UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Goa Masih Menjadi ‘Baterai’ Katolikisme untuk Asia

Agustus 8, 2018

Goa Masih Menjadi ‘Baterai’ Katolikisme untuk Asia

Mgr Raul Nicholas Gonsalves (tengah) memegang Hosti Kudus pada Misa khusus pelataran Gereja St. Fransiskus Xaverius di Goa Lama, 615 km selatan Bombay, pada 3 Desember 2003. (Foto: Rob Elliott/AFP)

Goa, bekas jajahan Portugis yang sekarang memiliki pantai dengan berperingkat salah satu yang  paling terkenal di India, terus mempromosikan Kekristenan di Asia sebagai bagian dari warisan kolonialnya, demikian menurut Uskup Agung Emeritus Raul Gonsalves.

Uskup Emeritus berusia 91 tahun itu percaya para misionaris Yesuit, yang berpusat di tanah airnya pantai barat daya benua itu sejak abad ke-16, masih memiliki efek  di seluruh benua itu, meskipun ada dugaan upaya untuk “membersihkan secara etnis” wilayah tersebut sebagai basis Umat ​​Katolik di masa lalu.

Uskup Agung Gonsalves mengatakan, Goa telah menghasilkan uskup untuk sejumlah negara karena keyakinan iman yang kuat tertanam dalam begitu banyak keluarga di wilayah itu.

Negara bagian kecil India ini, yang mencakup keuskupan Goa dan Daman, telah menghasilkan sekitar 60 uskup dan kardinal untuk India, Pakistan, dan Afrika, demikian menurut Pastor Joaquim Loiola Pereira, sekretaris Uskup Agung Goa Mgr Filipe Neri Ferrao saat ini.

Keuskupan Goa dibentuk tahun 1533, 23 tahun setelah Portugis menaklukkan negara itu.

Imam pertama dari Keuskupan Goa, Pastor Andre Vaz, ditahbiskan 55 tahun kemudian  tahun 1558 di tengah perasaan umum di antara para misionaris kolonial bahwa penduduk setempat “tidak layak” menjadi imam, kata Pastor Pereira.

Uskup pertama dari negara bagian itu adalah Mgr Matheus de Castro, yang ditahbiskan  tahun 1637.

Sejak itu, banyak imam  dari Goa diangkat Vatikan menjadi uskup untuk  memimpin banyak keuskupan di India karena Goa adalah pusat Kekristenan di India setelah Kerala, kata Pastor Pereira.

Sekitar 500.000 dari 1,8 juta penduduk Goa tercatat sebagai umat Katolik, sementara di Kerala sekitar 5 juta dari 36 juta warganya adalah umat Katolik, dan 1 juta lainnya berasal dari denominasi Kristen lainnya.

Namun, dampak kedua negara ini terhadap urusan agama global sangat besar.

Misalnya, sekarang ada 80 uskup yang melayani di berbagai pos di seluruh dunia yang lahir di Kerala. Lebih dari setengah (50) dari uskup itu melayani di keuskupan negara bagian itu.

Namun, ini tidak selalu demikian. Selama era kolonial mereka dilarang melakukan penginjilan di luar negara bagian, yang sangat menurunkan pengaruh mereka.

Bahkan, jumlah uskup yang lahir di Kerala baru mulai meningkat setelah Konsili Vatikan II  (1962-65), yang menekankan karya misi bahwa  setiap Gereja harus terus berkembang maju dan menyebarkan Firman  ke seluruh dunia.

Sebaliknya, Portugis, yang memerintah Goa selama 450 tahun dengan sejarah yang sebanding dengan yang ada di Inggris, datang dengan mandat untuk terus mengekspansi misionaris. Mereka diikuti oleh para misionaris Fransiskan, Dominikan, Yesuit dan Agustinian.

“Mereka meneruskan penyebarluasan misionaris melalui Goa ke Afrika Selatan, Jepang dan Cina,” kata Pastor Pereira.

Roh misionaris ini masih terlihat di sejumlah uskup dan kardinal yang tetap aktif di India dan Pakistan tetapi jika dilacak mereka berasal dari Goa.

Contoh terbaru adalah Kardinal Joseph Coutts dari Keuskupan Agung Karachi, yang menerima topi merah pada 28 Juni.

Dia peringkat sebagai kardinal kelima dengan akar di Goa, mengikuti jejak Kardinal Valerian Gracias dari Bombay (1900-1978), Kardinal Joseph Cordeiro dari Karachi (1918-1994), Kardinal Ivan Dias (1936-2017) dan Kardinal Oswald Gracias (1944-sekarang).

Sementara di Pakistan hanya dua prelatus yang telah diangkat menjadi kardinal dan keduanya adalah – Kardinal Cordeiro dan Kardinal Coutts – juga masih berakar dari Goa.

Hubungan ini sudah ada sejak era kolonial ketika Karachi berperan sebagai pelabuhan dan bandara  “ramah” terdekat ke Pakistan.

Pada saat blokade selama tahun-tahun terakhir pemerintahan kolonial, ribuan keluarga Goa menuju ke Pakistan dengan rencana selanjutnya untuk kemudian menjelajah ke Afrika dan negara-negara lain. Namun, ada yang memutuskan untuk tinggal di sana.

Kemudian, sebelum Pemerintah Kolonial Inggris India dirancang untuk menciptakan Pakistan pada tahun 1947, ribuan orang dari Goa melakukan perjalanan, bekerja dan menetap di kota-kota besar seperti Karachi.

Setelah India dibagi, banyak yang tidak dapat kembali ke rumah leluhur mereka di Goa, di mana aset mereka dibekukan dan dianggap “milik musuh.”

Sementara banyak tokoh agama dari Goa telah menjadi terkenal, pemimpin terkemuka dari wilayah itu yang menjadi pusat perhatian adalah Altino Ribeiro de Santana, uskup pertama negara itu.

Ia dilahirkan di Porvorim dan ditahbiskan imam pada Oktober 1938. Setelah melayani sebagai asisten pastor paroki dan pastor militer, ia memperoleh gelar doktor dalam bidang teologi dari Universitas Gregorian  Roma.

Kemudian, pada usia 39, ia menjadi imam pertama dari Keuskupan Agung Goa untuk diangkat menjadi uskup dan ditahbiskan pada Oktober 1955 di Katedral Se di Goa Lama.

Pada  Juli 1955, Paus Paulus VI mendirikan Keuskupan Sa da Bandeira di Angola. Pastor De Santana diangkat sebagai uskup pertama dan melayani umat di keuskupannya sebagai misionaris sejati, setia dan tanpa lelah.

Dia tinggal di sana dari tahun 1956 hingga 1972, ketika dia diangkat sebagai uskup Keuskupan Beira di Mozambique, Afrika.

Dia meninggal karena serangan jantung sekitar satu tahun kemudian, pada 27 Februari 1973, tak lama setelah sebuah bom diledakkan di luar tempat kediamannya oleh rezim militer yang berkuasa dalam upaya untuk menakut-nakuti dia.

Pada saat itu, dia sedang menyembunyikan dua imam Portugis yang dituduh melakukan kejahatan terhadap negara dan dicap sebagai ancaman keamanan.

Setelah tubuhnya dikuburkan di Beira, warga Sa da Bandeira meminta agar jenazahnya  dibawa ke kota mereka di mana dia telah hadir dan hidup bersama mereka selama 16 tahun. Keinginan mereka dipenuhi pada  4 April 1974.

Meskipun Goa memiliki banyak tempat terkenal, desa Aldona tercatat karena telah menjadi tempat kelahiran tidak kurang dari enam uskup.

Mereka adalah mendiang Mgr Ferdinand Fonseca, uskup agung Bombay; Mendiang Mgr Anthony Lobo, uskup Islamabad, Pakistan; Mgr U Joseph Coutts, uskup Agung Karachi; Mgr Felipe Neri Ferrao, uskup agung Goa dan Daman; Mgr Evarist Pinto, uskup agung Emeritus  Karachi; dan Mgr Anil Couto, uskup agung Delhi yang juga sepupu Kardinal Coutts.

Prelatus lain dari Goa, yang menjadi Sekjen Konferensi Waligereja India adalah Mgr  Theodore Mascarenhas. Pastor Pereira mengatakan, panggilan imam keuskupan yang berlimpah sebagian berasal dari praktik keluarga di wilayah itu yang secara tradisional “mempersembahkan satu anak kepada Allah.”

Uskup Agung Gonsalves mengatakan itu juga berhubungan dengan sistem doa yang berbeda di Goa. Di masa lalu, umat Katolik di Goa akan berdoa kepada Tuhan membantu mereka memenuhi keinginan-Nya, sedangkan hari ini mereka meminta agar Dia membantu mereka melaksanakan apa yang mereka lihat sebagai mandat mereka, katanya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi