UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Caritas Berusaha Memerangi Kelaparan di Asia Selatan   

Agustus 13, 2018

Caritas Berusaha Memerangi Kelaparan di Asia Selatan   

Para pejabat Caritas India menyerahkan paket benih kepada para petani secara simbolik untuk proyek pertanian selama lima tahun di New Delhi pada 31 Juli. Proyek itu bertujuan membantu para petani kecil meningkatan ekonomi, pangan dan keamanan nutrisi. (Foto: Bijay Kumar Minj/ucanews.com)

Caritas telah meluncurkan sebuah proyek yang bertujuan  mengakhiri kelaparan di Asia Selatan  tahun 2030.

Caritas India meluncurkan program itu bekerjasama dengan mitra internasionalnya untuk membantu para petani menyesuaikan metode pertanian untuk mengatasi kondisi iklim yang tidak menentu.

“Perubahan iklim adalah tantangan global dan mempengaruhi produksi pertanian dan kesejahteraan manusia. Ini sangat berpengaruh kepada orang-orang secara langsung bergantung pada pertanian untuk makanan dan mata pencaharian,” kata Sunil Simon, kepala proyek khusus India.

The Small Adaptive Farming and Biodiversity Network diluncurkan pada  Juni pada Konferensi Regional Caritas Asia di Bangkok, Thailand.

“Program unik ini bertujuan  mencapai tujuan bersama kami untuk mengakhiri kelaparan  tahun 2030,” kata Christoph Schweifer, sekjen Caritas Austria.

Proyek ini secara resmi diluncurkan di New Delhi, India, pada 31 Juli. Caritas Banglades, Nepal, dan Pakistan akan melaksanakan program tersebut dengan dukungan Caritas Austria dan Caritas Swiss.

Skema ini bertujuan  memerangi kelaparan dan malnutrisi dengan mempromosikan makanan lokal melalui pertanian skala kecil di daerah-daerah terpilih di Asia Selatan dalam konteks perubahan iklim, kata Simon.

Program ini akan berkontribusi untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan meningkatkan gizi serta mempromosikan pertanian berkelanjutan di Asia Selatan.

Sementara 40 persen dari populasi global bekerja di sektor pertanian, 54,6 persen dari 1,2 miliar penduduk India adalah petani, menurut studi PBB. Meskipun lebih dari separuh penduduk India adalah petani, pertanian hanya menyumbang 15 persen dari produk domestik bruto negara itu.

India memiliki hampir 191 juta orang yang kelaparan, atau 25 persen dari total dunia, yang tidak memiliki makanan lengkap setiap hari, menurut laporan PBB tahun  2017 tentang keadaan keamanan pangan dan gizi.

Sekitar 51 persen dari wanita India usia subur (15-49) mengalami anemia karena kekurangan makanan seimbang, sementara 38 persen anak India mengalami pertumbuhan yang lambat karena kekurangan makanan bergizi, kata laporan itu.

Proyek ini bertujuan  menciptakan jaringan diantara para petani untuk mendiskusikan lingkungan mereka, iklim dan ekonomi agraris untuk menemukan masalah khusus yang terjadi pada mereka. Mereka kemudian akan menemukan solusi yang dapat diterima secara lokal dan mengujinya sampai menemukan solusi terbaik.

“Saling berbagi, belajar pemecahan masalah secara proaktif antara petani, ilmuwan pertanian dan organisasi pemerintah dan non-pemerintah adalah inti dari proyek ini,” kata Simon.

Proyek lima tahun ini bertujuan memberi manfaat  kepada 10.000 petani di India dan 40.000 di seluruh Asia Selatan sebelum berakhir tahun  2022, katanya.

Direktur Caritas India Pastor Paul Moonjely mengatakan petani kecil sangat penting dalam mencapai tujuan ketahanan pangan dan gizi bangsa.

Proyek ini juga bertujuan agar  menghasilkan permintaan untuk produk pertanian kecil di pasar, terutama di kota-kota. Sehingga ada pendapatan bagi petani dan mempromosikan agro-keanekaragaman hayati dan pelestarian lingkungan, katanya.

Asia Selatan bergantung pada petani kecil yang menanam di lahan yang kurang dari dua hektar, menurut T. Haque, mantan ketua kebijakan pertanahan di Komisi Perencanaan India.

Sementara petani Korea Selatan dan Jepang dengan mudah mendapatkan pendapatan lima digit setiap tahun, rata-rata petani kecil India berpenghasilan kurang dari US $ 1.000 per tahun, katanya.

Haque percaya bahwa prestasi petani Korea dan Jepang terletak pada kebanyakan asosiasi petani kecil yang mereka dirikan. Proyek baru tersebut telah memasukkan ini sebagai strateginya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi