UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Warisan Seorang Pastor Misionaris Polandia yang Luar Biasa

September 7, 2018

Warisan Seorang Pastor Misionaris  Polandia  yang Luar Biasa

Habil Josef Glinka SVD, yang mendedikasikan hidupnya Bari orang Indonesia, meninggal pada usia 86 tahun pada 30 Agustus, di Surabaya, Jawa Timur. (Foto: Pater Fritz Meko SVD)

Lima puluh tahun sukses di bidang akademik di Indonesia membawa pujian kepada Pastor Habil Jozef Glinka SVD baik dari rekan-rekan Katolik maupun umat  dari agama-agama lain.

Misionaris asal Polandia itu meninggal karena usia lanjut pada 30 Agustus  lalu, usia 86 tahun, di Rumah Sakit Katolik Vincentius a Paulo  Surabaya, Jawa Timur, empat hari setelah biografinya diluncurkan.

Pastor Fritz Meko SVD yang tinggal bersamanya di Surabaya, menceritakan bahwa Pastor Glinka meramalkan waktu kematiannya, tetapi percaya bahwa dia akan hidup selamanya lewat karya nyata yang sudah ia lakukan selama hidupnya.

Pastor Meko mencatat bahwa Pastor Glinka sering mengajarkan  para pengkhotbah untuk perlu membaca secara luas untuk menanamkan pemahaman Kristiani dengan cara yang menarik dan menjawab tantangan zaman.

Pastor Glinka, yang ditahbiskan  tahun 1957, tiba di Indonesia  tahun 1964 bersama 20 rekannya.

Dia sebelumnya belajar di Universitas Adam Mickiewicz, Poznan, Polandia, yang mempelajari secara khusus bidang ilmu bioantropologi, spesialisai dalam bidang biologi dan perilaku manusia.

Tahun 1965, Pastor Glinka mulai mengajar antropologi di Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero, Flores, NTT,  tempat ia tinggal hingga tahun 1985.

Akademisi Polandia itu juga mengajar antropologi di kampus-kampus seperti Universitas Nusa Cendana  Kupang, ibukota provinsi Nusa Tenggara Timur, Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta dan Universitas Airlangga  Surabaya, Jawa Timur.

 

Warisan akademik

Pastor Glinka, yang terkenal sebagai pelopor bioantropologi di Indonesia, pensiun  tahun 2010.

Pelopor lain dari disiplin ilmu itu, adalah seorang  ilmuwan Katolik Adi Sukadana, yang meminta Pastor Glinka untuk bergabung dengan Universitas Airlangga, tempat ia melakukan beberapa karyanya yang paling terkenal.

Dalam sebuah wawancara yang dipublikasikan di situs web kampus itu, Pastor Glinka mengatakan bahwa ia pindah ke universitas itu setelah Sukadana menulis kepada Superior General SVD di Roma menjelaskan bahwa keahliannya dibutuhkan karena bioantropologi adalah sesuatu yang baru bagi Indonesia.

Beberapa Cendikiawan Muslim menuduh Pastor Glinka  mencoba untuk mengkristenkan mahasiswa di kampus mayoritas Muslim.

Tetapi, para mahasiswa berdemonstrasi ketika mereka mendengar bahwa dia akan dipindahkan dan berhasil menuntut agar rektor mempertahankannya.

Pastor Glinka menulis delapan buku, 58 artikel ilmiah, dan 35 artikel tentang antropologi dalam berbagai bahasa.

Bernada Triwara Rurit, yang menulis biografinya, mengatakan bahwa seperti  prestasinya sendiri di bidang bioantropologi, pastor SVD ini  menyiapkan berbagai asisten untuk mengajar mata kuliah itu  di universitas.

Pastor Glinka juga menyumbangkan ribuan bukunya ke perpustakaan kampus itu.

 

Dihormati bahkan oleh non-Katolik

Kongregasi SVD  mengambarkan Pastor Glinka ini sebagai teladan bagi orang-orang biasa serta siswa dan akademisi lainnya.

Pemimpin Umum Konggregasi SVD, Paul Budi Kleden, mengatakan kepada ucanews.com bahwa Pastor Glinka adalah seorang misionaris yang mengintegrasikan intelektualisme dengan menjembatani sains, iman, dan nalar dengan panggilan imamatnya.

“Kami kehilangan seorang misionaris dan ilmuwan hebat,” kata Pastor Kleden.

Perginya Pastor Glinka membuat banyak orang berkabung  dalam  seluruh spektrum luas masyarakat Indonesia.

Pejabat publik, termasuk gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, memberikan penghormatan  terakhirnya sebelum ia dimakamkan pada 1 September di Surabaya.

“Terima kasih atas dedikasi Anda untuk peningkatan pendidikan di Indonesia,” Parawansa menulis di halaman Facebook-nya.

Ignasius Jonan, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral dan satu-satunya orang Katolik di kabinet, memuji dedikasi Pastor Glinka.

“Dia memberi kami sebuah contoh tentang bagaimana benar-benar membaktikan kehidupan seseorang kepada banyak orang,” katanya setelah menghadiri Misa requiem untuk imam itu  yang meninggalkan jejak manis di sebuah negeri asing.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi