UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Misionaris  Fransiskan Mewartakan Kabar Baik   di Wilayah  Ekstremis  Mindanao

Agustus 22, 2018

Misionaris  Fransiskan Mewartakan Kabar Baik   di Wilayah  Ekstremis  Mindanao

Pastor Elton Viagedor OFM merayakan Misa di sebuah desa di Basilan, Filipina bagian selatan. (Foto: ucanews.com)

Tak gentar dengan ancaman bahaya yang ditimbulkan oleh para kelompok ekstremis di wilayah Mindanao,  Filipina selatan, para misionaris Fransiskan mempersembahkan Misa dan pelayanan   lainnya di pegunungan propinsi Basilan, rumah kelompok terror Abu Sayyaf.

Pastor Elton Viagedor OFM, imam dari San Roque di kota Lantawan, mengatakan bahwa mereka ingin menunjukkan bahwa Gereja itu “sentrifugal” dalam pendekatan misionarisnya, yang dapat “fleksibel dalam menyebarkan misi.”

“Kami mengadakan Misa baik di jalan-jalan atau di halaman belakang untuk menunjukkan bahwa Gereja tidak harus menunggu umatnya datang ke kapel paroki,” kata imam itu kepada ucanews.com.

Dia mengatakan itu adalah “cara sederhana dari Ordo Fransiskan untuk menjawab tantangan hari ini untuk keluar dari kenyamanan di paroki atau biara-biara dan hidup bersama orang-orang terpinggirkan.”

“Bersama orang terpinggirkan, kita berubah,” kata Pastor Viagedor.

“Sebagai Fransiskan, saya percaya bahwa kita harus bersedia untuk pergi ke pinggiran, bahkan jika wilayah-wilayah itu dianggap berisiko dan sulit,” kata imam itu.

“Keberanian seperti itu tidak didorong oleh arogansi tetapi oleh fakta sederhana bahwa kita bergantung pada anugerah Allah dan oleh keinginan untuk bertemu warga di pinggiran,” tambah Pastor Viagedor.

Imam itu mengatakan Misa yang ia rayakan di jalan-jalan tidak dimaksudkan untuk menarik umat Islam untuk masuk Kristen, sambil mencatat bahwa orang-orang di propinsi itu memelihara hubungan antaragama dan antar-budaya yang sehat.

Misa jalanan atau halaman belakang diadakan setiap  Sabtu kedua, ketiga, dan keempat setiap bulan.

Pastor Viagedor memprioritaskan persembahan Misa Jalanan karena banyak umat paroki jarang menghadiri perayaan Ekaristi.

“Hidup, bekerja dan melayani umat ini sangat transformatif dan memperkaya saya sebagai seorang misionaris,” katanya.

Propinsi Basilan adalah tugas kedua misionaris berusia 28 tahun setelah “baptisan api” di kota Marawi, yang dirusak oleh lima bulan bentrokan tahun lalu antara pasukan pemerintah dan gerilyawan Isis.

Konflik membuat sekitar 400.000 orang mengungsi.

Paroki Pastor Viagedor di Basilan melayani 231 keluarga Katolik di dua desa berpenduduk mayoritas Muslim di kota Lantawan, tempat kelahiran pemimpin teroris Isnilon Hapilon, yang dilaporkan sebagai emir yang ditunjuk dari kelompok Isis Asia Tenggara.

Pada  31 Juli, sebuah bom mobil yang kuat meledak di Basilan, menewaskan 11 orang. Tahun ini saja, setidaknya 55 kelompok terrorist Abu Sayyaf menyerah kepada pihak berwenang.

Pastor Viagedor menggambarkan propinsi kepulauan sebagai pinggiran tidak hanya secara geografis tetapi juga “secara ekonomi, politik dan budaya,” tetapi dia mengatakan dia menganggap penugasannya di Basilan sebagai “hak istimewa dan berkah.”

“Di sini saya menemukan bentuk-bentuk wacana alternatif terutama dari kehidupan orang-orang di akar rumput,” katanya, seraya menambahkan bahwa dia akan terus pergi keluar dengan warga “yang merupakan perwujudan sejati dari gereja.”

Dari sekitar 400.000 penduduk Basilan, 126.000 adalah umat Katolik yang dilayani oleh 20 imam, termasuk empat Fransiskan dan lima misionaris Claretian yang melayani 10 paroki di bawah Prelatur Isabela.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi