UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Imam Yesuit Kritik Teologi Kemakmuran dan Dukungannya untuk Presiden Trump

Juli 20, 2018

Imam Yesuit Kritik Teologi Kemakmuran dan Dukungannya untuk Presiden Trump

Tepat setahun lalu, jurnal yang dikelola oleh Serikat Yesus – La Civiltà Cattolica (LCC) – menerbitkan sebuah artikel yang sangat penting tentang ekumenisme politik rancu yang tengah ditempa di Amerika Serikat (AS) antara umat Katolik dan umat Protestan fundamentalis. Artikel ini memancing debat yang menarik, setidaknya demikian.

Umat Katolik konservatif secara khusus mengkritik keras artikel LCC itu karena menyerang mereka baik pada level teologi (konvergensi mereka dengan agama Protestan) dan level politik (kesepahaman mereka tentang ekumenisme politik dan politik konservatif yang membuahkan berkat bagi gerakan Presiden Trump).

Setahun kemudian, para imam Yesuit yang memproduksi jurnal itu di Roma melakukannya kembali.

Penulis yang sama – Pastor Antonio Spadaro SJ (editor LCC) dan Marcelo Figueroa (teolog Protestan asal Argentina yang juga teman Paus Fransiskus dan mengedit edisi berbahasa Argentina dari L’Osservatore Romano) – kini mengkritik “teologi kemakmuran” dalam sebuah artikel yang diterbitkan secara serentak dalam Bahasa Italia dan Inggris pada 18 Juli.

Pastor Spadaro dan Figueroa mengulas beberapa akar dan buah dari teologi kemakmuran, dan dalam bagian akhir dari artikel itu, mereka menggarisbawahi pertentangan antara teologi baru tersebut dan teologi Paus Fransiskus.

Artikel itu secara lantang menyinggung hubungan antara teologi kemakmuran dan krisis globalisasi – politik, sosial dan ekonomi.

“Dalam beberapa dekade terakhir ini, ‘teologi’ ini telah menyebar ke berbagai belahan dunia berkat kampanye media yang masif oleh berbagai gerakan dan pelayanan evangelisasi khususnya gerakan dan pelayanan neo-karismatik. Tujuan dari renungan kami adalah untuk memberi ilustrasi dan mengevaluasi fenomena yang digunakan sebagai pembenaran teologis untuk neo-liberalisme ekonomi ini,” kata kedua penulis tersebut.

Berdasarkan literatur khusus yang diterbitkan baru-baru ini khususnya di AS, Pastor Spadaro dan Figueroa menawarkan analisa teologis yang ringkas tentang teologi kemakmuran.

“Pilar dari teologi kemakmuran ( … ) pada dasarnya ada dua: kesejahteraan ekonomi dan kesehatan. Penekanan ini adalah buah dari penafsiran literal dari beberapa ayat Kitab Suci yang diambil dalam reduksianisme hermeneutik,” kata mereka.

Mereka mengkritik bukan hanya hermeneutika Biblis yang mendukung teologi kemakmuran tetapi juga konsekuensi dari teologi ini: “Kemenangan materi menempatkan pemenang pada suatu kebanggaan karena kekuatan ‘iman’ mereka. Sebaliknya, kemiskinan menimpa mereka dengan hantaman yang tidak tertahankan karena dua alasan: pertama, orang itu berpikir bahwa iman mereka tidak mampu memindahkan tangan ilahi Allah; kedua, situasi mereka yang menyedihkan merupakan imposisi ilahi, sebuah hukuman berkepanjangan yang harus diterima.”

Pastor Spadaro dan Figueroa menyebut dampak teologi kemakmuran terhadap orang miskin sebagai sesuatu yang “tidak bisa diterima.”

Teologi kemakmuran “bukan hanya membuat ketidaknyamanan bagi individu dan menghancurkan rasa solidaritas tetapi juga mendorong orang untuk mengadopsi pandangan yang berpusat pada mujizat karena iman saja – bukan komitmen sosial atau politik – bisa memperoleh kemakmuran.”

“Maka resikonya adalah orang miskin yang sangat tertarik pada teologi yang semu ini masih terpesona akan sebuah kekosongan sosial-politik yang dengan mudah mengijinkan kekuatan lain untuk membentuk dunia mereka, membuat mereka rawan dan tanpa pertahanan,” kata mereka.

Mereka kemudian mengecam pertentangan antara teologi kemakmuran dan ajaran Gereja Katolik: “Teologi kemakmuran bukan penyebab perubahan nyata, sebuah aspek fundamental dari sebuah visi yang berasal dari ajaran sosial Gereja.”

Pemutarbalikan teologi kemakmuran, kata mereka, terletak pada bagaimana melihat janji-janji Allah dalam hal finansial.

“Prinsip spiritual dari benih dan panen, dalam interpretasi Kitab Suci yang sungguh-sungguh keluar dari konteks, menyatakan bahwa memberi itu tidak lain dan tidak bukan adalah perbuatan ekonomis yang diukur dalam hal pengembalian investasi,” kata mereka, seraya merujuk pada dukungan bahwa teologi kemakmuran memberi pandangan supremasi.

“Dalam teologi-teologi ini, rasa bakti umat Kristiani sebagai anak-anak Allah diinterpretasikan sebagai ‘Anak-Anak Raja’: status anak yang memberi hak dan keistimewaan khususnya dalam hal materi kepada mereka yang mengakui dan mewartakannya,” kata mereka.

Pastor Spadaro dan Figueroa memetakan beberapa wilayah di dunia di mana teologi kemakmuran telah mengubah fitur ke-Kristen-an dalam beberapa tahun terakhir. Mereka adalah negara-negara di Afrika (Nigeria, Kenya, Uganda dan Afrika Selatan), Asia (India, Korea Selatan dan Cina) dan Amerika Latin (Guatemala dan Kosta Rika; Kolombia, Chili, Argentina dan Brasil).

Namun fokus riil dari artikel itu adalah negara dominan Amerika Utara:

“Di AS, jutaan orang rutin pergi ke gereja-gereja besar yang menyebarkan teologi kemakmuran. Para pengkotbah, nabi dan rasul yang telah bergabung dengan cabang dari neo-Pentakostalisme itu telah memosting banyak hal pada media massa, menerbitkan sejumlah besar buku yang dengan cepat menjadi best-seller, dan menyampaikan kotbah yang sering disiarkan kepada jutaan orang lewat internet dan media sosial.”

Nyata bahwa artikel baru ini secara langsung mengarah pada seorang pendukung teologi asal Amerika, Donald Trump. Diketahui bahwa penyampai teori teologi kemakmuran adalah beberapa pembela vokal dari presiden AS itu.

Misalnya, Paula White, seorang evangelis Pantekosta dari sebuah gereja besar yang baru-baru ini berusaha membela kebijakan pemerintahan Presiden Trump terkait pemisahan keluarga di perbatasan AS-Meksiko dengan mengatakan Yesus tidak pernah melanggar undang-undang imigrasi.

Dalam artikel yang baru diterbitkan oleh La Civiltà Cattolica itu, kita melihat sebuah kritik jelas terhadap bukan saja dukungan teologi kemakmuran terhadap ideologi ekonomi tertentu tetapi juga berkat militerismenya yang mendukung ideologi ini.

Artikel itu menyebut secara khusus “pidato pelantikan” Presiden Trump pada Januari lalu: “Presiden Donald Trump menyatakan, untuk menggambarkan identitas negara ini: ‘Bersama, kita menemukan kembali cara hidup orang Amerika.’ Dan kemudian ia mengatakan: ‘Di Amerika, kita tahu bahwa iman dan keluarga, bukan pemerintah dan birokrasi, adalah pusat kehidupan orang Amerika. Motto kita adalah ‘dalam Allah kita percaya.’ Dan kita menghormati aparat polisi, militer dan veteran kita yang menakjubkan sebagai pahlawan yang pantas mendapat dukungan teguh dan sepenuhnya dari kita.”

Pastor Spadaro dan Figueroa kemudian berkomentar: “Dalam beberapa baris saja kita melihat Allah, tentara dan impian orang Amerika.”

Bagian akhir dari artikel itu menarik perbandingan antara teologi Paus Fransiskus dan teologi kemakmuran. Kedua penulis itu mengutip beberapa pidato dan homili Paus Fransiskus untuk memperlihatkan pertentangan jelas dari Paus terhadap teologi semacam ini.

“Sejak awal kepemimpinannya, Paus Fransiskus telah menyadari akan ‘teologi yang berbeda’ dari teologi kemakmuran dan, seraya mengkritiknya, telah menerapkan ajaran sosial klasik dari Gereja,” kata mereka.

Artikel ini membingkai pertentangan Paus Fransiskus terhadap teologi kemakmuran dalam konteks kritiknya terhadap dua bidaah jaman kita, Pelagianisme dan Gnostisisme. Kritik ini mendapat penekanan resmi ketika Kongregasi untuk Ajaran Iman mengambil tema dalam sebuah dokumen yang diterbitkan beberapa bulan lalu yakni Placuit Deo.

Kedua artikel yang ditulis oleh Pastor Spadaro dan Fugueroa dalam La Civiltà Cattolica tidak merepresentasikan sikap resmi dari jurnal tersebut, para imam Yesuit atau Tahta Suci.

Tetapi Sekretariat Negara Vatikan menguji isinya sebelum diterbitkan dan meskipun demikian artikel ini memberi sinyal hubungan yang sulit antara Paus Fransiskus dan AS.

Artikel LCC yang baru tentang teologi kemakmuran ini mengandung hal penting sama seperti kecaman keras tahun lalu terhadap pemutarbalikan ekumenisme politis-teologis di Amerika.

Artikel itu menggarisbawahi pertentangan esensial antara Paus Fransiskus dan beberapa tokoh penting dalam ke-Kristen-an di Amerika saat ini: sebuah pertentangan yang bukan hanya bersifat politis, geopolitis atau berbasis kebijakan tetapi juga yang bersifat teologis dan religius.

Dibandingkan artikel tahun lalu, artikel yang baru itu tidak terlalu kritis terhadap agama Katolik yang dianut orang Amerika – setidaknya secara langsung.

Namun artikel itu bisa dibaca sebagai sebuah pesan kepada para pengikut Paus Fransiskus di AS, mengingat bahwa sebuah Amerikanisasi tertentu dari ke-Katolik-an di AS mengekspos budaya Katolik terhadap godaan dari teologi kemakmuran – khususnya jika kita melihat bagaimana pengaruh moneter berdampak pada kebijakan Gereja.

Juga ada pertimbangan geopolitik. Artikel itu diterbitkan dua hari lalu setelah pertemuan Helsinki antara Presiden Trump dan rekannya asal Rusia, Vladimir Putin.

Presiden Trump tidak hanya mengecewakan hubungan geopolitik antara AS dan Rusia tetapi juga antara AS dan Vatikan.

Meskipun demikian, Tahta Suci terpaksa melakukan dialog dengan Rusia (meskipun situasi politik dan eklesial di Ukraina) karena Putin telah memainkan peran penting – dalam cara yang tidak jujur dan manipulatif – dengan menjadi pembela umat Kristiani yang mengalami persekusi di Timur Tengah.

Dialog ini merupakan bagian dari politik riil Vatikan.

Namun sulit menemukan landasan yang sama antara Paus Fransiskus dan Presiden Trump, meskipun tercipta hubungan diplomatik yang baik.

Masalah sesungguhnya adalah bahwa teologi kemakmuran telah mengakibatkan peningkatan konservatisme baru di AS dan pemilihan Donald Trump. Ini merupakan sebuah teologi yang tidak akan hilang dengan berakhirnya masa kepemimpinan Presiden Trump.

Pastor Spadaro dan Fugueroa membantu kita memahami bagaimana Vatikan dan pembaca umat Katolik di Roma saat ini melihat AS. Roma dengan jelas menghadapi “masalah Amerika.” Dan masalahnya adalah teologis, bukan politik.

Ikuti saya di Twitter @MassimoFaggioli

Untuk artikel LCC dalam Bahasa Inggris, klik di sini.

Untuk artikel LCC dalam Bahasa Italia, klik di sini.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi