UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Gereja (Asia) Harus Tangani Pelecehan Seksual Sekarang, atau Hadapi Bencana

Juli 24, 2018

Gereja (Asia) Harus Tangani Pelecehan Seksual Sekarang, atau Hadapi Bencana

Virginia Saldanha, India

Meskipun ada seberkas harapan bagi para pendukung korban pelecehan seksual di Gereja untuk menyaksikan beberapa tindakan konkret yang diambil Paus Fransiskus dalam membongkar kedok pelaku kekerasan seksual, masih banyak yang perlu dilakukan untuk menunjukkan keseriusan Gereja dalam melindungi anak-anak dan orang dewasa yang rentan dari kejahatan ini.

Pada  November 2012 pemerintah Australia yang dipimpin Julia Gillard menunjuk Komisi Kerajaan untuk mencari tanggapan dari institusi terhadap contoh dan dugaan pelecehan seksual terhadap anak di Australia. Ini sebuah keputusan penting yang bertujuan untuk mengakhiri pelecehan terhadap anak-anak di lembaga pendidikan, kelompok agama, organisasi olahraga, lembaga negara dan organisasi pemuda.

Itu dilakukan menyusul sejumlah penyelidikan pemerintah setempat terhadap masalah ini dengan kasus terakhir di New South Wales (NSW), di mana seorang uskup di Keuskupan Katolik Maitland-Newcastle mendukung beberapa bentuk penyelidikan publik terhadap masalah ini.

Pada  November 2012, seorang perwira senior dari Kepolisian NSW mengungkapkan bahwa dia mundur dari penyelidikannya saat dia mengumpulkan bukti ‘menggemparkan” dari seorang saksi kunci. Juga ditemukan bahwa “Gereja menutupi, membungkam korban, menghalangi penyelidikan polisi, memperingatkan para pelanggar, menghancurkan bukti dan memindahtugaskan para imam untuk melindungi nama baik Gereja.”

Dengan dua uskup senior di negara itu yang dipanggil untuk menghadap komisi, dan satu yang dinyatakan bersalah, seseorang dapat melihat kegigihan komisi ini dalam melakukan tugasnya untuk membasmi kejahatan ini dari masyarakat Australia.

Anehnya di Gereja Katolik kejahatan pelecehan anak-anak disebut-sebut oleh beberapa orang sebagai masalah yang hanya menyangkut dunia yang berbahasa Inggris. Sementara itu, hal itu mengkhawatirkan dunia yang berbahasa Inggris, mengapa tidak menjadi kepedulikan Gereja di daerah-daerah yang tidak berbahasa Inggris di dunia?

Baru-baru ini dunia berbahasa Spanyol diguncang oleh masalah ketika Paus Fransiskus mengangkat Juan Barros menjadi uskup Osorno  tahun 2015, saat itu ketika sudah diketahui bahwa dia telah menutup mata terhadap klaim pelecehan. Skandal itu meledak ketika paus mengunjungi Chili pada  Januari di mana dia membela Barros. Upaya ‘memadamkan api’ oleh Paus Fransiskus  selanjutnya berhasil, namun apakah itu cukup?

Mengenai wilayah saya di Asia, di mana kisah-kisah pelecehan anak-anak dan perempuan telah muncul dan secara mengejutkan dibungkam secara teratur, orang bertanya-tanya tentang ketulusan pelayanan kepada anak-anak, remaja dan wanita yang merupakan kelompok paling rentan di bagian dunia yang sangat patriarkal ini. Gereja bisa menjadi terang dalam kegelapan kekerasan yang ditimpakan pada kelompok-kelompok rentan ini tetapi tidak dapat dimengerti ketika Gereja justru menjadi bagian dari masalah.

Kami mengetahui kebijakan yang diadopsi oleh beberapa konferensi waligereja. Namun, niat ditunjukkan ketika kebijakan disebarluaskan dan dijelaskan secara luas kepada umat beriman, rohaniwan, dan semua lembaga di Gereja.

Yang juga dibutuhkan adalah menempatkan kerangka untuk menangani dan melakukan keadilan dalam kasus-kasus pelecehan. Mempublikasikan informasi tentang orang yang bertanggung jawab atau dapat dihubungi untuk ganti rugi mutlak diperlukan. Konferensi Waligereja Jepang adalah satu-satunya yang mengambil tindakan nyata.

Kegagalan untuk mengambil tindakan konkret berakar pada budaya impunitas yang sangat patriarki dan klerikal yang tumbuh subur di Gereja Asia. Seorang imam bahkan didewakan. Membuat tuduhan terhadap seorang imam  disamakan dengan berdosa melawan Tuhan. Umumnya umat Katolik diharapkan untuk menghormati, mempercayai dan menerima setiap kata yang keluar dari mulut seorang imam.

Orang-orang yang membongkar kasus (whistle blower) dianggap jahat dan dikucilkan sehingga ketenagan tetap terjaga dan pesan yang jelas tak terucap disampaikan agar masalah pelecehan itu tidak dilanjutkan. Ancaman serangan balik membuat masalah pelecehan seksual tetap tenang.

Keheningan di balik kekerasan seksual adalah hasil yang paling merusak dari budaya ini di Asia. Ini memberi para pelaku kepercayaan diri untuk melanjutkan eksploitasi seksual terhadap anak-anak dan wanita.

Tetapi internet dan platform media sosial yang telah mempromosikan gerakan “Me Too” memiliki dampak. Saya percaya bahwa Roh bekerja dan bergerak dalam cara yang paling tidak terduga. Pada saatnya kanker jelek di Gereja ini akan diekspos dan dibasmi.

Gereja di Asia harus memutuskan lebih cepat, apakah akan mengambil tindakan pencegahan (pre-emptive) atau mengambil jalan seperti bencana tsunami dan mempermalukan secara publik.

Tindakan pre-emptive meliputi tindakan yang konkrit untuk menangani kasus-kasus yang ada dengan cara yang tegas dan adil, sehingga memulihkan kepercayaan umat beriman di Gereja yang berakar pada keadilan dan kebenaran.

Ini juga akan melibatkan penciptaan dan publikasi kebijakan tentang pelecehan terhadap anak-anak dan orang dewasa yang rentan dan melakukan program kesadaran untuk semua pemangku kepentingan yang terkait yang akan mencakup anak-anak dan orang tua mereka serta umat Gereja untuk melibatkan semua wanita.

Divisi Perempuan FABC, yang saat ini ditangani seorang imam, harus diserahkan kepada seorang wanita yang memiliki keberanian untuk mengangkat isu-isu sulit serta visi untuk menciptakan kesadaran untuk perubahan sosial dalam realitas perempuan. Perempuan yang sama harus ditunjuk untuk Komisi Nasional untuk Perempuan.

Langkah-langkah ini akan memiliki efek mengatasi masalah pelecehan anak-anak dan wanita dalam keluarga dan masyarakat juga.

 

Tentang penulis: Virginia Saldanha adalah mantan sekretaris eksekutif Komisi Kerawam Federasi Konferensi Waligereja Asia, seorang penulis lepas dan aktivis yang menangani isu-isu perempuan yang tinggal di Mumbai, India.

One response to “Gereja (Asia) Harus Tangani Pelecehan Seksual Sekarang, atau Hadapi Bencana”

  1. Francis L. Erlangga says:

    Nah lho. Apa kubilang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi