UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Dua Perguruan Tinggi Katolik di Filipina Bantu Anak-Anak Terlantar

September 14, 2018

Dua Perguruan Tinggi Katolik di Filipina Bantu Anak-Anak Terlantar

Mahasiswa dan dosen dari Universitas Santo Tomas menyambut warga suku yang terlantar dari Mindanao, Filipina bagian selatan, ke kampus mereka di Manila pada 10 September. (Foto: Mark Saludes)

Anak-anak dari warga suku yang terlantar dari Filipina bagian selatan telah menemukan suaka di dua perguruan tinggi Katolik ternama.

Universitas Santo Tomas di Manila dan Universitas San Jose Recolatos di Cebu mengatakan mereka akan memastikan bahwa sekitar 100 anak yang terlantar akibat operasi anti-pemberontakan akan mendapat akomodasi dan pendidikan.

Pastor Pablo Tiong OP, wakil rektor Universitas Santo Tomas, mengatakan Gereja “memahami penderitaan para pelajar dari warga suku” yang pendidikannya terganggu oleh perang.

Sekitar 60 pelajar dari warga suku di wilayah bagian selatan Mindanao akan tinggal di seminari yang dikelola oleh Ordo Dominikan di Manila sambil menempuh studi di perguruan tinggi tersebut.

Pastor Tiong mengatakan perguruan tinggi itu selalu terbuka untuk warga suku.

Di Kota Cebu, Filipina bagian tengah, sekitar 32 anak dari warga suku tinggal di Kampus Augustinian Recollects di Universitas San Jose Recoletos.

Uskup Agung Cebu Mgr Jose Palma menyerahkan anak-anak itu kepada kongregasi religius karena ia merasa sedih atas “pelanggaran dan kekerasan” yang dialami oleh warga suku di Mindanao.

Prelatus itu mengatakan situasi mereka “hendaknya menjadi keprihatinan bukan hanya bagi para misionaris kita yang berkarya di desa-desa di wilayah pegunungan … tetapi hendaknya juga menjadi keprihatinan kita.”

Uskup Agung Palma mengatakan melayani warga suku adalah “respon umat Katolik terhadap ajakan Paus Fransiskus kita yang terkasih untuk memperhatikan Saudara dan Saudari kita dalam masyarakat.”

Para dosen relawan dari kedua perguruan tinggi tersebut akan melayani anak-anak itu.

Bruder Takoy Kakosalem mengatakan modul kuliah akan mengikuti “kurikulum adat” dan “sesi psikologi” akan dimasukkan untuk membantu anak-anak mengatasi trauma akibat konflik.

“Anak-anak ini dan keluarga mereka saat ini terlantar. Mereka meninggalkan komunitas mereka untuk mencari keselamatan karena konflik bersenjata di Mindanao,” kata Jong Monzon dari Jaringan Selamatkan Sekolah Kita.

Organisasi itu mencatat sekitar 57 sekolah warga suku terpaksa ditutup karena kahadiran tentara di tengah komunitas warga suku.

 

Piya Macliing Malayao, sekjen Katribu atau kelompok warga suku, mengatakan pemberlakuan darurat militer di Mindanao telah menciptakan semakin banyak gangguan terhadap komunitas warga suku dan juga sekolah warga suku,

 

Menurut Katribu, 26.000 warga suku termasuk sekitar 3.000 anak sekolah terdampak oleh konflik itu sejak 2016.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi