UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Larangan Kadet Polwan Picu Debat Soal Seksisme di Thailand

September 12, 2018

Larangan Kadet Polwan Picu Debat Soal Seksisme di Thailand

Polwan berparade di Akademi Kepolisian Kerajaan (AKK) di Propinsi Nakhon Pathom untuk merayakan Hari Polisi Nasional pada Oktober 2010. (Foto: Pomchai Kittiwongsakul/AFP)

Pemerintah Thailand memancing kritik atas keputusannya untuk menghentikan pendaftaran tes masuk akademi kepolisian bagi perempuan mulai tahun depan.

Otoritas menolak memberikan penjelasan di balik keputusan mereka untuk mengembalikan fungsi Akademi Kepolisian Kerajaan (AKK) sebagai sebuah institusi hanya untuk laki-laki. Mereka sekedar mengumumkan keputusan itu sebagai perubahan kebijakan.

“Ini kebijakan (baru),” kata Worawut Sripakhon, kepala AKK, kepada media Thailand. “Kami tidak diperkenankan menyampaikan informasi lebih dari itu.”

Institusi yang telah berusia seabad dan berbasis di Bangkok itu menerima 300 siswa baru setiap tahun. Sampai saat ini, AKK menerima sejumlah perempuan.

Para pengkritik khawatir keputusan itu merupakan sinyal adanya suatu upaya baru untuk melarang perempuan menduduki posisi-posisi berpengaruh di sebuah bangsa konservatif di mana tuas kekuasaan telah lama berada di tangan laki-laki.

“Ini langkah yang sangat mundur bagi hak-hak perempuan dan keselamatan perempuan di Thailand,” kata Jadet Chaowilai, direktur Gerakan Progresif Perempuan dan Laki-Laki, sebuah kelompok advokasi.

Para pembela hak asasi manusia mengatakan semakin sedikit jumlah polisi wanita (Polwan), para perempuan yang menjadi korban kejahatan bisa semakin dikorbankan khususnya ketika bersentuhan dengan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan pelecehan seksual.

Kepolisian Thailand telah lama menghadapi tuduhan bahwa mereka sering menutup mata terhadap kasus-kasus KDRT dan perkosaan termasuk sejumlah kasus serius yang melibatkan turis asing.

Praktek saat ini, para perempuan yang melaporkan bahwa mereka menjadi korban perkosaan sering diwawancarai oleh Polwan supaya mereka merasa lebih nyaman.

Para pengkritik mengatakan jika ada sedikit Polwan maka hanya ada sedikit Polwan yang melakukan pemeriksaan tubuh terhadap perempuan yang menjadi terduga pelaku kejahatan di jalan.

Thailand sudah lama mengalami kekurangan jumlah Polwan. Saat ini Polwan hanya berjumlah sekitar delapan persen dari 230.000 aparat polisi di negara itu.

Pemerintah mengijinkan perempuan untuk mengikuti pelatihan sebagai polisi pada 2009. Satu dekade kemudian, ratusan perempuan lulus AKK.

Beberapa veteran polisi laki-laki mengemukakan ketidakpuasan mereka terhadap kebijakan itu.

“Saya sangat tidak setuju dengan keputusan ini,” kata Letnan Sompoch Learchwittayathavom, 57, kepada ucanews.com. “Ini membatasi hak-hak perempuan.”

Ia mengatakan Polwan berperan penting dalam kepolisian tetapi tidak bisa menjalankan semua tugas.

“Menghadapi kejahatan keras pada umumnya lebih baik diserahkan kepada polisi laki-laki,” katanya. “Namun ada banyak tugas yang bisa dilakukan secara lebih baik oleh Polwan ketimbang polisi laki-laki antara lain investigasi, pendekatan komunitas dan tugas-tugas administratif.”

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi