UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Pendidikan Menjadi Fokus Utama bagi Uskup Agung Sri Lanka

Agustus 6, 2018

Pendidikan Menjadi Fokus Utama bagi Uskup Agung Sri Lanka

Uskup Agung Oswald Gomis menyampaikan kata rambutan kepada hadirin pada acara 50 tahun sebagai uskup di Kolombo pada 22 Juli. (ucanews.com photo)

Uskup Agung Emeritus Oswald Gomis menghadapi tantangan besar sejak sekolah-sekolah Katolik diambil alih untuk  dikelola oleh  Pemerintah Sri Lanka  tahun 1960-an.

Kebijakan pemerintah “tentu saja bukan hal yang baik” dan ditujukan untuk memukul Gereja Katolik, kata uskup agung berusia 85 tahun, yang sangat dihormati oleh Presiden Maithripala Sirisena atas pelayanan keagamaan dan sosialnya yang luar biasa dalam sebuah perayaan di Kolombo pada 22 Juli  lalu.

Merayakan 50 tahun sebagai uskup, Uskup Agung Gomis percaya bahwa pemerintah seharusnya tidak mengambil alih sekolah-sekolah yang dikelola Gereja pada waktu itu.

“Pemerintah mengira sekolah adalah tempat untuk konversi. Dan  sejak hari itu semua ajaran agama lain telah dirusak,” katanya. “Saya selalu percaya bahwa Gereja Katolik memiliki misi yang sangat penting di Sri Lanka, dan misi itu adalah pendidikan.”

Sekolah-sekolah Katolik memiliki misi untuk menanamkan nilai-nilai Katolik di komunitas mereka dan mempraktekan nilai – nilai itu melalui ajaran agama setiap hari.

Uskup Agung Gomis mendirikan 15 sekolah  sebagai cabang dari sekolah-sekolah yang didirikan selama masanya sebagai uskup agung.

Dia pernah menjadi anggota Komisi Legislasi  dari Universitas Kolombo. Dia adalah seorang konsultan untuk panitia pembuatan  kamus Sinhala dan tetap menjadi konselor  Universitas Kolombo.

Dia telah menulis lebih dari 30 buku dan mendirikan Kongregasi Suster Maria Tanpa Noda.

Pendidik ini juga telah menjadi editor mingguan Katolik Sinhala tertua, Gnanartha Pradeepaya (Lampu Kebijaksanaan).

Masuknya dia ke dalam jurnalisme dimulai ketika dia adalah seorang siswa sekolah yang bersama dengan beberapa teman memulai sebuah majalah berjudul The Writer dan dengan  berpikir bahwa iklan harus dibeli dan tidak dibayar.

Setelah masuk  seminari tahun 1950, ia berkontribusi pada Aloysian Herald dengan Pastor Anslem De Croos. Dia ditahbiskan menjadi imam pada 3 Februari 1958, dan pentahbisan uskupnya  tahun 1968.

Setelah menjadi editor Gnanartha Pradeepaya  tahun 1961, ia menghadapi masa-masa sulit dengan aksi serikat pekerja pers. Kemudian setelah pengenalan UU Pengambilalihan Sekolah, pers “mengalami kerugian besar karena kami mencetak buku untuk sekolah.”

Untuk menambah kesengsaraannya, pemerintah memotong pasokan kertas koran (kertas yang digunakan untuk mencetak). Tetapi dia dibantu oleh uskup Chilaw, yang memiliki pers dan mengirim kuota korannya, dan M.D Gunasena dari surat kabar Dawasa membantu memasok lebih banyak.

Uskup Agung Gomis telah mendokumentasikan catatan sejarah Gereja Katolik dan sumbangsih rakyatnya bagi Sri Lanka.

Dia adalah ketua Kantor Komunikasi Sosial  Federasi Konferensi-konferensi Waligereja Asia  selama 11 tahun dan berada di dewan direksi Radio Veritas.

Uskup agung Gomis menjelaskan bahwa pada masa itu Gereja Katolik mengalami beberapa perubahan, termasuk orientasi yang sejalan dengan budaya Sinhala. Ini diperlukan karena misionaris Prancis, Italia, Belgia dan Irlandia sebelumnya telah menjalankan misi pewartaannya di Sri Lanka.

Seni, arsitektur, perayaan tradisional seperti  Tahun Baru Sinhala dan kartu Natal lokal diperkenalkan. “Kami juga tahu bahwa ada kebaikan dalam budaya kami untuk dimasukkan ke dalam kehidupan Kristen,” kenangnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi