UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Caritas Myanmar Bantu Korban Banjir

Agustus 20, 2018

Caritas Myanmar Bantu Korban Banjir

Para pekerja bantuan di Myanmar membawa karung beras yang disediakan oleh Karuna Mission Social Solidarity (KMSS) di Yangon bagi para korban banjir di Bago awal Agustus. (Foto: KMSS-Yangon)

Karuna Mission Social Solidarity (KMSS) – nama Caritas Myanmar – terus mempercepat bantuan bagi warga desa yang terkena dampak meluasnya banjir di negara Asia Tenggara itu.

Meski terus memantau  kondisi, tim bantuan KMSS-Mawlamyine yang dipimpin oleh Salai Bosco telah mengirimkan bantuan makanan ke desa-desa yang terkena dampak banjir di kota Palaw kotamadya Tanintharyi, Myanmar selatan.

Bosco mengatakan beras adalah prioritas utama karena banyak hasil panen penduduk desa turut hanyut terbawa banjir.  Mereka juga tidak dapat memberi makan keluarga mereka  karena  tidak menemukan beras untuk dibeli di pasar lokal.

Kelima desa yang menjadi fokus mereka adalah yang terkena dampak terparah  akibat hujan lebat, dan beberapa LSM sudah mencapai lokasi tempat kejadian dan mulai menyalurkan bantuan.

Bosco mengatakan penduduk desa di daerah yang terkena dampak berasal dari kelompok suku Kayin – yang kebanyakan adalah warga Gereja Baptis bersama  minoritas Katolik dan Buddha. Sebagian besar dari mereka mempertahankan hidup  mereka sendiri dengan menanam buah pinang dan bekerja di sawah tetapi banjir telah membuat mereka berhenti bekerja untuk sementara ini, membuat mereka harus berjuang dengan berbagai cara lain, katanya.

Setidaknya 33 rumah mereka telah hancur total, tambahnya.

 

Pastor Hubert Myo Thant Oo, direktur KMSS-Mawlamyine, mengatakan penduduk desa telah meminta beras selama tiga bulan ke depan untuk menghidupi mereka.

“Kami telah meminta secara  resmi ke kantor pusat  kami menanyakan apakah mereka dapat memenuhi permintaan ini karena lebih banyak dana diperlukan untuk mengirimkan beras kepada  232 keluarga,” kata Pastor Myo Thant Oo kepada ucanews.com.

Tanithargyi telah menanggung beban banjir sejak 9 Juli dan sekarang bersiap-siap  menghadapi kesulitan gelombang kedua karena hujan masih terus melanda kawasan itu.

Sedikitnya 20 orang tewas dan lebih dari 150.000 orang mengungsi. Mayoritas sekarang sedang mencari nafkah di kamp-kamp bantuan di daerah Mon, Kayin, Taniithargyi, Bago, Sagaing dan Magwe, Kementrian Manajemen Bencana Myanmar melaporkan itu pada 9 Agustus.

Rumah, jembatan dan jalan juga telah hancur di beberapa daerah di Myanmar selatan karena hujan deras dan angin kencang.

Alam menyerang lagi

Sementara itu, KMSS-Hpa-an terus mengirim beras ke desa-desa di Negara Bagian Kayin, salah satu daerah yang terkena dampak  parah di mana lebih dari 26.000 orang yang terlantar sekarang tinggal di 67 kamp pengungsian.

Pastor Paul Thar San, direktur KMSS-Hpa-an, mengatakan bahwa mereka baru-baru ini mengirim 150 karung beras ke tiga desa di dekat ibu kota negara bagian Hpa-an.

“Beberapa kamp telah ditutup tetapi yang lain masih cukup penuh,” katanya. “Sekarang mereka khawatir akan kemungkinan menghadapi banjir besar babak kedua.”

Sawah yang cukup luas  hancur berantakan sehingga penduduk setempat memerlukan  dukungan bantuan jangka panjang untuk mendorong pemulihan mereka, tambahnya.

Lebih dari 1,1 juta hektar sawah telah terkena dampak banjir di seluruh negeri dan 300.000 acre rusak, demikian menurut Kementerian Pertanian dan Peternakan dan Irigasi.

Dalam upaya untuk membantu, KMSS-Yangon telah menyediakan peralatan kebersihan, beras, minyak dan garam untuk 27.000 orang dari 35 desa di kota Shwegyin, Bago Division.

Lympard Fransiskus, koordinator program darurat kantor pusat KMSS, mengatakan bahwa organisasi tersebut telah menyediakan dana setara Rp 49 juta ke cabang-cabangnya di Mawlamyine dan Hp-an dari dana khusus Lenten.

Mereka bertemu pada 6 Agustus bersama dengan cabang Yangon dan lembaga gereja lainnya, Caritas Australia, CAFOD, Catholic Relief Services (CRS) dan Trocaire untuk membahas cara mempercepat pemulihan desa-desa itu .

Fransiskus mengatakan mereka akan melakukan survei penilaian dan pertama-tama memberi bantuan kepada desa-desa yang paling membutuhkannya.

Wakil Presiden Myanmar, Henry Van Thio pada 8 Agustus, bersepakat   untuk membentuk badan koordinasi yang memfasilitasi rehabilitasi yang lebih cepat dan mengidentifikasi dengan jelas daerah-daerah yang terkena dampak paling parah.

Van Thio, ketua Komite Manajemen Bencana Alam, mengatakan ini harus segera mengikuti operasi pencarian dan penyelamatan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi