lemah.”

Imam Redemptoris Ariel Lubi, wakil ketua provinsi Manila, mengatakan bahwa kongregasi memiliki banyak imam seperti Pastor Romano “yang tidak akan pernah meninggalkan orang miskin dalam misi mereka.”

“Mari kita seperti Pastor Rudy yang berjuang untuk keadilan sosial, yang membela iman dengan melayani rakyat, dan membawa gereja ke pinggiran,” kata imam itu.

Cristina Palabay dari kelompok HAM  Karapatan mengatakan penghilangan paksa dan pembunuhan terus berlanjut karena pemerintah bersikeras “solusi militer murni” untuk konflik bersenjata di negara itu.

Dia mengatakan lebih dari 2.000 orang telah menjadi korban penghilangan paksa sejak Marcos mengumumkan darurat militer tahun 1970-an.

Palabay mengatakan budaya impunitas telah mendorong penggunaan metode penculikan dan pembunuhan di luar hukum untuk membungkam perbedaan pendapat.

Uskup Deogracias Iniguez dari Forum Uskup Ekumenis mengatakan Gereja “tidak boleh berhenti untuk memperjuangkan jeritan orang miskin untuk perdamaian yang adil dan abadi.”

“Jangan takut,” kata prelatus itu. “Akan ada lebih banyak Pastor  Romano yang akan mengorbankan hidup mereka untuk mewartakan Kabar Baik.”

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi