UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Umat Katolik Mengumpulkan Bantuan untuk Korban Gempa di Lombok 

Juli 31, 2018

Umat Katolik Mengumpulkan Bantuan untuk Korban Gempa di Lombok 

Presiden Joko Widodo berbicara dengan para korban gempa bumi di Pulau Lombok. Gempa berkekuatan 6,4 skala Richter mengguncang wilayah itu pada 29 Juli dan menewaskan sedikitnya 16 orang. (Foto: Sekretariat Kabinet)

Umat Katolik mulai mengumpulkan bantuan untuk ribuan orang yang terdampak oleh gempa bumi mematikan yang baru-baru ini melanda Pulau Lombok.

Gempa berkekuatan 6,4 skala Richter mengguncang pulau yang masuk wilayah Propinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) itu pada Minggu (29/7) pukul 05.47 WIB dan menewaskan sedikitnya 16 orang, menciderai 355 orang dan memaksa 5.141 orang untuk mengungsi ke tempat penampungan, demikian laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Hingga Senin (30/7) pukul 08.00 WIB, sebanyak 276 gempa susulan terjadi di wilayah itu.

Sedikitnya 1.454 rumah mengalami kerusakan, begitu pula tujuh unit fasilitas pendidikan, lima unit fasilitas kesehatan, 22 unit fasilitas peribadatan, 37 unit kios dan satu jembatan.

Gubernur Muhammad Zainul Majdi telah menetapkan status tanggap darurat selama lima hari, mulai 29 Juli hingga 2 Agustus.

“Umat Katolik sudah mulai action, mulai memberikan sumbangan. Misalnya, sekolah Katolik mengadakan aktivitas seperti pengumpulan bantuan seperti tenda. Paroki Mataram sendiri, di sekretariat paroki, sudah ada bantuan spontan dari umat, seperti beras dan mie instan,” kata Pastor Laurensius Maryono Pr, pastor Paroki St. Maria Immaculata di Kota Mataram, kepada ucanews.com.

“RS Katolik St. Antonius sudah mengadakan pelayanan kesehatan di lokasi bencana, tepatnya di Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur,” lanjutnya.

Kabupaten Lombok Timur merupakan wilayah yang paling parah terkena dampak dari bencana tersebut.

Pastor Maryono mengatakan tim tanggap darurat paroki bersama dengan tim tanggap darurat dari Komisi Pengembangan Sosial-Ekonomi (PSE) Keuskupan Denpasar dan beberapa anggota Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Mataram mengunjungi kabupaten itu pada 31 Juli.

“Kami akan mendata dulu. Kami akan mencari apa yang belum diperhatikan (oleh pemerintah dan organisasi lainnya),” lanjutnya.

Pastor Evensius Dewantoro Pr, ketua Komisi PSE Keuskupan Denpasar, mengatakan tim tanggap darurat akan tinggal di lokasi selama tiga hari.

“Lalu data itu akan dibawa pulang untuk kami diskusikan, dan kemudian kami melahirkan rekomendasi kepada Bapak Uskup dan Karina,” katanya.

Adrianus Umbu Zogara, ketua PMKRI Cabang Mataraman, mengatakan kelompoknya telah mengumpulkan 100 kilogram beras dan dua kardus mis instan.

“Kami juga menerima bantuan berupa dana. Kami akan belanjakan kebutuhan korban, misalnya untuk membangun tempat penampungan sementara,” katanya, seraya menambahkan bahwa bantuan yang terkumpul akan didistribusikan kepada para korban sekitar seminggu kemudian.

Sementara itu, Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan BNPB telah mengirimkan 50 tenda pengungsi, 100 tenda keluarga, 100 genset, 5.000 matras, 1.500 family kit, 1.500 kidsware dan 25.000 paket makanan siap saji.

Gempa yang mengguncang wilayah sekitar Gunung Rinjani setinggi 3.726 meter itu juga memicu tanah longsor sehingga memutuskan rute pendakian.

Menurut laporan media, sedikitnya 543 pendaki, banyak diantaranya warga negara asing, telah dievakuasi oleh tim penyelamat dari gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia tersebut.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi