UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Sejumlah Ulama di Pakistan Beri Penghormatan untuk Mendiang Kardinal Tauran 

Agustus 17, 2018

Sejumlah Ulama di Pakistan Beri Penghormatan untuk Mendiang Kardinal Tauran 

Uskup Agung Sebastian Shaw (nomor tiga dari kiri) bersama para ulama dan pendeta di Katedral Hati Kudus di Lahore, Propinsi Punjab, ketika mereka memberi penghormatan kepada mendiang Kardinal Jean-Louis Tauran asal Perancis. Kardinal meninggal di Amerika Serikat pada 5 Juli pada usia 75 tahun setelah menderita penyakit Parkinso. (Foto: Kamran Chaudry/ucanews.com)

Sejumlah ulama di Propinsi Punjab, Pakistan, memberi penghormatan kepada mendiang Kardinal Jean-Louis Tauran asal Perancis dalam sebuah peringatan arwah yang diadakan di Lahore pada Minggu (12/8).

Kardinal Tauran, mantan ketua Dewan Kepausan untuk Dialog Antarumat Beragama, meninggal di Amerika Serikat pada 5 Juli pada usia 75 tahun setelah sekian tahun berjuang melawan penyakit Parkinson yang dideritanya.

Ia mengunjungi Republik Islam itu delapan tahun sebelumnya dan memberi dampak yang kuat dalam upayanya untuk mempromosikan kerukunan antaragama.

“Ini kehilangan bagi kami. Kami sedih atas kematian Kardinal yang mengisi hidupnya di antara orang-orang seperti kami,” kata Allama Zubair Abid dalam acara itu.

“Sekitar 15 tahun lalu pertemuan-pertemuan antaragama seperti ini tidak mungkin dilakukan di Pakistan. Kami menghormati siapa saja yang mempromosikan perdamaian dan menolak ekstremisme tanpa memandang agama mereka,” lanjutnya.

Allamu adalah satu dari sekitar 12 umat Islam yang mengikuti acara yang digelar di Katedral Hati Kudus di kota itu.

Upacara khusuk itu dimulai dengan pembacaan Alquran oleh Qari Khalid Mehmood dari Dewan Punjab dan diakhiri dengan pembacaan Doa Damai dari St. Fransiskus.

Kardinal Tauran, mantan ketua Dewan Kepausan untuk Dialog Antarumat Beragama, nampak dalam sebuah seminar tentang intoleransi agama, ekstremisme dan kekerasan di Kairo, Mesir, dalam foto yang diambil pada 22 Februari 2017 ini. (Foto: Ahmed Ismail/AFP)

 

Dalam kunjungannya ke Pakistan pada 2010, Kardinal Tauran bertemu mantan Presiden Asif Ali Zardari di Islamabad. Ia mendesak Zardari untuk mengampuni Asia Bibi, seorang ibu beragama Nasrani yang dihukum mati di bawah UU Penodaan Agama di negara itu.

Dua tahun kemudian, ia menyuarakan dukungannya untuk Rimsha Masih, seorang gadis asal Pakistan yang menderita keterbelakangan mental dan ditahan karena diduga membakar sebuah Alquran.

Di Lahore, prelatus itu meresmikan Pusat Perdamaian Dominikan dalam sebuah upacara yang dihadiri oleh para pemimpin Gereja Katolik dan Gereja (Protestan) Pakistan serta beberapa tokoh agama Bahai, Hindu, Islam dan Sikh.

Ia kemudian bertemu dengan para ulama dan tokoh agama lain dalam sebuah pertemuan yang diselenggarakan oleh Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Lahore.

Setelah pertemuan itu, seorang staf dari pusat perdamaian secara rutin mengirim ucapan melalui email yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Urdu untuk para pemimpin Muslim saat Hari Raya Idul Fitri.

Kardinal Tauran juga memberi beasiswa selama enam bulan kepada tiga guru Muslim yang belajar tentang agama Kristen di Vatikan.

Sohail Ahmad Raza, direktur hubungan antaragama Minhaj-ul-Quran International, sebuah LSM yang didirikan pada 1980, membagikan kenangan akan pertemuannya dengan Kardinal.

“Suatu hari saya berjalan memasuki sebuah gereja dengan mengenakan sebuah topi. Umat minta saya untuk melepas topi untuk menghormati Kardinal. Tapi Kardinal melihat apa yang sedang terjadi dan mengijinkan saya untuk tetap memakai topi,” katanya kepada ucanews.com.

“Ia adalah orang yang penuh kasih sayang dan rendah hati. Kita tentunya merindukan pesan cinta kasihnya untuk Hari Raya Idul Fitri,” katanya.

Uskup Agung Lahore Mgr Sebastian Shaw mengatakan mendiang Kardinal Tauran adalah orang yang terkenal karena tidak pernah melupakan nama beberapa orang. Ia mengingat semua tamu Muslim yang diterimanya dari Pakistan bahkan saat ia sudah menginjak tua dan berjuang melawan penyakitnya.

“Saya tahu ia juga merasa sangat sakit atas penderitaan warga Muslim Rohingya (di Myanmar dan di kamp-kamp pengungsi di Banglades),” kata prelatus itu.

“Kunjungannya yang terakhir ke Arab Saudi berfokus pada peletakan landasan yang kuat untuk hubungan yang lebih dekat antara Tahta Suci dan Riyadh. Kita telah kehilangan seorang pemenang sejati dialog anataragama,” katanya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi