UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Umat Stasi Dilarang Berkumpul, Beribadah Di Rumah Meski Tidak Punya Gereja

Juli 26, 2018

Umat Stasi Dilarang Berkumpul, Beribadah Di Rumah Meski Tidak Punya Gereja

Sebuah ruangan di rumah milik umat Katolik Stasi St. Anasthasia yang dipakai untuk mengadakan kegiatan keagamaan. Kini umat stasi tidak bisa lagi berkumpul di ruangan ini untuk mengadakan ibadat mingguan setelah muncul larangan dari pemerintah setempat. (Foto: Setara Institute)

Puluhan umat Katolik dari Stasi St. Anasthasia di Dusun Kampung Baru, Desa Sikabau, Kabupaten Dharmasraya, Propinsi Sumatera Barat, yang belum memiliki gedung gereja tidak bisa lagi berkumpul untuk mengadakan kegiatan keagamaan di sebuah rumah milik seorang umat Katolik setempat setelah muncul larangan dari pemerintah setempat.

Stasi yang dilayani oleh Paroki St. Barbara di Kota Sawahlunto itu kini memiliki sekitar 60 umat Katolik dari berbagai etnis seperti Batak, Nias, Jawa dan Tionghoa. Selama sekitar tujuh tahun yang lalu mereka berkumpul untuk mengadakan ibadat mingguan di rumah milik Trisila Lubis, seorang guru PNS di sebuah sekolah dasar setempat, karena stasi itu belum memiliki gedung gereja dan gedung gereja paroki terletak lebih dari 120 kilometer.

Guru PNS itu, menurut pernyataan Setara Institute yang dirilis pada Senin (23/7), telah melakukan negosiasi dengan pemuka masyarakat setempat pada 2010 dan berhasil mencapai kesepakatan bahwa umat Katolik setempat bisa berkumpul untuk mengadakan kegiatan keagamaan di rumah.

“Seiring dengan perkembangan waktu, terjadi pergantian Wali Nagari Sikabau … Pada 25 Desember 2017, seusai melaksanakan perayaan Natal bagi umat Katolik di Jorong Kampung Baru, pemerintah Nagari Sikabau, Kecamatan Pulau Punjung, mengeluarkan surat larangan yang intinya melarang umat Kristiani melaksanakan perayaan agamanya secara terbuka, sekaligus melarang melaksanakan kebaktian secara terbuka di rumah warga dimaksud dan di tempat lain di Kanagarian Sikabau,” demikian pernyataan kelompok hak asasi manusia itu.

“Surat larangan tersebut juga berisi ancaman, jika umat Katolik setempat tidak mengindahkan larangan tersebut akan dilakukan tindakan tegas. Alasan pelarangan antara lain karena umat Katolik di Jorong Kampung Baru bertambah banyak dan menghindari dampak sosial serta mengingat masyarakat Sikabau yang memegang teguh ‘Adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah,’” lanjut pernyataan tersebut.

Sudarto, seorang peneliti dari Setara Institute, menegaskan bahwa “melarang satu komunitas umat beragama untuk melaksanakan ibadah dan perayaan keagamaan sesuai dengan agama dan kepercayaannya adalah tindakan melawan hukum dan konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI.”

“Mau tidak mau pemerintah harus tegas. Dalam konflik atau sengketa rumah ibadah, pemerintah harus menjadi mediator. (Ini) jangan dibiarkan. Imbasnya bisa kemana-mana,” katanya kepada ucanews.com pada Selasa (24/7).

Pastor Frelly Pasaribu dari Paroki St. Barbara di Kota Sawahlunto mengunjungi umat Katolik di stasi itu pada Minggu (22/7) lalu.

“Saya ke sana, (tetapi) tidak ada Misa. Umat kocar-kacir, takut. Bahkan Ibu Lubis diintimidasi. Beliau dipanggil ke Kantor Dinas Pendidikan dan dicecar. Sementara (kasus ini) tidak ada hubungannya dengan profesi beliau,” katanya kepada ucanews.com.

Untuk sementara waktu, imam itu meminta umat Katolik di stasi itu untuk mengadakan ibadat mingguan di luar wilayah desa tersebut.

“Meskipun ini cukup jauh,” lanjutnya.

Sementara itu, Lubis mengatakan ia telah meminta bantuan kepada perwakilan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) di propinsi itu dan mereka telah dua kali menyurati pemerintah setempat untuk meminta klarifikasi.

“Solusinya tidak ada,” katanya kepada ucanews.com.

Katharina R. Lestari, Jakarta

5 responses to “Umat Stasi Dilarang Berkumpul, Beribadah Di Rumah Meski Tidak Punya Gereja”

  1. Feliks MIkel Kosat says:

    Dialoglah dg masyarakat setempat. Negara kesatuan Republik bisa rusak karena ada larangan semacam ini. Umat Katolik tidak sendirian, gereja Katolik sedunia sedang memperhatikan situasi ini…. kelompok eksrimist melukai semua umat beragama….

  2. Miris mendengarnya. Kami yang ada di daerah ‘bebas’ beribadah semestinya lebih tertantang dan termotivasi untuk bersyukur, rajin beribadah dan mengurus umat secara lebih baik.
    Selamat berjuang buat Romo dan bagi umat yang harus menjalani jalan DIA yang Tersalib. Doa kami mengiringi …

    Dari saya, Pastor Thomas Maduwu, OFMCap
    di Amandraya, Nias Selatan – SUMUT

  3. Yanto says:

    Kenapa ya agama yg umatnya mendeklarasikan agama rahmat unt semua umat tapi melarang sekelompok umat beribadah?

  4. Stephanus Budhy Soesetyo says:

    Dimana peranan Uskup dari Keuskupan Sumatera Barat ? Mengapa Uskup tidak menghadap Gubernur Sumatera Barat untuk membicarakan hal larangan mengadakan ibadat tersebut ? Mengapa Uskup tidak berdiri di garis depan secara militant untuk berhadapan dengan kaum Muslim garis keras di sana dan membiarkan para dombanya kocar kacir karena diancam oleh gerombolan serigala yang sangat ganas ????? Kematian tidak memiliki arti apapun bagi kita murid-murid Yesus Kristus. Dimana peranan POLRI / TNI yang harus mengayomi seluruh umat beragama di Republik ini ? Halooo, bagaimana ini Bapak Kapolri dan Bapak Panglima TNI ?????

  5. Irwan Marly says:

    Itulah bagian dari Sumbar yang semakin mundur taraf ke bertoleransinya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi