UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Umat ​​Katolik Timor-Leste Berdoa Mengakhiri Krisis Kepemimpinan

Juli 20, 2018

Umat ​​Katolik Timor-Leste Berdoa Mengakhiri Krisis Kepemimpinan

Presiden Timor-Leste Francisco Guterres Lu-Olo (depan kiri) dan Perdana Menteri Taur Matan Ruak (depan kanan) pada upacara pelantikan kabinet pada 22 Juni di Dili. (Foto: Thomas Ora)

Umat Katolik Timor-Leste melakukan apa pun yang mereka bisa untuk mencegah terjadinya krisis politik yang baru, termasuk novena  kepada Kerahiman Ilahi yang berakhir pada 19 Juli di Dili.

Novena, yang diadakan di kapel Santo Michael di Paroki Santo Antonius, bertujuan  memohon  perdamaian dan pemerintahan baru yang stabil di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Taur Matan Ruak, 62.

Ruak, yang menjabat sebagai presiden dari 2012-2017, dilantik lagi pada 22 Juni lalu, setelah Aliansi Perubahan dan Kemajuan memenangkan pemilu  pada 12 Juni. Pemilu  itu merupakan  kedua dalam waktu kurang dari setahun di negara  miskin itu, setelah pemerintah minoritas sebelumnya gagal meloloskan undang-undang apa pun.

Pastor Evaristo Fernandes da Costa Soares, yang ditunjuk oleh Uskup Virgilio do Carmo da Silva dari Dili untuk memimpin novena kepada Kerahiman Ilahi, mengatakan bahwa pemerintahan yang baru masih dalam kondisi goyah karena beberapa pos kabinet belum diisi.

“Jadi, kami mendorong umat Katolik  berdoa kepada Rahmat Tuhan untuk mengakhiri kebuntuan ini,” kata imam itu.

Orang tidak boleh meremehkan kekuatan doa jika mereka ingin negara itu ke luar dari situasi yang suram, kata Pastor Soares.

“Novena ini juga untuk membawa orang lebih dekat kepada Tuhan dan merasakan kehadiran-Nya dalam melewati  masa-masa sulit,” tambahnya.

Mery Gajeng Chang, 51, salah seorang pendevosi, mengatakan penekanan dalam devosi Kerahiman Ilahi adalah meminta kesetiaan dan kerendahan hati.

“Kami berharap politisi kami memiliki sifat rendah hati sehingga mereka dapat bekerja sama  menyelesaikan masalah politik,” katanya.

Menurut Mgr  Basilio do Nascimento, uskup Baucau, ketidakpastian politik dapat menyebabkan ketidakpercayaan dan menjauhkan investasi dari Timor-Leste.

“Jika presiden, perdana menteri, atau pengadilan bertindak sendiri-sendiri maka akan menciptakan masalah lain,” kata Uskup Nascimento, juga ketua Konferensi Waligereja Timor-Leste kepada  Timor-Post, 14 Juli.

Pada 22 Juli, perdana menteri dijadwalkan menyajikan programnya, dan proposal anggaran ke parlemen, meski kabinetnya tidak lengkap.

Bulan lalu, Presiden Francisco Guterres Lu-Olo hanya mengangkat sumpah perdana menteri dan 10 menteri. Sementara 11 orang lain ditangguhkan oleh presiden karena masih dalam penyelidikan tindak korupsi.

“Saya meminta pejabat publik  melanjutkan dialog dan mencari solusi yang lebih baik bagi negara ini, daripada mengurus kepentingan mereka sendiri,” kata Uskup Nascimiento.

Dia mendesak Lu-Olo dan Ruak  bekerja sama lebih erat demi kepentingan negara.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi