UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Umat ​​Hindu India Minta Penghargaan Ibu Teresa Dicabut

Juli 19, 2018

Umat ​​Hindu India Minta Penghargaan Ibu Teresa Dicabut

Polisi mengunjungi Panti Nirmal Hriday yang dikelola Kongregasi Suster Misionari Cinta Kasih di Ranchi pada 4 Juli. (Foto: IANS)

Pemimpin kelompok Hindu India telah meluncurkan kampanye melawan St. Teresa dari Kalkuta dan Para Biarawati Misionaris Cinta Kasih (MC) setelah seorang biarawati ditangkap atas tuduhan melakukan adopsi ilegal dalam sebuah kasus yang dikatakan para pemimpin Kristen bertujuan  menodai citra Gereja.

Orang Kudus, yang dikenal sebagai Ibu Teresa, harus dilucuti dari penghargaan sipil tertinggi – Bharat Ratna (permata India) – yang diberikan kepadanya tahun 1980 jika tuduhan terhadap biarawati terbukti benar, kata Rajiv Tuli, seorang pemimpin kelompok Hindu,  Rashtriya Swayamsevak Sangh (RSS).

“Warga India tidak ingin kehormatan Bharat Ratna tercemar,” kata Tuli, ketua   RSS, yang dikenal sebagai ruang mesin pemerintah Perdana Menteri Narendra Modi.

Permintaan Tuli didukung oleh anggota parlemen Subramanian Swamy, ketua Bharatiya Janata Party (BJP). “Jika Anda punya banyak contoh kriminalitas oleh Ibu Teresa, mengapa dia harus menjadi orang yang dirayakan sebagai penerima Nobel?”

Biarawati kelahiran Albania, yang bermisi ke India pada usia 18 tahun (1928) sebagai biarawati Konggregasi Loretto, menjadikan India sebagai rumahnya dan mendirikan MC  tahun 1950 untuk melayani orang  termiskin dari orang miskin. Dia dianugerahi hadiah Nobel Perdamaian tahun 1979.

“Seluruh dunia tahu pekerjaan baik yang dilakukan Ibu Teresa untuk kemanusiaan, terutama orang miskin,” kata Uskup Vincent Barwa, uskup keuskupan Simdega, ketua Komisi Suku Konferensi Waligereja India kepada ucanews.com.

Pastor Denzil Fernandes, direktur Institut Sosial India yang dikelola Yesuit di New Delhi, mengatakan kepada ucanews.com bahwa penghargaan nasional dan internasional yang diberikan kepada Ibu Teresa menggambarkan orang macam apa dia.

Dia mengatakan orang-orang yang menyalahkan Ibu Teresa “tidak bisa menerima karya besar para biarawati terus lakukan. Ini adalah agenda mereka untuk menargetkan Gereja.”

Kampanye melawan Ibu Teresa dan para biarawatinya dimulai setelah polisi menangkap seorang biarawati yang mengelola sebuah rumah untuk ibu yang tidak menikah di Kota Ranchi, negara bagian Jharkhand, dengan tuduhan melakukan adopsi ilegal pada 5 Juli.

Penangkapan terjadi setelah pasangan yang tidak punya anak mengadu bahwa seorang anggota staf di rumah Nirmal Hriday mengambil uang tetapi gagal memberi mereka anak seperti yang dijanjikan.

Suster Mary Prema Pierick, superior jenderal MC, mengatakan dalam sebuah pernyataan pada 17 Juli bahwa seorang anggota staf dipercayakan menyerahkan seorang anak ke Pusat Kesejahteraan Anak pemerintah. Tetapi dia dan ibu anak itu tidak menyerahkan anak itu dan menyembunyikan fakta dari para biarawati, kata Suster Prema.

Abraham Mathai, mantan wakil ketua Komisi Minoritas di negara bagian Maharashtra, mengatakan kepada ucanews.com bahwa “paling banyak, para biarawati bersalah karena kenaifan dan orang yang terlalu percaya diri”.

A.C. Michael, seorang pemimpin awam Kristen, mengatakan bahwa penghargaan diberikan kepada Ibu Teresa atas kebaikan pribadinya. “Tidak adil menuntut untuk menangkap para biarawati  karena diduga bersalah,” katanya.

Michael, mantan anggota Komisi Minoritas Delhi, mengatakan bahwa masalah ini ditayangkan di media karena menuduh Ibu Theresa dan para biarawatinya selalu sensasional.

Sementara itu, para pemimpin agama dan awam Banglades telah mengecam  serangan terhadap Ibu Teresa oleh seorang penulis India yang tinggal di Banglades.

Komentarnya membuat kesal banyak orang di Banglades, dengan beberapa orang protes melalui  media sosial.

“Semua orang di dunia tahu tentang Ibu Theresa dan karya-karyanya. Seandainya dia melakukan kejahatan apa pun, itu akan terjadi di masa hidupnya. Komentar (Nasreen) tidak beralasan karena dia adalah tokoh kontroversial. Kami hanya akan menanggapinya,” kata Mgr Gervas Rozario,  uskup keuskupan Rajshahi, wakil ketua Konferensi Waligereja Banglades, kepada ucanews.com.

Maolana Fariduddin Masoud, ketua Majelis Ulama Banglades ( Jamiatul Ulema), mengatakan momentar  Nasreen adalah upaya yang mengerikan untuk menempatkan dirinya dalam sorotan.

“Saya tidak akan mengatakan bahwa Ibu Teresa benar-benar tanpa cacat tetapi dia telah melakukan pelayanan yang luar biasa kepada umat manusia. Sebuah tuduhan terhadap dia dan suster dari kongregasinya bias dan tidak dapat diterima,” kata Masoud  kepada ucanews.com.

Ibu Teresa meninggal karena serangan jantung di Biara Kongregasi MC, Kalkuta, pada 5 September 1997, pada usia 87 tahun. St. Paus Yohanes Paulus II membeatifikasikannya tahun 2003 dan Paus Fransiskus mengkanonisasi dia  tahun 2016 di Vatikan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi