UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Para Pemenang “Hadiah Nobel Asia” 2018 Diumumkan

Juli 26, 2018

Para Pemenang “Hadiah Nobel Asia” 2018 Diumumkan

Carmencita Abella, presiden Yayasan Penghargaan Ramon Magsaysay, mengumumkan para pemenang tahun ini untuk penghargaan yang setara dengan Hadiah Nobel Asia itu di Manila pada 26 Juli. (Foto: Jimmy Domingo)

Seorang pekerja awam beragama Katolik asal Timor Leste, seorang psikiatri asal India, seorang advokat perdamaian asal Filipina dan seorang pekerja sosial asal Vietnam adalah beberapa pemenang Penghargaan Ramon Magsaysay tahun ini.

Didirikan pada 1957, penghargaan itu merupakan penghormatan tertinggi di Asia dan dikenal secara luas sebagai penghargaan yang setara dengan Hadiah Nobel.

Penghargaan yang menggunakan nama presiden Filipina ketiga itu diberikan untuk mengenang tokoh tersebut dan dianugerahkan setiap tahun kepada individu-individu atau organisasi-organisasi di Asia yang memanifestasikan “pelayanan tanpa pamrih.”

Para pemenang penghargaan tahun ini antara lain:

  • Youk Chhang, seorang penyintas “ladang pembunuhan” di Kamboja yang mendedikasikan hidupnya untuk mendokumentasikan dan mengabadikan peringatan pembantaian itu guna memperbaiki hukum, rekonsiliasi nasional dan penyembuhan kolektif.
  • Howard Dee dari Filipina yang membentuk Bisnis Filipina untuk Kemajuan Sosial  dan yang bersama dengan seorang imam Serikat Yesus mendirikan Yayasan Pembangunan Asisi. Ia telah berkarya sebagai negosiator perdamaian antara pemerintah dan para pemberontak komunis dan Moro.
  • Maria de Lourdes Martins Cruz yang juga dikenal sebagai Mana Lou mendirikan Instituto Seculare Maun Alin lha Kristu, sebuah institut awam pria dan wanita yang didedikasikan untuk mengangkat derajat orang termiskin dari orang miskin di Timor Leste. Ia juga mendirikan Klinik Bairo-Ata, sebuah klinik besar dan gratis untuk orang miskin yang melayani rata-rata 300 pasien setiap hari dan merupakan penyedia terbesar pelayanan tuberkolosis di negara itu.
  • Bharat Vatwani yang berasal dari India dan istrinya mendirikan Yayasan Rehabilitasi Shraddha pada 1998 untuk menyelamatkan para penderita sakit jiwa yang tinggal di jalanan dan menyediakan tempat singgah, makanan dan pengobatan psikis secara gratis.
  • Vo Thi Hoang Yen dari Vietnam mendirikan Pembangunan Kapasitas dan Penelitian Disabilitas, sebuah organisasi non-profit yang berbasis di Ho Chi Minh City dengan visi untuk menciptakan “masyarakat yang setara dan tanpa diskriminasi” bagi kaum disabilitas.
  • Sonam Wangchuk dari India mendirikan Gerakan Kebudayaan dan Pendidikan Pelajar Ladakh dan mulai membina para pelajar Ladakh, 95 persen di antaranya pernah gagal lulus ujian pemerintah. Pada 1994, dengan kepemimpinan Wangchuk, “Operasi Harapan Baru” diluncurkan untuk memperluas dan mengkonsolidasi program reformasi pendidikan berbasis kemitraan.

Carmencita Abella, presiden Yayasan Penghargaan Ramon Magsaysay, mengatakan para pemenang tahun ini adalah para pelaku utama dalam menciptakan gerakan untuk meningkatkan taraf kehidupan dan mengubah masyarakat di seluruh Asia.

“Mereka telah memperlihatkan keberanian moral dan semangat untuk menjadikan masyarakat yang dilayani menjadi lebih baik, lebih ramah dan lebih adil bagi semua orang khususnya kaum marginal,” katanya.

“Para pemenang memberi kita teladan inspiratif akan visi, kepemimpinan, ketekunan dan keberhasilan,” katanya saat pengumuman para pemenang pada Kamis (26/7) di Manila.

Ia menggambarkan karya para pemenang sebagai sebuah “deklarasi pengharapan yang penuh tantangan” yang menunjukkan “kekuatan konstruktif positif dari semangat yang begitu besar.”

Penghargaan Ramon Magsaysay akan dianugerahkan secara resmi kepada para pemenang pada 31 Agustus di Pusat Kebudayaan Filipina di Manila.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi