UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Para Suster Kerala Tuntut Penangkapan Uskup

September 12, 2018

Para Suster Kerala Tuntut Penangkapan Uskup

Para biarawati dari Kongregasi Misionaris Yesus berdemonstrasi di Kochi pada 8 September mendesak penangkapan Uskup Franco Mulakkal, yang dituduh memperkosa seorang anggota tarekat mereka. (Foto: T.K. Devasia/ucanews.com)

Para biarawati Katolik  turun ke jalan-jalan kota Kerala di Kochi  memprotes polisi dan Gereja yang  mereka tuduh berusaha melindungi seorang uskup Katolik yang dituduh memperkosa seorang suster di negara bagian selatan India.

Ribuan orang lain bergabung dengan para suster Kongregasi Misionaris Yesus pada 8 September ketika sekelompok aktivis melakukan mogok makan  menuntut penangkapan Uskup Franco Mulakkal, uskup Jalandhar.

Para demonstran melambaikan poster sambil berorasi dekat Pengadilan Tinggi negara bagian itu dan markas kepolisian mengatakan  bahwa pihak berwenang tidak memihak dalam kasus Uskup Mulakkal.

Prelatus itu telah dilaporkan ke polisi lebih dari dua bulan lalu.

Pelapor,  termasuk seorang suster keuskupan di bawah Uskup Mulakkal, ia menuduh uskup memperkosanya 13 kali dari tahun 2014-2016 di biara ketika ia mengunjungi Kerala dari keuskupannya di negara bagian Punjab.

Uskup itu mengatakan suster itu mengarang tuduhan itu setelah dia melakukan tindakan  karena ada tuduhan suster itu melakukan hubungan seksual dengan suami dari salah satu sepupunya.

“Kami mengetuk semua pintu Gereja, termasuk Vatikan,” kata seorang biarawati, yang merupakan sanak saudara dari penuduh itu, kepada ucanews.com. “Tidak ada yang menanggapi permohonan keadilan kami.”

Namun, penyelidik polisi K. Subash membantah tuduhan itu dan ia mengatakan kepada ucanews.com bahwa penyelidikan masih berlanjut. “Beberapa rincian tambahan harus dikumpulkan agar polisi bisa membawa uskup itu ke tahanan untuk diinterogasi,” katanya.

Para pembicara dalam  unjuk rasa itu mengatakan pihak berwenang  Gereja tidak meminta uskup  mundur guna mempercepat penyelidikan karena mereka takut melakukan hal itu karena akan mencoreng citra Gereja.

Namun, seorang pejabat Gereja senior mengatakan tidak adil  menyalahkan para uskup.

“Kami sangat menyesal bahwa ini telah terjadi,” kata Uskup Theodore Mascarenhas, sekjen  Konferensi Waligereja India (CBCI).

Dia mengatakan bahwa tidak ada tindakan apapun dari CBCI karena tidak memiliki yurisdiksi dalam kasus ini.

Selain itu, biarawati diminta pergi ke polisi daripada ke Konferensi Waligereja India.

“Sekarang, kita harus menunggu polisi menyelesaikan proses penyelidikan,” kata Uskup Mascarenhas.

Dia percaya bahwa masalah ini adalah masalah di antara dua individu di Gereja. “Jika otoritas Gereja mengganggu sebelum polisi menyelesaikan penyelidikan, salah satu pihak dapat menuduh mereka mempengaruhi penyelidikan,” katanya. “Otoritas Gereja pasti akan bertindak ketika polisi mengungkapkan temuan akhir mereka.”

Para uskup sangat prihatin dan akan segera mempertimbangkan untuk melakukan langkah-langkah untuk mencoba menghindari situasi seperti itu timbul di masa depan, tambahnya.

 

Menyebarkan protes

Sebuah federasi organisasi Kristen yang disebut Dewan Aksi Bersama mengatakan kepada ucanews.com bahwa sekitar 7.000 orang, termasuk 30 biarawati dan 10 imam, menghadiri unjuk rasa itu dan memperkirakan bahwa jumlah orang yang tidak setuju akan bertambah.

Anggota dewan dan pengacara Jose Joseph mengatakan mogok makan, yang telah dia ikuti, tidak akan dibatalkan sampai Uskup Mulakkal ditangkap.

Pastor Capuchin Jijo Kurian, yang bergabung dalam protes itu, mengatakan Gereja Katolik, yang selalu berbicara tentang perlunya keadilan dan belas kasihan, tidak menganggap serius ketidakadilan di dalam barisannya.

Dia mencatat bahwa Gereja telah gagal memulai penyelidikannya sendiri. “Ini memberi kesan bahwa Gereja bersama memburu dan bukan yang diburu,” katanya, ia menggambarkan pertempuran para biarawati untuk hak-hak perempuan di dalam Gereja sebagai tonggak sejarah Gereja.

Pensiunan hakim Pengadilan Tinggi Kemal B. Pasha dan aktivis hak asasi manusia C.R. Neelakandan termasuk diantara yang lain yang mengorganisasi para demonstran.

Hakim Pasha mengatakan dia mencurigai ada hubungan pribadi antara terdakwa dan polisi.

Dia mencatat bahwa alasan mengapa Uskup Mulakkal tidak ditangkap kemungkinan karena dia diberi jaminan rahasia bahwa dia tidak akan ditangkap.

“Kami tidak tahu apakah perkosaan itu terjadi atau tidak,” kata Justice Pasha. “Dalam kasus seperti ini, polisi seharusnya menangkap orang itu.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi