UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Korban Penculikan di Pakistan Dibebaskan,  Masih Banyak yang Hilang

Juli 24, 2018

Korban Penculikan di Pakistan Dibebaskan,  Masih Banyak yang Hilang

Para demonstran di Lahore menuntut pembebasan aktivis sosial Raza Mahmood Khan di Lahore Press Club pada Desember 2017. (Poto: Kamran Chaudhry)

Pada Juni  2012,  Asma Jahangir, ikon pembela hak asasi manusia, mengadakan seminar  untuk mengungkapkan sebuah komplotan oleh badan intelijen Pakistan yang kuat untuk membunuhnya.

Fransiskus  Xaverius (bukan nama sebenarnya), koordinator Komisi Nasional Keadilan dan Perdamaian dari Konferensi Waligereja Pakistan, berada di panggung dengan menggunakan  pengeras suara menghadap kamera yang berkedip-kedip. Hari berikutnya dia diculik.

“Dua pengendara sepeda motor menyerang saya di depan kantor saya. Saya jatuh pingsan setelah pukulan keras di belakang leher. Mereka menutup mata saya dengan pita perekat dan menempatkan helm di kepala saya,” kata ayah tiga anak itu kepada ucanews.com dengan  meminta tidak disebutkan namanya.

“Saya dibawa ke lokasi yang tidak diketahui di dalam mobil. Mereka secara mental menyiksa saya selama 14 jam. Saya dipaksa menerima telepon dari orang-orang yang menyamar sebagai rekan kerja dan anggota keluarga. Selama berbulan-bulan, saya terus berpikir untuk pindah ke kota lain. Seluruh pristiwa itu masih menghantui saya hingga sekarang.

“Agen keamanan yang kuat telah menciptakan suasana mati lemas. Negara kita hanya akan menjadi damai ketika lembaga-lembaga negara tetap bekerja dalam koridor hukum yang berlaku dan semua orang bebas untuk bekerja tanpa rasa takut.”

Xavier berbicara di hadapan masyarakat sipil yang merayakan kembalinya korban terbaru akibat penghilangan paksa.

Aktivis sosial Raza Mahmood Khan, 35, yang diculik oleh pria dengan pakaian biasa dari kediamannya di Lahore pada 2 Desember 2017. Polisi Punjab memfasilitasi kembalinya ke rumah pada 20 Juli. Seorang juru bicara polisi mengatakan Khan dalam keadaan sehat tetapi tidak membuat pernyataan karena masalah keamanan.

Khan bekerja sebagai anggota organisasi Aaghaze-Dosti (Initiation of Friendship) dan dikenal karena aktivitasnya bersama akar rumput seputar masalah persahabatan India-Pakistan. Dia biasa setiap tahun mempublikasikan kalender yang berisi karya seni oleh anak-anak sekolah dan anak-anak India dan Pakistan oleh para pemimpin di kedua sisi perbatasan.

Sensitivitas seputar inisiatif tersebut  meningkat selama beberapa tahun terakhir karena hubungan persahabatan Pakistan dengan India terus memburuk.

Organisasi-organisasi Gereja Pakistan tidak mempublikasikan berita tentang upaya perdamaian antara kedua negara. Keluarga Khan sendiri juga menolak berkomentar.

“Dia baik-baik saja. Tidak ada hal lain yang akan kami komentari,” kata Hamid Nasir, saudara laki-lakinya yang berpartisipasi dalam beberapa demonstrasi bersama dengan ayahnya yang sudah lanjut usia.

Namun, Saeeda Deep, seorang anggota Institut Perdamaian dan Studi Sekuler, melalui halaman facebooknya berterima kasih kepada semua untuk “dukungan dan upaya tak kenal takut mereka terhadap pemulangan Raza secara aman dan damai”. Dia mempelopori kampanye untuk pembebasannya.

“Meskipun ada tekanan berat, Anda dengan berani berpartisipasi dalam kamp perdamaian, protes, dan kampanye online untuk penemuan kembali orang hilang dalam suasana aman.  Ini menunjukkan bahwa perjuangan tanpa kekerasan tetap menjadi media yang kuat untuk membawa perubahan,” kata Deep.

“Ketika kita merayakan kembalinya Raza ke keluarganya, jangan lupa tentang ribuan orang yang masih hilang. Sekarang saatnya terus melipatgandakan upaya kita untuk mendukung anak-anak Baluch, Pakhtun, Sindhi, dan Punjabi yang telah hilang sekian lama. Semoga kedamaian menang dan hukum berkuasa. ”

Baik Gereja dan organisasi hak asasi manusia terus mengecam penghilangan paksa sebagai ancaman terhadap hak asasi manusia di Pakistan. Undang-undang penodaan agama yang kontroversial, yang memberlakukan hukuman mati, juga digunakan untuk menutupi kejahatan negara dan menimbulkan lebih banyak kerusakan.

Pakistan menjadi berita utama di seluruh dunia pada Januari 2017 dengan hilangnya lima aktivis dan blogger media sosial di Lahore dan Islamabad. Kampanye media sosial dan beberapa pembawa acara TV menuduh mereka memposting konten yang bersifat kesusilaan secara daring. Para pengamat militer yang kritis melarikan diri dari negara itu setelah pembebasan mereka.

Desember lalu, Federal Investigation Agency menginformasikan Pengadilan Tinggi Islamabad bahwa penyidik ​​tidak dapat menemukan bukti apa pun terhadap para blogger yang dituduh melakukan penistaan ​​agama.

Komisi Penyelidikan tentang Penghilangan Paksa (COIED) telah menerima 4.608 kasus orang hilang, dimana 3.076 telah diselesaikan dan 1.532 masih tertunda, dengan 867 dari propinsi Khyber Pakhtunkhwa di bagian utara. Komisi telah melacak 2.306 orang yang hilang.

“COIED menerima laporan 868 kasus baru selama tahun 2017, lebih tinggi dari dua tahun sebelumnya: 649 tahun 2015 dan 728  tahun 2016. Pakistan telah gagal meratifikasi Konvensi Internasional untuk Perlindungan Semua warga dari Penghilangan Paksa dan secara khusus mengkriminalisasi penghilangan paksa,” kata Komisi Nasional  Hak Asasi Manusia Pakistan dalam laporan tahunan terakhirnya.

Juga direkomendasikan untuk mengkriminalisasikan penghilangan paksa sebagai kejahatan yang berbeda dan otonom di bawah hukum pidana nasional dan meratifikasi Konvensi Internasional untuk Perlindungan Semua warga dari Penghilangan Paksa.

Tentara Pakistan membantah terlibat dalam kasus seperti itu.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi