UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Warga  Filipina Sambut Baik Janji AS Mengembalikan Lonceng Gereja Bersejarah

Agustus 14, 2018

Warga  Filipina Sambut Baik Janji AS  Mengembalikan Lonceng Gereja Bersejarah

Sebuah marching band melewati gereja Katolik di kota Balangiga selama untuk menandai Pesta San Lorenzo de Martir pada 9 Agustus. (Foto: Christopher C. Zamora)

Warga Filipina sambut baik pengumuman pemerintah Amerika Serikat (AS) bahwa mereka akan segera mengembalikan lonceng gereja yang disita oleh pasukan AS  sebagai barang rampasan  selama Perang Filipina-Amerika lebih dari satu abad  lalu.

Dalam sebuah pernyataan pada 11 Agustus, Kedutaan Besar AS di Manila mengatakan Kongres telah diberitahu tentang rencana untuk mengembalikan “Lonceng Balangiga” ke Filipina.

Tentara AS merampas lonceng gereja dari kota Balangiga,  Filipina Tengah, menyusul pembantaian penduduknya sebagai tanggapan atas kematian 48 tentara AS di tangan pemberontak tahun 1901.

“Kami telah menerima jaminan bahwa lonceng akan dikembalikan ke Gereja Katolik dan diperlakukan dengan hormat dan menghormati warga Balangiga itu secara layak,” kata Jubir  Kedutaan AS Trude Raizen.

“Kami sadar bahwa lonceng Balangiga memiliki makna yang dalam bagi sejumlah orang, baik di AS maupun di Filipina,” tambahnya.

Berita itu datang ketika kota Balangiga merayakan hari raya santo pelindungnya, Santo  Lorenzo,  martir, pada 10 Agustus.

AS tidak memastikan tanggal tertentu kapan lonceng akan dikirim kembali.

“Jika berita itu benar, maka itu akan sangat bagus bagi kami,” kata walikota Balangiga, Randy Graza, seraya menambahkan bahwa itu akan menambah semarak perayaan.

Presiden Rodrigo Duterte menganggap penting  permintaan kembalinya Lonceng Balangiga selama keadaan negara   memerlukan itu tahun lalu.

“Berikan kami kembali lonceng Balangiga itu. Itu milik kami. Lonceng-lonceng itu milik Filipina. Lonceng-lonceng itu adalah bagian dari warisan bangsa  kami,” kata presiden.

Konferensi Waligereja Filipina meminta lonceng-lonceng itu dikembalikan, dengan mengatakan bahwa lonceng-lonceng itu adalah “artefak religius dengan makna yang sangat mendalam  terhadap tradisi Katolik.”

Para prelatus itu mengatakan lonceng digunakan memanggil orang-orang untuk berdoa dan beribadah dan “karena itu lonceng adalah barang rampasan perang yang tidak pantas.”

Lonceng gereja Balangiga tetap kosong sebagai pengingat kehilangan lonceng.

Pengambilan lonceng dan pemecatan AS atas Samar terjadi setelah para pejuang kemerdekaan Filipina menyergap dan menewaskan sedikitnya 40 serdadu AS yang sedang sarapan.

Mereka adalah bagian dari 75  anggota  garnisun AS yang ditempatkan di kota itu. Dikatakan lonceng digunakan untuk menandakan serangan itu.

Pemberontak menyamar sebagai wanita yang menyelundupkan senjata dalam peti mati kecil ke gereja untuk menyerang pasukan AS.

Setidaknya 28 warga Filipina juga tewas dalam apa yang menurut sejarawan adalah “kekalahan terburuk” pasukan AS selama 1899-1902 Perang Filipina-Amerika.

Sebagai balasan, AS mengumpulkan dan membunuh sekitar 5.000 warga desa Balangiga. Semua penduduk laki-laki di atas 10 tahun tewas. Insiden itu dikenal sebagai Pembantaian Balangiga.

Lonceng gereja dibawa ke AS dan tidak pernah kembali meskipun ada beberapa petisi oleh Gereja Katolik dan pemerintah Filipina.

Serangan dan pembalasan berikutnya tetap menjadi salah satu isu yang paling lama berjalan dan paling diperdebatkan antara Filipina dan AS.

Dua lonceng berada di Pangkalan Angkatan Udara F.E. Warren di luar Cheyenne, Wyoming, sementara yang ketiga disimpan oleh Resimen Infantri ke-9 AS di Korea Selatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi