UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Sri Lanka Segera Mengeksekusi Penyelundup Narkoba

Juli 13, 2018

Sri Lanka Segera Mengeksekusi Penyelundup Narkoba

Presiden Sri Lanka Maithripala Sirisena (kiri) berjabatan tangan dengan Perdana Menteri Thailand Prayut Chan-o-cha di Sekretariat Presiden di Kolombo pada 12 Juli. Presiden Sirisena akan menandatangani perintah untuk melaksanakan hukuman mati bagi para penyelundup narkoba. (Foto: Ishara Kodikara/AFP)

Juru bicara pemerintah Sri Lanka mengatakan pada Rabu (11/7) bahwa pengadilan akan menjatuhkan hukuman mati bagi para penyelundup narkoba meskipun ada penolakan dari sejumlah aktivis hak asasi manusia.

Presiden Maithripala Sirisena mengatakan ia akan menandatangani surat perintah untuk menerapkan apa yang sudah disepakati oleh kabinet terkait pelaksanaan eksekusi demi kepentingan generasi sekarang dan masa depan.

Namun Nuwan Malinda, 38, seorang guru sekolah Minggu dan aktivis sosial, mengatakan tidak ada bukti yang cukup secara internasional untuk menunjukkan bahwa hukuman mati secara signifikan mengurangi kejahatan narkoba.

Menurutnya, hukuman mati bertentangan dengan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia.

Ia mengatakan Sri Lanka akan dilihat sebagai negara yang “tidak beradab” jika eksekusi dilaksanakan. Eksekusi merupakan suatu hal yang tidak pernah terjadi selama 42 tahun di negara itu. Eksekusi terakhir dilaksanakan pada Juni 1976.

Pada 2004, pemerintahan saat itu memutuskan untuk kembali melaksanakan eksekusi untuk pemerkosa, penyelundup narkoba dan pembunuh. Namun pertentangan meluas sehingga belum satu pun eksekusi dilaksanakan.

Pemerintahan saat ini bersikeras bahwa eksekusi boleh dilaksanakan.

Malinda mengatakan kejahatan serius bisa terjadi karena penyakit jiwa, rendahnya pendidikan formal atau kemiskinan yang sangat parah. “Hukuman mati tidak memberi harapan akan rehabilitasi apa pun,” lanjutnya.

Pada Rabu (11/7), polisi menangkap dua orang yang diduga menyembunyikan 9,9 kilogram heroin di sebuah gudang beras. Menurut perkiraan, heroin ini senilai 118 juta rupee Sri Lanka atau 740.000 dolar AS.

Tentara Inggris menjajah Sri Lanka pada 1815 dan melarang segala bentuk eksekusi seperti pemenggalan kepala dan penenggelaman. Namun mereka memperkenalkan hukuman gantung.

Amnesty International yang berbasis di London, Inggris, telah mendesak pemerintah Sri Lanka untuk tidak memberlakukan hukuman mati dan bergabung dengan 142 negara yang telah menghapus hukuman mati.

Sementara itu, Kardinal Malcolm Ranjith mengatakan pada konferensi pers yang diadakan pada Kamis (12/7) bahwa Gereja akan mendukung keputusan Presiden Sirisena terkait hukuman mati bagi penyelundup narkoba yang melakukan kejahatan di balik jeruji.

 

One response to “Sri Lanka Segera Mengeksekusi Penyelundup Narkoba”

  1. I firmly believe that the president should move on to the execution of the death penalty. Ngo’s easily talk or bluf about human rights, so what about the rights of those victims ? Most catholic ngo’s use the same reasoning , but so far they were never able to come up with a sensible solution.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi