UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Para Pakar Berbicara Tentang Masa Depan  Gereja di Cina

Agustus 10, 2018

Para Pakar Berbicara Tentang Masa Depan  Gereja di Cina

Sang Pu, Profesor Ying Fuk-tsang dan Suster Beatrice Leung Kit-fun muncul di Formosa News Taiwan pada 19 Juli. (Foto: YouTube)

Tiga ahli agama asal Hong Kong berbicara tentang kebebasan beragama, hak asasi manusia dan hubungan Cina -Vatikan di acara TV Taiwan.

Mereka mengatakan di program Taiwan Formosa News bahwa kebebasan beragama di Hong Kong dan di daratan Cina telah dikurangi oleh United Front Work Department (UFWD) sayap Partai Komunis Cina (CCP).

Ketiga tamu itu adalah kritikus pemerintah Sang Pu, Profesor Ying Fuk-tsang, dekan Fakultas Teologi Universitis Cina di Hong Kong, dan Suster Beatrice Leung Kit-fun, seorang pakar hubungan Cina-Vatikan.

Sang Pu mengatakan dalam acara itu bahwa kebijakan CCP menyingkirkan agama telah ada sejak pendiriannya tetapi telah menjadi lebih parah, terutama setelah implementasi peraturan yang direvisi menyangkut urusan agama pada 1 Februari.

“Berbagai agama menghadapi anekaimacam penindasan, terutama Gereja Katolik, Gereja Protestan, dan Islam,” kata pengacara itu.

Setelah seorang anggota CCP beragama Islam  kembali dari Haji di Mekkah, ia diusir karena tidak ada anggota partai yang boleh memiliki keyakinan agama, katanya.

“Beberapa gereja secara paksa dibongkar di depan umat beriman. Semua ikon suci yang dipasang di rumah penduduk di desa-desa harus diganti dengan potret Xi Jinping, jika tidak, subsidi pemerintah dan dana pengentasan kemiskinan tidak akan tersedia,” kata Sang.

Ying mengatakan CCP masih mengklaim ada kebebasan beragama tetapi telah dieksploitasi dan berbeda dari apa yang dipikirkan orang.

“Kebebasan beragama versi mereka adalah Anda dapat mempercayai apa pun dalam pikiran Anda, tetapi tidak boleh mempraktikkannya. CCP melihat agama dari perspektif keamanan nasional, stabilitas sosial dan ketertiban, sehingga akan ada banyak pengawasan dan kontrol atas urusan agama,” katanya.

Profesor itu mencatat bahwa Presiden Cina Xi Jinping sangat mementingkan kepemimpinan partai dan suka menyebut “pegangan kuat” dalam pidato-pidatonya.

Ying menunjukkan bahwa dalam jangka panjang partai akan melakukan kontrol yang sangat ketat atas semua aspek agama. “Kita harus lebih memperhatikan keadaan kebebasan beragama di Cina,” katanya.

Suster Leung mengatakan kebijakan kebebasan beragama Cina diusulkan oleh Li Weihan, menteri Front Persatuan di era Mao Zedong. Kebijakan serupa diulang oleh Ye Xiaowen, menteri agama di era Deng Xiaoping. Paradoksnya, mereka percaya bahwa kebebasan beragama adalah cara terbaik untuk melawan kebebasan beragama.

Suster Leung, seorang profesor peneliti tamu di fakultas bahasa universitas Wenzao Ursulin Taiwan, mengatakan pelarangan Tiongkok terhadap anak-anak di bawah umur 18 tahun memasuki gereja-gereja adalah pukulan fatal bagi agama-agama tradisional.

Dia mengatakan manajemen demokrasi yang diadvokasi oleh CCP, membiarkan para imam, biarawati dan umat beriman mengelola gereja tanpa para uskup yang mewakili Kristus dalam hierarki, adalah cara lain untuk melenyapkan agama.

Dia mengatakan Gereja Katolik di Hong Kong memiliki sistem dan organisasi yang kuat, sehingga CCP hanya memiliki sedikit ruang untuk kerjasama dengan gereja. Tetapi mereka akan menggunakan “racun berlapis gula” seperti memberi uang kepada para imam dan biarawati.

Sang Pu merasa bahwa perjanjian Cina-Vatikan tentang penunjukan uskup akan ditandatangani, tetapi dia tidak optimis tentang hubungan Taiwan-Vatikan.

Suster Leung mengatakan CCP berharap untuk menandatangani perjanjian dengan Vatikan tetapi Paus Fransiskus tidak segera setuju setelah melihat oposisi yang kuat. Suster Leung percaya bahwa tidak mendesak bagi Vatikan untuk menjalin hubungan dengan Tiongkok.

“Bahkan jika ditandatangani, ada banyak hal yang harus segera diurusi. Hubungan antara Taiwan dan Vatikan juga merupakan masalah yang harus dihadapi karena kontribusi Taiwan kepada Vatikan juga besar,” katanya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi